oleh

PT SAS Terancam Ditutup

Anggota DPRD Provinsi Sumsel, Hasbi Asadiki
“Akan segera melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumsel, untuk turun ke lapangan memantau aktivitas PT SAS…”

LINGGAU POS ONLINE, PALEMBANG – Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Hasbi Asadiki menyayangkan pencemaran lingkungan yang diduga telah dilakukan PT Selatan Agung Sejahtera (SAS).

Sebab perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan buah sawit itu diduga membuang limbah pabrik ke aliran Sungai Kelingi, di Desa Lubuk Rumbai, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Padahal, perusahaan tersebut berdiri telah membuat Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), agar limbah pengelolaan tidak mencemari ekosistem di seputaran wilayah pabrik. Hal itu dilakukan untuk agar berdirinya perusahaan tidak merugikan masyarakat setempat.

Saat dibincangi Linggau Pos, Sabtu (1/9), Hasbi Asadiki akan segera melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumsel, untuk turun ke lapangan memantau aktivitas PT SAS.

Menurut Hasbi, jika dalam kunjungan itu, masih ditemukan pelanggaran, hendaknya aktivitasnya ditutup untuk sementara, dan boleh beraktivitas lagi setelah melakukan perbaikan terhadap indikasi kebocoran limbah dari pengelolaan buah kelapa sawit.

“Kita sangat menyayangkan terjadinya kebocoran limbah dari PT SAS, sebab hal ini sangat merugikan masyarakat sekitar,” terang Hasbi.

Apalagi, bila limbah yang dihasilkan dengan sengaja dibuang ke Sungai Kelingi, serta berpotensi mencemari lingkungan, mereka akan terjerat sanksi berat. Sanksi itu sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Makanya, untuk menumbuhkan efek jera bagi para penghasil limbah yang tidak bisa mengolah limbahnya dengan baik, mereka akan diberikan sanksi berat.

Seperti dipidana dengan hukuman pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 10 tahun, dendanya sedikit Rp 3 miliar, paling banyak Rp 10 miliar.

Tapi, bila mengakibatkan orang luka dan atau membahayakan kesehatan manusia, dipidana paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun. Dendanya minimal Rp 4 miliar dan maksimal Rp 12 miliar

Paling berat, bila limbah itu menyebabkan kematian, ancaman pidananya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Sedangkan dendanya minimal Rp 5 miliar dan maksimal Rp 15 miliar.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau kepada PT SAS untuk secepatnya melakukan perbaikan atas dugaan masuknya limbah pengelolaan mereka ke Sungai Kelingi, karena itu akan merugikan mereka sendiri.

*** Kondisi Sungai Kelingi Sedikit Bau

Berdasar pantauan Linggau Pos di lapangan, kebocoran kolam pembuangan limbah hasil pengelolaan buah sawit PT SAS sudah diperbaiki.

Sebelumnya, akibat kebocoran kolam PT SAS itu, limbah produksi masuk ke Sungai Kelingi dan mencemari lingkungan.

Akibatnya, warga yang menggunakan air Sungai Kelingi untuk mandi dan sebagainya, terkena penyakit gatal-gatal dari dampak limbah yang bocor itu.

Warga Desa Lubuk Rumbai, Kecamatan Tuah Negeri Edy  (30) mengatakan pembuangan limbah hasil pengelolaan buah sawit PT SAS itu dikeluhkan warga sejak enam bulan terakhir.

Ia mengatakan, saat ini limbah yang mencemari di Sungai Kelingi tidak lagi.

Menurut Edy, warga mengeluh karena dampak dari pembuangan limbah itu, banyak warga yang mengidap penyakit kulit, seperti gatal di sekujur tubuh.

Akibat gatal itu, lama-lama menjadi kudis yang berbakat.

“Sebagian warga memang mandinya di Sungai Kelingi, namanya juga orang dusun. Tapi sekarang pencemarannya tidak ada lagi, belum tahu kalau di desa lainnya,” ucapnya.

Tambahnya, akibat air sungai di cemari oleh limbah PT SAS kondisi Sungai Kelingi sedikit berbau.

Manajer PT SAS, Rudi Haryanto mengakui, beberapa Minggu terakhir memang ada kebocoran kolam limbah nomor 13 hingga mengalir ke Sungai Kelingi.

Di PT SAS memiliki 139 tenaga kerja, rinciannya 40 orang dari luar Kabupaten Mura dan 99 orang dari Kabupaten Mura.

Dari 99 tenaga kerja, 70 orang warga Desa Petunang dan sisanya dari luar Desa Petunang. PT SAS dalam sehari mampu mengolah 94.853 ton buah sawit, dan memiliki 13 kolam penampungan limbah sawit.

“Sehingga, dengan kondisi ini maka pihak kami meminta maaf kepada masyarakat. Namun, kami minta bersabar selama proses pengerjaan ini sampai selesai,” ucap Rudi. (04/01)

Rekomendasi Berita