oleh

PT MAS Belum Mampu Menggaji Setara UMR

LINGGAU POS ONLINE, WATERVANG – Tenaga ground handling yang bekerja di PT Menara Angkasa Sejahtera (MAS), bukan bekerja dengan maskapai penerbangan. Sistem penggajiannya pun bukan berdasarkan jumlah maskapai penerbangan yang menggunakan jasa PT MAS. Tapi gaji bulanan. Hal ini ditegaskan Kepala Operasional PT MAS, Ade Kurniawan, Senin (4/12).

Informasi ini dikemukakannya, usai terungkap keluhan seorang tenaga ground handling berinisial GN. Ia dan 22 rekan sesama ground handling bekerja sejak NAM Air beroperasi. Gaji yang diterima sejak saat itu Rp 700 ribu, ditambah uang makan Rp 5.000 per hari. Namun, meski sejak Juni 2017 ada penambahan jumlah maskapai Batik dan Wings Air, gaji tenaga ground handling ini ternyata tak juga ditambah oleh PT MAS. Bahkan mereka tak terdaftar di BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan.

Menanggapi hal itu, Ade Kurniawan menuturkan gaji karyawan PT MAS berbeda-beda.

Menurut Ade, untuk honor pokok petugas ground handling yang berlisensi Rp 800 ribu. Yang tidak ada lisensi Rp 700 ribu per bulan. Petugas untuk cek in berlisensi Rp 850 ribu, yang tidak lisensi Rp 800 ribu. Selain itu ada penambahan penghasilan yaitu uang konsumsi Rp 5 ribu.

“Kebijakan kita ditambah uang konsumsi karena petugas datang pagi sehingga mungkin tidak sempat sarapan,” katanya Ade Kurniawan yang sengaja datang ke Graha Pena Linggau, Senin (4/12).

Menurut Ade Kurniawan, protes mengenai gaji sampai muncul ke publik terjadi karena miskomunikasi pihak manajemen PT MAS dengan petugas ground handling.

“Ini hanya miskomunikasi saja karena petugas ground handling menganggap gaji dibayar berdasarkan jumlah maskapai yang dilayani,” ucapnya.

Diakuinya memang untuk meningkatkan disiplin karyawan bagi yang terlambat datang tidak diberikan uang konsumsi. Selain itu kalau tidak masuk kerja tanpa keterangan akan dipotong Rp 30 ribu per hari.

“Namun kalau tidak masuk kerja ada keterangan yang jelas tidak kita potong,” akunya.

Diakuinya bahwa gaji belum setara dengan Upah Minimum Regional (UMR) karena keterbatasan kemampuan perusahaan.

“Kalau memberikan gaji UMR perusahaan belum sanggup. Sebenarnya kalau di bandara lain seperti di Makasar upah ground handling dibayar menghitung berdasarkan volume pekerjaan seperti buruh harian lepas. Kalau tidak masuk kerja tidak mendapatkan upah. Kalau kita di Bandara Silampari ini kita berikan gaji bulanan,” akunya.

Mengenai jam kerja, ia membantah penjelasan dari karyawan kerja 12 jam. Menurut Ade, kerja petugas ground handling hanya 6 jam per hari.

“Asumsinya satu maskapai penerbangan paling lama 2 jam kerjanya. Di Bandara Silampari hanya melayani tiga maskapai penerbangan, cukup 6 jam kerja,” tambahnya.

Ade membenarkan karyawan belum didaftarkan ke Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan karena perusahaan masih baru. Berdasarkan akta notaris Fatmawati Noor No. 02 PT MAS didirikan pada 17 Januari 2017 di Makasar.

“Kita melayani NAM Air 1 Februari 2017, Wing Air kontrak terhitung 18 Mei 2017, Batik Air 21 Juni 2017. Nanti setelah satu tahun kita evaluasi mungkin akan kita daftarkan karyawan ke BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan, kalau yang layak kita daftarkan BPJS. Tidak semua karyawan yang ada sekarang ini bekerja dari awal berdirinya PT MAS ada juga karyawan yang baru masuk,” paparnya. (08)

Komentar

Rekomendasi Berita