oleh

PSK Berisiko Tertular HIV

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Bisnis prostitusi dikhawatirkan makin marak. Seiring munculnya panti pijat berkedok warung kopi, sampai pada menjamurnya ‘cafe’ yang hanya membuka layanan malam hari. Situasi ini tentu tak nyaman bagi sosial masyarakat.

FN (40) salah seorang warga yang tinggal di sekitar kompleks tempat hiburan di Kecamatan Lubuklinggau Utara I membenarkan, bisnis tempat hiburan di lingkungannya masih tergolong laris, banyak pelanggan.

“Nyiapin wanita juga (Pekerja Seks Komersial). Tapi penting untuk diketahui, wanita-wanita ini terpaksa juga jadi penghibur. Kalau tidak melakukan itu (jadi wanita penghibur,red) maka tidak bisa makan ataupun mengirim duit ke anak dan keluarga di kampungnya,” kata FN, Minggu (25/3).

Di tempat hiburan sekitar tempat tinggalnya itu, FN mengatakan masih ada sekitar 15 wanita penghibur. Mereka bukan orang lokal Lubuklinggau. Melainkan dari daerah-daerah yang jauh. Ada yang dari Bandung, Jawa, Lampung juga Bengkulu.

“Jadi yang tinggal di sini, karena tidak mempunyai pekerjaan lain yakni terpaksa selain itu tidak mempunyai kemampuan lain,” jelas pria berkumis ini.

FN pun mengaku prihatin dengan wanita-wanita ini.

“Setidaknya semoga ada solusi dari pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Kalau mereka dapat kerjaan, bisa jadi mereka tidak akan melakukan hal ini. Karena mereka ini terpaksa,” kata FN lagi.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Lubuklinggau, dr Jeannita mengingatkan, agar setidaknya sebelum mengambil keputusan kerja melayani lelaki hidung belang, wanita memikirkan faktor risikonya.

“Terutama dari sisi kesehatan tubuh. Karena melakukan seks bebas, bersiap-siaplah menjadi korban dari berbagai Penyakit Menular Seksual (PMS). Salah satunya adalah HIV/AIDS. Selanjutnya, para pelaku seks bebas yang terinfeksi, dapat menjadi orang yang menularkan penyakit kelamin kepada orang lain. Dengan kata lain, Anda dapat turut membuat orang lain menderita dan merusak hidup mereka,” jelas dr Jeannita.

Beragam penelitian telah membuktikan bahwa berhubungan seks dengan beberapa orang berbeda meningkatkan risiko tertular PMS.

Selain HIV/AIDS, PMS yang dapat menjangkiti orang-orang yang melakukan seks bebas adalah sifilis, herpes genital (herpes simpleks), dan gonore.

Salah satu cara penularannya adalah melalui cairan genital pada saat melakukan hubungan seks. Bisa juga menular melalui kontak seksual yang melibatkan mulut dan anus. Sebagian dari penyakit ini masih bisa disembuhkan, namun ada juga yang tidak bisa alias permanen. Parahnya, penyakit-penyakit yang termasuk dalam PMS ini akan berdampak kepada kehidupan seseorang dalam jangka waktu panjang.

Kerugian yang dialami saat terjangkit penyakit ini dapat beragam. Penderita mungkin membutuhkan penyembuhan jangka panjang atau bahkan tidak dapat mengalami kesembuhan.

Tubuh penderita adalah target pertama yang akan terkena dampak penyakit seksual akibat tidak peduli terhadap bahaya seks bebas. Jangan mengira bahwa sebutan penyakit kelamin hanya terjadi pada organ kelamin.

Pada nyatanya, virus atau bakteri penyebab penyakit seksual dapat menyusup masuk ke dalam aliran darah dari luka-luka kecil pada mulut, anus, atau dari risiko luka pada bagian kulit lainnya.

***Kemenag dan Dinkes Harus Turun Tangan

Menurut Asisten I Setda Kota Lubuklinggau, H Ibnu Amin bahwa kehadiran lokalisasi patok besi sudah ada sejak kepemimpinan H Muhammad Syueb Tamat ketika menjabat sebagai Bupati Musi Rawas.

Artinya, kehadiran patok besi ini, sudah ada sejak belum terjadi pemekaran dari Kabupaten Musi Rawas menjadi Kota Lubuklinggau.

Bahkan, hingga zaman Ridwan Effendi keberadaan patok besi berada di Kelurahan Talang Ban atau yang dikenal saat ini Talang Muara Enim. Namun karena tidak diperbolehkan lokalisasi berada di pemukiman dalam kota. Maka dilakukan pemindahan di daerah yang jauh dari pemukiman dalam kota.

“Artinya, lokalisasi ini sudah ada sejak lima kepemimpinan kepala daerah terdahulu. Mengapa dilokalisir ke luar kota seperti itu, karena dikhawatirkan dapat menyebar masuk ke dalam kota. Karena, itu merupakan penyakit masyarakat,”paparnya.

Ketua Masjid Agung As-Salam ini mengatakan, karena ini berupa penyakit masyarakat, maka yang berwenang melakukan pengawasan dan pembinaan adalah Dinas kesehatan dan Kantor Kementerian Agama.

“Pada prinsipnya, kalau kita mengharapkan warganya dapat hidayah. Karena kalau warga di patok besi itu dapat hidayah. Maka pemerintah mudah memberikan pembinaan keagamaan, kursus keterampilan, dan yang paling utama adalah pengendalian penyakit menular yang rawan sekali menyebar,”tutupnya. (06/03)

Rekomendasi Berita