oleh

Prostitusi Online, Nikita Mirzani: Ada Aktris Senior Tarif Ratusan Juta Rupiah

JAKARTA – Sejak sepekan pasca penggerebekan aktris Vanessa Angel bersama pria hidung belang di sebuah hotel di Kota Surabaya, Jawa Timur, terkait prostitusi online pemberitaannya masih terus bergulir. Bahkan, beberapa aktris ikut komentar, mengungkapkan bahwa di kalangan selebritis banyak aktris yang juga nyambi jadi pelacur termasuk aktris senior yang sekali kencan mencapai ratusan juta rupiah.

Nah, salah satunya aktris Nikita Mirzani sepertinya tahu banyak soal praktik prostitusi di kalangan selebritis. Bahkan, istri Dipo Latief itu mengatakan bahwa beberapa aktris senior masih ada yang menjual dirinya demi mendapat banyak uang.

Bahkan perempuan yang akrab disapa Niki ini juga membocorkan tarif untuk memakai jasa aktris. Tak tanggung-tanggung, kata Niki nominalnya pun mencapai ratusan juta rupiah.

“Ada yang sampai Rp300 juta ada yang sampai gopek (500 juta), ada. Ah banyak artis senior juga yang masih begitu,” ungkap Niki kepada awak media di Jakarta Selatan, Rabu (9/1).

Kendati demikian, Niki enggan membocorkan identitas selebritis yang masih melakukan tindak prostitusi bertarif mahal itu. Bahkan Niki menutupi inisialnya.

“Banyak.. itukan balik ke diri kita masing-masing. Itu mah sudah dari dulu. Siapa? Oh inisial? Lu bayar dulu hahaa,” ucapnya sambil tertawa.

Diungkapkan Niki, bahwa ada cukup banyak aktris yang terlibat jaringan prostitusi online ini. Dengan gamblang Niki menyebutkan bahwa rata-rata tarif yang dipasang aktris senior sekitar Rp300 juta.

“Rp300 juta ada. Artis senior banyakan sih. Banyak (yang jualan), makanya Niki bilang jangan menghujat sesama. Di sekeliling kita pun banyak yang jualan tapi Alhamdulillahnya enggak ketahuan, gitu,” kata perempuam yang belum lama ini melepas hijab.

Bisnis prostitusi online di kalangan aktris ini tidak hanya melibatkan perempuan, bahkan ada juga selebritis pria yang menjual diri demi uang. Sasaran para aktor ini adalah perempuan yang memiliki usia lebih tua.

“Cowok juga banyak, jualan sama tante-tante, banyak. Cuma kan di sini orangnya munafik ya,” tukasnya.

Praktik prostitusi online ini tak terlepas dari peran mucikari. Mucikari bertugas menawarkan para aktris pemberi jasa kepada pria hidung belang. Sebagai mantan mucikari, Robby Abbas pasti sidah sangat paham sepak terjang segelintir selebriti yang menjajakan jasa lewat dirinya.

Saat memghadiri sebuah acara TV yang dipandu pengacara kondang Hotman Paris Hutapea Rabu (9/1) Robby Abbas blak-blakan mengungkap soal berapa perempuan yang pernah ia jual kepada pria hidung belang.

Pada kesempatan itu, Hotman melemparkan pertanyaan pertama kepada Robby, bahwa sebagai mantan mucikari kelas atas berapa banyak perempuan yang telah ia jual sebelum akhirnya ia tertangkap.

Pemilik nama asli Robbie Nasution itu pun menjawab bahwa jumlahnya bahkan mencapai ratusan orang. Perempuan pemberi jasa esek-esek ini berprofesi sebagai aktris, model, hingga pramugari. Robby bahkan ingat betul jumlahnya.

“Kalau dari artis ada 100 orang, model di atas 50 orang, pramugari hampir 30 orang,” jawab Robby. Itu belum termasuk cewek-cewek biasa ya?,” tanya Hotman. Robby pun membenarkan pertanyaan Hotman dengan menjawab “iya”.

Tidak hanya sampai disitu, pengacara asal Medan ini semakin terpancing untuk bertanya bukan para aktris pemberi jasa, ia lantas menanyakan kalangan yang memakai jasa para aktris postitusi itu siapa.

Robby pun mengatakan jika para lelaki hidung belang itu bukan hanya berasal dari pengusaha tapi juga pejabat publik. “Pemakainya macam-macam dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha, pejabat juga ada,” kata Robby.

Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Wimpie Pangkahilia menjelaskan, bahwa praktik prostitusi sudah ada sejak zaman dulu dan tidak bisa dihilangkan sampai saat ini.

“Di jaman nabi sudah ada gitu kan dan itu gak mungkin dihilangkan selama pembeli masih ada. Jadi artinya pertama, prostitusi suatu kenyataan yang memang ada sejak zaman baheula dan gak mungkin dihilangkan,” kata Wimpie saat dihubungi Fajar Indonesia Network, Kamis (10/1).

Menurut ia pelaku prostitusi itu tidak hanya dilakukan kalangan aktris tapi banyak yang terjerumus di luar dari profesi aktris. Nah yang menjadi pertanyaan besar ialah mengapa orang-orang mau menjadi pelacur?. Ia pun menjawab bahwa alasan mendasar praktik esek-esek masih merajalela lantaran dua hal yakni pertama adanya permintaan dan yang kedua ingin mendapatkan uang dengan cepat dan gampang.

“Pertama selain permintaan memang ada orang seperti ini sebenarnya memang ingin cepat dapat penghasilan cepat kaya tanpa susah payah kan,” jelasnya.

Sementara, lanjut Wimpie, orang lain yang enggan menjadi pelacur tidak semua bisa mengumpulkan uang dengan gampang. Sementara kita tahu bahwa gaji rata-rata di Indonesia tidak tinggi jika dibandingkan dengan menjual diri hingga berkali-kali lipat hanya dalam semalam.

“Jadi intinya itu, mengapa seseorang itu memilih menjadi prostitusi pertimbanganya materi, gak ada yang lain,” ujarnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memutus mata rantai prostitusi di Indonesia kata Wimpie ialah dengan memberikan edukasi tentang moral. Bahwa untuk memiliki kehidupan yang berkecukupan butuh proses, banyak hal yang bisa dilakukan demi mendapatkan uang halal.

“Kenapa gak melakukan profesi yang lain yang lebih layak untuk mengumpulkan materi misalnya berbisnis. Hidup itu jangan hanya diukur dengan materi semata-mata, mengorbankan segalanya termasuk moralitas sama dengan koruptor kan,” jelasnya.

Antara si PSK dan pria hidung belang berhubungan bukan lantaran suka-sama suka. Sang PSK melayani pria yang bukan pasanganya semata-mata karena uang.

“Bukan suka sama suka karena yang menjual belum tentu suka. Masak si VA itu suka sama orang itu. Bukan suka sama suka itu urusan bisnis satu penjual satu pembeli,” terangnya lagi.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa alasan pria menggunakan jasa aktris prostitusi lantaran tiga faktor yakni pertama karena tidak punya istri, kedua ia punya istri namun long dinstance relationship dandan yang ketiga pria tersebut ingin mencoba pengalaman baru.

“Akhirnya dia belilah itu. Penjual kan belum tentu suka sama pembeli. Dalam dunia prostitusi itu penjual diri menolak kalau harganya gak cocok kan seperti itu,” ujar Wimpie.

Bagi sebagian PSK yang yang sudah terbiasa menjajakkan diri dengan pria asing, tidak akan berdampak secara psikologis kepada dirinya.

“Bagi sebagian penjual gak masalah sebenarnya pasti asik aja, gak harus menikmati tapi harus diakui beberapa penjual itu kalau dia suka pembelinya dia bisa menikmati pembeli tertentu yang memang dia suka. Tapi kan belum tentu penjual dia suka, suka duitnya aja,” bebernya.

Sementara itu, psikolog Liza Marielly Djaprie mengungkapkan bahwa tidak bisa digeneralisasikan bahwa semua perempuan akan menjual dirinya demi mendapat banyak uang. Menurut Liza, bukan hanya perempuan bahkan ada pula laki-laki yang menjual tubuhnya untuk memuaskan birahi seorang perempuan.

Sehingga kata Liza, dalam hal bisnis prostitusi harus lebih menyorot pada pribadi-pribadi yang ingin mendapatkan banyak uang dengan cara instan. Mengapa demikian?

Liza melihat ada kaitan antara kultur budaya yang serba instan dengan praktik prostitusi yang merajalela saat ini. Dengan kultur yang serba instan kemudian membentuk mental seseorang untuk berpikir instan pula.

“Sekarang serba instan, terus sama halnya misalnya zaman skripsi dulu bikin susah ke perpus cari satu-satu kalau sekarang semuanya one click away aja di google sudah dapat akhirnya terbentuk mental-mental instan seperti itu,” papar Liza.

“Jeleknya apa? melebar ke bidang-bidang lainnya kerja gak mau susah, kerjanya gak mau yang capek-capek, pengen cepat dapat duit yang kayak gitu,” sambungnya.

Kultur demikian lanjut perempuan berambut pendek ini sulit membantu seseorang agar memiliki daya juang yang tinggi. Ketika daya juang rendah, kemudian kepribadian dan karakternya lemah maka akan mudah tergoda dengan hal-hal yang hanya semudi dunia.

“Mungkin hidupnya dalam keluarga kultur begini (instan) tapi mungkin karena didikan orangtua dan lingkungan terdekatnya juga (bagus) jadi dia gak mau menjual dirinya, masih punya harga diri, masih punya karakter yang kuat untuk bertahan dengan prinsip gitu,” terang Liza.

Ia kembali menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang terlibat sehingga seseorang tergoda atau tidak menjadi PSK, pertama memang karena kebudayaan dan kebiasaan yang ingin serba instan. Kedua faktor yang terlibat adalah didikan dari kecil. Kemudian karakter dirinya.

“Jadi kadang-kadang misalnya ada anak lahir di lingkungan PSK kalau dia karakternya cukup kuat dia merasa bahwa ini gak beres dia tidak akan ikut-ikutan seperti itu gitu,” ujarnya.

Menjadi PSK dan melayani pria hidung belang kata Liza tidak begitu berdampak pada psikologi kejiwaan seseorang selama ia merasa nyaman dan tenang menajalaninya.

“Secara psikologis kita itu mencari kenyamanan kita pengennya mencari ketenangan gitu kan kalau memang kenyamanan dan ketenangan itu buat dia itu pada duit dan kehidupan hura-hura yang tanpa perlu kerja keras dia gak papa yang penting gue bisa beli tas branded, yang penting gue bisa jalan-jalan ke luar negeri. Baik-baik aja,” tutur Liza.

Ia menjelaskan karakter tertentu condong menjadi seorang PSK, kata ia ialah sosok yang memiliki daya juang yang lemah dan mudah terpengaruh oleh lingkungan.

“Misal diajakin temannya ‘ya udahlah ngapain sih susah-susah syuting lo sekali gini dapat sekian’ gitu kan misalnya kenapa gak. Jadi itu tergantung dari karakternya. Jadi gak bisa bilang bahwa semua artis pasti seperti itu toh?,” pungkasnya.(dim/di/fin)

Rekomendasi Berita