oleh

Program dan Solusi Harus Lebih Konkret Lagi

Harapan Panelis DR Febrian Pada Debat Kedua

Jelang Pemilihan Walikota-Wakil Walikota Lubuklinggau dilakukan Debat Publik, Selasa (13/3). DR Febrian jadi panelis kedua dalam acara di BPU Bagas Raya tersebut. Bagaimana analisanya untuk debat pertama ini?

Laporan Sulis, Lubuk Kupang

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menjadi fokus pertanyaan yang dilemparkan DR Febrian dalam debat kemarin. Itu dilakukannya, karena menurut Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) ini, warga kerap mengeluh soal air bersih. Maka pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Lubuklinggau diharapkan punya solusi atau rekomendasi konkret terhadap masalah tersebut.

“Selama debat, kalau saya baca visi misi Paslon nomor urut 1 masih sangat abstrak. Janji-janji itu harusnya terbukti secara otentik. Sehingga bisa jadi pegangan bagi masyarakat. Dan ketiga Paslon ini, semuanya masih datar-datar saja,” kata DR Febrian.

Ia menilai, tidak ada pertanyaan yang tajam. Yang mencoba untuk mempengaruhi masyarakat untuk kemudian memilih Paslon tersebut.

“Yang menarik soal PDAM, karena memang itu fakta yang terjadi sekarang,” tuturnya.

Sebagaimana diungkapkan petahana, kata Febrian, ternyata jumlah penduduk dan luas daerah jadi kendala.

“Meski ada kendala, pemerintah harus ada alternatif, harus dicarikan solusi agar masyarakat dapat air bersih,” imbuhnya.

Dari soal PDAM ini saja, terang Febrian, sebenarnya bisa digali lebih jauh dalam persoalan memecahkan distribusi air di Lubuklinggau ini.

“Kami mensinyalir, ini bukan soal Kota Lubuklinggau saja. Karena kota ini, sudah jadi kota kedua terbesar setelah Kota Palembang. Sehingga soal air bersih harus diselesaikan,” jelasnya.

Febrian sejatinya berharap dalam debat harus ada solusi atau rekomendasi dari masing-masing Paslon.

“Selama debat pertama ini belum terjawab, kecuali intek yang disampaikan oleh petahana. Persoalannya adalah mesin PDAM itu bukan hanya besar, tapi juga pengadaannya butuh biaya banyak, sampai puluhan miliar,” jelasnya.

Masih tentang PDAM, yang dibangun sejak zaman Belanda, maka saluran pipa bisa saja karat dan air akan terbuang percuma. Sementara solusinya bagaimana untuk efisiensi.

Ia berharap, jika ada debat tahap kedua Juni 2018 nanti, masing-masing Paslon harus mengonkretkan solusinya.

“Kalau bisa menawarkan solusi, ini bisa menarik keinginan masyarakat untuk memilih Paslon tersebut. Apalagi untuk pemilih pemula (mahasiswa/pelajar,red) , mereka butuh informasi yang jelas dan detail dari masing-masing Paslon. Karena kalau Paslon bisa menggaet suara pemilih pemula ini, peluangnya besar,” sarannya.(*)

Rekomendasi Berita