oleh

Prihatin, 40 Orang Dipasung

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Sosial (Kemensos) RI tahun 2017, terdapat 400 ribu penderita gangguan jiwa di Indonesia. 57 ribu diantaranya mengalami pemasungan. Sementara di Kota Lubuklinggau Dinsos merilis 15 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dipasung.

Kepala Dinas Sosial Kota Lubuklingau, AH Ritonga melalui Kepala Bidang Rehabilitas Sosial, Zunaidi, Senin (6/11) menjelaskan, dari 15 orang tersebut baru dua orang yang direhab. Yakni Rusdi dan Citra Erlangga.

“Untuk Citra Erlangga sekarang sudah sembuh beberapa waktu lalu kita bawa ke Rumah Sakit Jiwa Palembang dan keadaannya sudah berangsur membaik,” kata Zunaidi.

Zunaidi menjelaskan, kendala yang kerap dihadapi Dinsos, lantaran masyarakat yang anggota keluarganya ODGJ enggan melapor. Bahkan kadang keluarga juga tak mendukung proses rehab yang akan dilakukan.

“Masyarakat yang memilih tutup mulut ketika melihat keluarganya dipasung itu kerap terkendala dengan biaya. Padahal kami tegaskan, mereka jangan memikirkan tentang biaya, sebab biaya rehabilitasi ditanggung Pemkot Lubuklinggau, namun harus melampirkan surat keterangan tidak mampu serta memang wajib untuk direhabilitasi,” ungkapnya

ODGJ yang wajib direhabilitasi biasanya sudah mengancam keselamatan orang lain dan dirinya sendiri.

Lebih lanjut, Zunaidi menerangkan, ODGJ tidak serta merta terjadi. Bisa karena faktor keturunan dari keluarga terdahulu, stres dan melakukan pengambilan ilmu hitam namun tidak kuat melawannya.

“Jadi penyebab itu memang dapat menyebabkan gangguan kejiwaan, rata-rata yang dipasung penyebabnya beberapa faktor tadi,” empunya.

Penjelasan juga disampaikan Kabid Perencanaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau, Desi Novia menambahkan, semua baik RS, Puskesmas siap menerima untuk melakukan pengobatan ODGJ.

“Jadi jangan khawatir kalau layanan kesehatan di Kota Lubuklinggau tidak sanggup bisa langsung ke Palembang,” jelasnya.

Salah satu contoh ODGJ yang sudah mendapatkan perawatan adalah Rusdi. Bujang 24 tahun ini mengalami pemasungan selama sembilan tahun. Setelah dirawat di RS Ernaldi Bahar, RS Siti Aisyah dan mendapat pengobatan rutin dari Puskesmas Simpang Periuk, kondisi warga RT 06, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II ini sudah jauh lebih baik.

“Alhamdulillah tidak lagi dipasung, saya sudah berjalan-jalan ke sekitar rumah. Setiap Minggu petugas dari Puskesmas Simpang Periuk kontrol mengantar obat kepada saya. Jadi setiap dua kali sehari saya harus mengonsumsi obat yang diberikan,” tuturnya didampingi sang ibu Marsida, saat dibincangi Linggau Pos, kemarin.

Tubuh Rusdi kini sudah bersih, agak berisi, dan sudah bisa berkomunikasi dengan baik bersama orang-orang sekitar.

“Saya hobinya makan nasi, jadi sehari-hari saya banyak makan nasi, kondisi saya sudah baikkan, tidak pusing lagi,” akunya.

Sedangkan menurut Marsida, anaknya sudah banyak perubahan sejak dilakukan perawatan, hanya masalah berjalan saja, yang belum terlalu tegap.

“Mungkin karena terlalu lama dipasung, jadi dia sedikit kesulitan berjalan, kalau saya pijit, dia tidak mau karena merasa sakit. Padahal saya punya pengalaman pijit orang,” jelasnya.

Sementara di Musi Rawas, Kadinkes Kabupaten Musi Rawas, Hj Miptahulumi melalui Kabid Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P), Edwar mengatakan bahwa untuk tahun 2017 ada sekitar 322 warga yang masuk kategori ODGJ.16 Diantaranya gangguan berat yakni sering mengamuk.

“322 Orang itu merupakan hasil dari pencarian dan pemantauan di lapangan. Sekalipun ratusan, kami sudah sampaikan ke masyarakat agar mereka jangan dipasung,” tegas Edwar.

Sebab, lanjutnya, pemasungan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Serta tidak dianjurkan dari Kementerian Kesehatan.

“Maka dari itu kami berikan edukasi kepada keluarga pasien maupun masyarakat yang ada anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa,” jelas Edwar.

Ia juga meminta masyarakat aktif melaporkan, saat ada warga sekitarnya ODGJ.

“Nanti kami akan lakukan tindakan dengan memberikan obat baik pil maupun suntikan secara gratis sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan,” ucapnya.

Edwar menambahkan kedepannya, akan melakukan kerja sama dengan pihak Dinas Sosial (Dinsos) guna menanggulangi orang yang mengalami gangguan jiwa yang ada di luar ataupun lapangan dengan membentuk atau membangun rumah penampungan.

“Guna mencegah ODGJ agar tidak liar,” jelasnya.

Untuk di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) Kepala Dinas Kesehatan, dr Marhendra melalui Kabid P2P, Fatahul menjelaskan, Dinkes menargetkan 2018 tidak ada lagi pemasungan di Muratara.

“Tahun 2015 ada 12 ODGJ, sementara 2016 ada 13. Semuanya dipasung. Namun dari 12 ODGJ yang ditangani 2015 itu, tinggal tiga yang masih dipasung, karena sering berontak. Karena keluarga terlambat memberi obat. Sedangkan yang ditangani 2016, masih tujuh lagi yang dipasung. Kalau 2017 memang belum perekapan,” jelasnya.

Pemasungan yang dilakukan, kata Fatahul, ada yang diikat pakai tali, ada yang pakai rantai, ada juga yang dipasung dengan kayu.

“Sebagian besar kasus pemasungan ini terjadi di Kecamatan Rupit, Kecamatan Karang Dapo, Kecamatan Rawas Ulu, Kecamatan Ulu Rawas dan Kecamatan Rawas Ilir,” imbuhnya.

Untuk mewujudkan Indonesia bebas pasung 2019, dan Muratara bebas pasung 2018, Dinkes akan jemput bola membentuk tim penanganan dan jemput bola. Sehingga seluruh ODGJ ter-cover dengan baik pengobatannya, hingga penyembuhannya. (19/12/16/05)

Komentar

Rekomendasi Berita