oleh

Polri Beberkan Faktor Bus Sriwijaya Masuk Jurang, Sopir Tidak Miliki SIM

LINGGAU POS ONLINE – Beberapa faktor penyebab tragedi bus Sriwijaya di Sungai Lematang, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan dibeberkan aparat kepolisian. Namun, paling utama adalah tak adanya kontrol perusahaan.

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Polisi Istiono mengatakan lemahnya kontrol Perusahaan Otobus (PO) Sriwijaya menjadi penyebab kecelakaan maut tersebut.

“Pertama, faktor PO bus yang mempekerjakan sopir bus tanpa SIM, mengalihkan atau menugaskan sopir ke jalur lain, kapasitas tempat duduk sesuai perizinan untuk 25 seat namun dipaksakan untuk 48 seat,” beber Istiono melalui siaran persnya, Rabu (25/12/2019).

Selain itu, lanjut dia, manajemen kontrol yang lemah atau membiarkan busnya dioperasionalkan tidak sesuai dengan standar keselamatan.

“Berdasarkan penyelidikan, bus tersebut tidak layak jalan,” katanya lagi.

Faktor kedua adalah kendaraan. Bus yang mengalami kecelakaan adalah buatan tahun 1999. Bus sudah dioperasionalkan selama 20 tahun. Sayangnya, kondisi bus tidak terkontrol. Terjadi rem blong saat dioperasionalkan menunjukkan standar keamanan bus tidak terpenuhi atau kondisi tidak layak operasional.

“Ban belakang vulkanisir dan aus sehingga tidak berfungsi sebagai penahan saat dilakukan pengereman atau menyebabkan kendaraan meluncur los,” jelasnya.

Kondisi itu diperparah oleh ruas jalan yang berliku tanpa dilengkapi rambu-rambu dan pengaman pembatas jalan.

“Faktor lain adalah faktor manusia. (Sopir) tidak memiliki SIM sehingga menunjukkan pengemudi tidak profesional. Tidak terbiasa melewati jalur tersebut. Saat menghadapi masalah, menjadi gugup dan tidak mampu mengatasi situasi yang berdampak los, tidak ada pengereman atau upaya penyelamatan darurat,” katanya.

Dikatakannya, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan mengkaji faktor penyebab kecelakaan dengan memberdayakan teknologi dan melibatkan para pakar untuk mendukung proses projustitia atau penyidikan.

Dikatakannya pula, pihaknya melakukan penyidikan secara virtual maupun manual untuk membuktikan faktor-faktor penyebab kecelakaan lalu lintas.

Setelah itu, melakukan kajian ilmiah melalui TARC (traffic accident research centre) untuk pencegahan, memberikan rekomendasi untuk perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas safety maupun pembangunan dan rekayasa jalan.

“Diimbau agar jajaran kepolisian di seluruh Indonesia untuk selalu berkoordinasi dengan dinas perhubungan setempat untuk mengecek kelayakan armada bus serta pengemudinya,” pintanya.

Sementara itu, Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo menegaskan akan menyantuni seluruh korban kecelakaan.

Berdasarkan data yang diterimanya, sementara ini jumlah korban Bus Sriwijaya sebanyak 45 orang. Sebanyak 32 orang meninggal dunia dan 13 orang dalam perawatan di RS Besemah Pagaralam.

“Jasa Raharja memastikan seluruh korban akan mendapat bantuan santunan,” katanya.

Dikatakannya, Jasa Raharja telah menyerahkan santunan kepada 10 korban meninggal dunia dengan cara mentransfer dana santunan ke rekening ahli waris, sementara korban lainnya segera menyusul.

“Petugas dari Jasa Raharja hingga kini masih mendata ahli waris. Sehingga santunan yang diberikan menjadi tepat sasaran,” katanya.

Dijelaskannya, korban kecelakaan Bus Sriwijaya mendapatkan perlindungan dari Jasa Raharja berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 15 tahun 2017. Bagi ahli waris korban meninggal dunia akan mendapatkan santunan Rp50 juta.

Sedangkan untuk korban luka-luka, Jasa Raharja telah menerbitkan surat jaminan biaya perawatan ke RSUD Besemah Pagaralam, dengan biaya perawatan maksimum Rp20 juta.

Selain itu, Jasa Raharja juga menyediakan manfaat tambahan biaya P3K maksimum Rp1 juta dan ambulans sebesar Rp500 ribu terhadap masing-masing korban luka.

“Kami terus berkoordinasi dengan Kepolisian, Basarnas, Rumah Sakit dan pihak terkait lainnya agar penyerahan hak santunan dan pelayanan Jasa Raharja dapat berjalan dengan baik, cepat dan tepat,” katanya.(*)

Sumber: Fajar Indonesia Network (FIN)

Rekomendasi Berita