oleh

Polisi Tembak Pemalak Pegawai Perkebunan Sawit

LINGGAU POS ONLINE, MEGANG SAKTI – Satu dari lima terduga pelaku penganiayaan terhadap Eko Sumirah (27), seorang pegawai perkebunan kelapa sawit diringkus polisi.

Tersangkanya MG (37), warga Desa Campur Sari, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas (Mura), berhasil diringkus anggota Polsek Megang Sakti, pukul 22.00 WIB Sabtu (2/6).

Sementara empat rekannya, yakni IS, AM, SR dan IW, masih buron dan sudah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).

Pria yang bekerja sebagai petani padi ini harus mendekam di balik jeruji besi Mapolsek Megang Sakti, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dari tersangka MG, polisi menyita Barang Bukti (BB), satu pucuk Senjata Api Rakitan (Senpira) jenis revolver warna coklat, satu pucuk Senpira jenis revolver warna hitam, dua amunisi dan sebilah Senjata Tajam (Sajam) jenis pisau yang bersarung kulit warna coklat.

Kapolres Mura, AKBP Bayu Dewantoro melalui Kapolsek Megang Sakti, Iptu Romi, mengatakan tersangka diringkus ketika sedang nongkrong di salah satu warung di Desa Tegal Sari, Kecamatan Megang Sakti.

Tersangka yang sudah lama membuat resah warga karena sering melakukan pemalakkan. Saat hendak diringkus polisi, ia berusaha melakukan perlawanan hingga polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara sebanyak tiga kali.

Tetapi tembakan peringatan polisi tidak dihiraukan tersangka, dan berusaha melarikan diri dengan berupaya mengeluarkan dua Senjata Api Rakitan (Senpira) yang diselipkan di pinggang kanan dan kirinya.

Untungnya polisi dengan sigap bisa mencegah aksi tersangka, walaupun demikian tersangka tetap berusaha melarikan diri, hingga dengan terpaksa polisi melepaskan tembakan ke arah kaki kanan sehingga berhasil dilumpuhkan.

“Saat kami ringkus ternyata tersangka menyimpan dua Senpira dan sebilah Sajam di balik bajunya, takut membahayakan anggota terpaksa tersangka kami lumpuhkan dengan timah panas,” kata Romi.

Dikatakan Romi, tersangka menganiaya korban, pukul 10.30 WIB, Rabu( 11/4). Kejadiannya bermula saat korban sedang berjaga di kebun kelapa sawit milik majikannya. Lalu datang tersangka bersama dengan empat rekannya IS, AM, SR dan IW.

Kemudian tersangka MG berkata kepada korban. “Aku nak panen”, kemudian dijawab oleh korban. “Man kau nak panen telepon bos, man aku dak ngasih”.

Tiba-tiba tersangka MG, tanpa ba-bi-bu langsung membacok leher korban di bagian belakang dengan menggunakan sebilah golok. Akibatnya, korban mengalami luka bacok di leher dan bahu sebelah kiri.

“Tersangka kami jerat dengan pasal berlapis,yakni Pasal 351 dengan ancaman maksimal dua tahun delapan bulan, dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api Rakitan, dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara,” kata Romi.(03)

Rekomendasi Berita