oleh

PKL RSSA Tetap Bisa Jualan

LUBUKLINGGAU – Per 1 Februari 2019, Jalan Pembangunan Kompleks Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) ditutup. Saat ini, pekerja sedang melakukan pembangunan tempat registrasi parkir pengunjung. Meski pembangunan tetap berlangsung, hilir mudik aktivitas warga masih seperti biasa. Lalu lalang kendaraan baik mobil maupun sepeda motor tetap seperti biasa.

Seorang Pedagang Kaki Lima (PKL), JH mengatakan, memang tak ada yang berubah meski Jalan Pembangunan akan ditutup. Ia bersama 27 PKL lainnya sudah mengadu pada anggota Komisi II DPRD Kota Lubuklinggau agar tetap bisa berjualan meski Jalan Pembangunan ditutup.

Hal itu dibenarkan anggota Komisi II DPRD Kota Lubuklinggau, H Suhada. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan masalah penutupan Jalan Pembangunan tak akan mengganggu aktivitas PKL di depan RSSA.

“Penting saya sampaikan, hal ini juga sudah saya jelaskan kepada bapak ibu PKL saat pertemuan dengan kami Kamis (24/1). Jalan di depan RSSA itu sebenarnya memang bukan jalan umum. Melainkan jalan lingkungan perkantoran khususnya untuk pasien dan keluarga pasien RSSA,” jelasnya.

Saat ini, kondisinya sudah lebih maju, RSSA sudah menjadi RS regional, rujukan berobat bagi masyarakat Kota Lubuklinggau, Musi Rawas, Empat Lawang dan sekitarnya.

Oleh karena itu, RSSA harus bisa memberikan layanan terbaik bagi pasien. Sementara lokasi antar ruangan perawatan pasien RSSA itu terpisah-pisah.

“Seperti ruang Fisioterapi, ruang Al–Mulk dan sebagainya itu kan jauh dari Ruang ICU, Ruang Rontgen, dan Ruang Operasi. Dan tidak bisa ditempuh dengan selasar, karena memang tidak ada selasarnya. Sehingga selama ini, pasien dari Al-Mulk maupun yang mau ke Fisioterapi kalau mau ke Ruang Operasi, Ruang Rontgen, maupun Ruang ICU diangkut dengan ambulance. Karena lalu lalang kendaraan umum di Jalan Pembangunan banyak, maka jalan tersebut penting untuk disterilkan. Sebab, pasien membutuhkan layanan yang cepat. Per detiknya sangat berharga bagi pasien,” papar Suhada.

Oleh karena itulah, Jalan Pembangunan diharapkan bisa steril. Murni untuk aktivitas parkir keluarga pasien, dan mobil ambulance yang mengantarkan pasien.

“Memang Jalan Pembangunan saat ini masih ditempati PKL. Pada prinsipnya pegawai RSSA, dan keluarga pasien RSSA sangat membutuhkan para pedagang ini. Jadi tidak mungkin manajemen RSSA akan mengusir mereka. Bahkan nanti berdasarkan rapat kemarin, antara Lurah Air Kuti, Camat Lubuklinggau Timur I, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Perhubungan (Dishub) cari solusi. Agar PKL tetap bisa jualan dan tidak jauh dari RSSA,” imbuhnya.

Opsi yang ditawarkan itu, diantaranya jalan kompleks perkantoran belakang PMI akan digusur oleh DPU, lalu dicor beton. PKL akan ditempatkan di situ. Sehingga konsumennya bukan hanya keluarga pasien RSSA. Mahasiswa Unmura pun pasti akan makan di situ. Opsi kedua, bisa di tempat lama (Jalan Pembangunan, red). Namun PKL turun dari bahu jalan yang sudah dicor.

“Kalau melihat hasil rapat Kamis itu, sepertinya pedagang setuju ke opsi pertama. Bagaimana realisasinya nanti, hal ini sudah kami serahkan ke Lurah Air Kuti dan Manajemen RSSA. Mereka yang akan memfasilitasi,” terang Suhada.

Menurutnya, tidak boleh ada warga yang tidak setuju dengan penutupan jalan tersebut. Sebab hal itu untuk kepentingan bersama, terutama penyelamatan nyawa pasien.

“Mungkin nanti akan ada sosialisasi khusus untuk PKL ini. Namun fasilitatornya RSSA,” jelas Suhada.

Senada dengan itu, Kabag Humas RSSA Kota Lubuklinggau, Evi Andayani membenarkan bahwa RSSA sangat membutuhkan pedagang, untuk menunjang ketersediaan kantin sebagai fasilitas untuk keluarga pasien maupun pegawai RSSA.

“Makanya, nanti akan disiapkan tempat khusus untuk pedagang ini jualan. Tetap di dekat RSSA inilah, namun dengan warna gerobak yang seragam. Bentuknya semacam sentra kuliner,” tutur Evi.

Evi memastikan, para pedagang ini tetap diperbolehkan jualan di dekat RSSA. Tinggal saat ini, pihaknya menunggu kebijakan Pemkot Lubuklinggau terkait penentuan lokasi para pedagang ini yang terbaik di mana.

“Yang pasti, nanti pedagang ini akan diatur agar lebih rapi. Sebab yang menikmati makanannya, banyak juga pegawai RSSA dan keluarga pasien. Keberadaan pedagang ini penting sebagai penyedia kuliner. Sebab selain ada parkir, sarana rumah sakit juga harus ada kantinnya, yang kini disediakan para pedagang ini,” jelas Evi.

Intinya, terang Evi, Manajemen RSSA tidak pernah menginginkan pedagang berhenti pedagang.

“Soal nanti tekniknya seperti apa, kita tunggu keputusan kebijakan Pemkot Lubuklinggau,” imbuh Evi. (lik)

Rekomendasi Berita