oleh

Pilkada Musi Rawas Potensi Calon Tunggal

LINGGAUPOS.CO.ID – Perhelatan Pesta Demokrasi di Kabupaten Musi Rawas masih belum memunculkan nama-nama pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati. Baru petahana yang menetapkan pasangan calonnya.

Hal ini mengindikasikan adanya perubahan trend politik bila dibandingkan dengan pengalaman pelaksanaan Pilkada dari musim-musim sebelumnya.

Muhammad Hidayat, SH, MH, pengamat politik Kabupaten Musi Rawas, Rabu (12/8/2020) mengatakan, “Mencermati peta politik di Musi Rawas hari ini (kemarin,  red), tentu yang paling berpeluang untuk maju di Pilkada 2020 adalah Petahana saat ini yakni H Hendra Gunawan,” katanya.

Menurutnya, hal ini dapat dilihat dari beberapa parpol yang sudah memberi ruang rekomendasi seperti Partai Nasdem, Partai Demokrat, PKS,  PAN, Partai Hanura, PBB dan PKB.

Seperti diketahui, lanjutnya, secara regulasi berdasarkan PKPU No.1 Tahun 2020 Pasal 5 ayat 2 untuk bisa mengusung pasangan calon, syarat pencalonan untuk partai politik atau gabungan partai politik adalah parpol atau gabungan parpol yang memperoleh paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPRD atau 25 persen dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilu DPRD terakhir di daerah yang bersangkutan.

“Dari regulasi yang ada, sekarang kita cermati perolehan kursi masing – masing Parpol yang sudah memberikan ruang rekomendasi tadi, yakni Nasdem lima kursi, PKS tiga kursi, Demokrat dua kursi, PAN empat kursi, Hanura satu kursi, PBB satu kursi. Artinya Petahana sudah mengantongi 42,5 persen kursi di DPRD. Sudah siap melaju di Pilkada 2020, kalau persoalan siapa wakil nya nanti kita sama-sama wait and see saja, itu hanya persoalan waktu sepertinya,” ujar mantan komisioner KPU periode 2014-2019 ini.

Masih menurut Advokat Ikadin ini, dalam konteks kekinian, parpol saat ini berbeda dengan parpol tempo dulu. Parpol saat ini memiliki narasi kajian rasionalitas ketimbang emosionalitas dalam menentukan pasangan calon.

“Semakin kesini, parpol – parpol saat ini telah memiliki kajian internal politik yang juga semakin baik. Hal itu merujuk pengalaman Pilkada – Pilkada yang pernah ada, dulu sejumlah parpol mengalami kekalahan di Pilkada lantaran mengedepankan pragmatisme,” ia menjelaskan.

Menurunya, parpol sudah mengalami pergeseran pandangan, parpol lebih rasional dalam memberikan dukungan calon, yang diusung tentu yang telah melewati proses seleksi ketat.

Dewasa ini, masing-masing parpol telah mengubah pola dalam menentukan siapa kandidat yang akan diusung, tidak lagi top down atau kebijakan pusat (karena lobi-lobi elite) lalu diterapkan di lapangan, tetapi bottom up approach artinya apa yang diinginkan di lapangan atau masyarakat itu yang menjadi kebijakan partai,” katanya.

“Untuk melaksanakan itu, parpol melakukan survey internal baik itu dilakukan sendiri oleh parpol maupun meng-hire lembaga survey yang kredibel, yang sudah bersertifikasi, qualified dalam melakukan survey,” terangnya.

Lalu, lihat parpol – parpol yang telah memberikan rekomendasi tadi, adalah parpol – parpol kelas menengah yang tidak bisa mengusung sendiri tetapi harus berkoalisi dengan parpol lain.

“Kalau parpol-parpol kelas menengah ini sudah merubah paradigma pandangan dengan mengedepankan rasionalitas. Saya kira tentu parpol-parpol pemenang pemilu di Musi Rawas   kajian nya akan lebih dari itu,  jelas mengedepankan elemen-elemen seperti elektabilitas, akseptabilitas, popularitas, kalau bakal calonnya petahana tentu parpol melihat juga public satisfaction atau kepuasan public terhadap kinerja petahana yang tengah berjalan, maupun akar-akar sosial lainnya,” bebernya.

Melihat hal itu, lanjut dia, dirinya meyakini parpol parpol pemenang pemilu juga nantinya akan menentukan sikap yang mengedepankan rasionalitas dengan melihat survey sejauhmana tingkat keterpilihan kandidat, tidak lagi mengedepankan ego electoral.

“Saya kira parpol pemenang pemilu tidak akan mengedepankan ego electoral, karena pemenang pemilu maka harus ada kader yang maju misalnya. Saya rasa nantinya tidak demikian, tentu berdasarkan kajian-kajian yang komprehensif terukur, kalau ada kader yang memang mumpuni mungkin parpol mengusung kader internalnya, namun apabila setelah melewati kajian ternyata masih jauh dari yang diharapkan, saya kira nanti parpol rasional juga,” ujar Ketua DPC Ikadin Lubuklinggau – Musi Rawas ini.

Apalagi, masih menurutnya, Pilkada 2020 merupakan pilkada yang dilaksanakan pada situasi yang tidak normal, karena masih suasana pandemi Covid 19.

“Ini tentu menguntungkan Petahana, karena program-program pemerintah 3 bulan terakhir porsinya lebih banyak pada bantuan bantuan sosial yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya, saya kira nanti penantang bahkan tentu juga parpol pengusung akan mengkalkulasi rasio probabilitas kemenangan di Pilkada nanti,” katanya.

“Sekarang kita lihat dari sisi calon lawan, ada satu pasangan yang sudah men-declaire yaitu Akmal- Triono yang awalnya berencana maju melalui jalur perseorangan. Waktu itu, sudah jelas ada penantang petahana. Namun terakhir, ternyata duet Akmal- Triono ini dinyatakan gugur karena tidak mampu memenuhi quota dukungan masyarakat yang dibuktikan dengan fotokopi KTP. Dengan gugurnya pasangan ini, hingga saat ini belum ada lagi bakal pasangan yang menyatakan maju di Pilkada,” katanya.

Lalu, kalau dilihat duet H2G- Suwarti yang berpotensi tidak lagi bersama – sama atau berpasangan di Pilkada 2020.

“Namun kita ketahui Gerindra hanya memiliki lima kursi, Gerindra mesti menggandeng parpol lain dengan quota minimal tiga kursi. Gerindra mesti bergerak cepat untuk itu, karena kebijakan Gerindra yang menempatkan prasyarat Hj Suwarti menjadi cawabup Gerindra tentu nantinya bertentangan dengan parpol-parpol yang mengedepankan narasi rasionalitas tadi, dikhawatirkan sulit bagi Gerindra berkolaborasi dengan parpol-parpol lain, Hj Suwarti punya PR berat untuk memompa elektabilitasnya. Namun bila Hj Suwarti mampu meyakinkan parpol lain, saya kira ruang komunikasi juga masih terbuka, tetapi bila seandainya duet H2G- Suwarti ini berlanjut semakin memantapkan posisi mereka,” lanjut dia.

Kemudian, dari Partai Golkar ada Firdaus Cik Ola (FCO). “FCO, posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Mura merupakan nilai tawar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Golkar merupakan partai yang sangat hati-hati dalam menentukan kandidat yang diusung,” katanya.

Menurutnya, DPP Partai Golkar terbiasa dengan kajian ilmiah, melibatkan lembaga-lembaga survey yang kredibel serta berpengalaman. Kita ketahui, bakal paslon harus mendapatkan SK DPP tentang rekomendasi pasangan calon, dari pengalaman Pilkada yang pernah ada DPP Partai Golkar selalu melibatkan kajian lembaga survey.

“Hasil kajian lembaga survey biasanya menjadi pertimbangan Partai Golkar. Kalau hasil kajian survey FCO memenuhi syarat, saya meyakini Golkar akan mengusung FCO. Namun, bila hasil kajian nantinya ternyata masih jauh dibawah Petahana, sepertinya Golkar juga akan mengusung Petahana,” urainya.

Lalu, ada juga Ratna Mahmud yang pernah berlaga di Pilkada 2015. Ratna Mahmud menjadi runner up dengan perolehan suara terpaut 2040 suara dari raihan H2G Suwarti.

Di satu sisi itu pengalaman politik yang mesti diperhitungkan, namun di lain sisi dalam konteks kontestasi electoral Pilkada 2015 berbeda dengan Pilkada 2020, diimana H2G saat ini adalah seorang incumbent. Jejaring yang dimiliki H2G saat ini harus diperhitungkan. Ditambah lagi hasil survey dari salah satu lembaga survey kredibel Ratna Mahmud sangat jauh dari Petahana, bisa jadi keinginan Ratna Mahmud untuk meramaikan Pilkada 2020 kandas.

“Melihat dinamika yang ada hari ini, Pilkada Musi Rawas berpotensi calon tunggal, Petahana versus kotak kosong,” tutupnya.(*)

Rekomendasi Berita