oleh

PGRI Mura Pilih Memaafkan

LINGGAU POS ONLINE, MEGANG SAKTI – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Musi Rawas (Mura) menindaklanjuti masalah dugaan pelecehan terhadap profesi guru yang dilakukan pemilik akun Facebook Sumayanti Saragih.

Jumat (9/2), PGRI Musi Rawas, Pengurus PGRI Kecamatan Megang Sakti, Camat Megang Sakti, perwakilan Polsek Megang Sakti, dan dewan guru menggelar pertemuan. Rapat ini juga menghadirkan oknum berinisial PS yang diduga lecehkan profesi guru di Media Sosial (Medsos) Facebook beberapa waktu lalu. PS suami dari pemilik akun Facebook Sumayanti Saragih.

Pertemuan dilakukan untuk mencari solusi atas permasalahan dugaan pelecehan profesi guru dan SDN 1 Wonosari yang ditulis dalam komentar pemilik akun Facebook Sumayanti Saragih beberapa hari lalu.

Pertemuan dilaksanakan di SMP Negeri Megang Sakti, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas, sekitar pukul 09.00 WIB, Jumat (9/2).

Ketua PGRI PC Megang Sakti, Mutia Farida mengatakan dari hasil pertemuan itu, PGRI Musi Rawas memaafkan PS.

“Hanya saja PS harus membuat surat perjanjian untuk tidak akan mengulangi kesalahan tersebut,” kata Mutia Farida, kemarin.

Mutia Farida menjelaskan, PS tersebut dimaafkan lantaran melihat kondisi perekonomiannya. Selain itu, PS juga sebagai tulang punggung keluarga dengan dua anak, serta kondisi istri yang sedang hamil tua.

“Selain itu, karena faktor dari pendidikannya juga. Sebab PS ini cuma tamatan SD saja maka dari itu kami maafkan,” jelas Kepala SMP Negeri Megang Sakti ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagai tenaga pengajar (guru) tentunya mempunyai kepribadian, sosial yang tinggi sepakat semuanya baik dari pihak SD Negeri 1 Wonosari, PGRI PC Kecamatan, PGRI Kabupaten, pihak kecamatan dan pihak polsek Megang Sakti.

“Namun, apabila oknum yang melakukan hal itu berlatar belakang pendidikan tinggi maka akan diteruskan ke pihak yang berwajib. Sebab ada kata-kata ingin membunuh guru,” ucap Mutia.

Disinggung mengapa oknum melakukan hal itu?

“Kalau dari pengakuannya, karena melihat pemberitaan guru yang dibunuh oleh muridnya, dia beranggapan guru itu memang tidak benar. Dengar isu-isu pihak sekolah menjual baju sebanyak lima baju, apabila tidak membeli maka tidak bisa bersekolah. Jadi ia beranggapan lebih baik guru dibunuh saja. Ditambah lagi, dirinya mendapatkan kabar dari kakaknya diusir dari pihak sekolah di daerah Sindang, jadi numpuk masalah maka melakukan hal itu,” paparnya.

Kembali ia memaparkan, setelah membuat status di akun media sosial ternyata banyak yang memberikan komentar. Dan akun yang digunakan bukan miliknya melainkan istrinya barulah ia sadar bahwa yang dilakukannya salah.

“Hingga akhirnya ia menghapus status tersebut dan membuat status dengan pernyataan meminta maaf,” ucapnya.

Mutia menambahkan, tentunya setelah kejadian ini kepada guru dan anak apabila akan menggunakan Medsos agar lebih bijak. Karena selain dampak positif, kalau tidak bijak bisa juga sebaliknya.

“Kalau salah menggunakan media sosial ini, bisa merusak hubungan sesama. Bahkan bisa diproses ke ranah hukum,” tutupnya.(16)

Rekomendasi Berita