oleh

Petani Rugi Harga Sayur Anjlok

CURUP – Pasca libur Natal dan Tahun Baru 2019, sejumlah harga sayuran ditingkat petani anjlok. Akibatnya petani mengalami kerugian, karena hasil sayur yang dipanennya tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

“Hampir semua jenis sayur turun, kecuali Tomat yang saat ini ditingkat petani masih di beli dengan harga Rp5.500 per kg,” ungkap Damhuri (43) pengepul sayur warga Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupu Rejang, Minggu (20/1).

Diakui Hamhuri, meski harga sayur banyak yang anjlok, sayuran yang dijual di pinggir jalan juga jarang yang membeli.

“Ini contohnya mas, wortel dari pagi tadi belum ada yang beli, padahal murah,” ungkap Damhuri.

Menurutnya, anjloknya harga sayur dipengaruhi karena kurangnya permintaan dari konsumen.

“Kalau saya belinya di petani dan dijual di pinggir jalan, biasanya setiap hari ada pedagang yang membeli dari Bengkulu, Kepahiang dan Lubuklinggau membeli, tapi sekarang kurang, saya juga ngecer di jalan, konsumennya kendaraan yang melintas sini,” tuturnya.

Untuk harga Sawi Pahit, sawi manis, sawi bola di tingkat petani harganya sama dikisaran harga Rp600-700 per kg. Kemudian wortel saat ini dihargai Rp2.000 per kg dari sebelumnya mencapai Rp5.000 sampai Rp8.000 per kg.

Kemudian loncang atau daun bawang sudah Rp 2.000 per kg, itu biasanya standarnya di atas Rp 5.000 per kg, lalu kol bulat saat ini hanya Rp2.000 per kg, kemudian labu siam di hargai Rp800 per kg.

Begitu juga cabai merah besar, saat ini, di beli ditingkat petani dikisaran Rp 10.000 sampai Rp12.500 per kg. Ia juga mengaku, pasca turunnya harga sayur mayur banyak petani yang enggan memanen karena hasilnya tidak sesuai dengan ongkos pemanenan.

“Saya dengar yang panen sawi tidak di panen, karena harganya tidak sesuai belum untuk upah petik, ongkos ojek, belum untuk beli keranjangnya,” tambah Damhuri.

Sama disampaikan Slamet (52). Menurut Slamet, untuk memanen sayur yang harganya murah membutuhkan biaya tidak sedikit.

“Bayangkan mas kalau panen sawi satu keranjang beratnya sekitar 60 kg, di beli dengan harga Rp700 dapat uang sekitar 40.000, dipotong upah metik, di potong ongkos ojek, kalau jauh sekitar 15.000 kalau dekat sekitar Rp10.000, kemudian untuk beli keranjangnya Rp10.000, jadi berapa dapatnya?,”tutur Slamet.

Ia berharap, kondisi seperti ini tidak berlangsung lama.

“Harapanya ya cepet naik, jadi petani tidak rugi, selain menggarap tanaman sendiri, banyak juga petani yang di modali orang, minimal harga standarlah,” harap Slamet. (sam)

Rekomendasi Berita