oleh

Petani Masih Tergantung dengan Tauke

Melihat Festival Kopi Rakyat Tanah Rejang

Rejang Lebong merupakan salah satu kabupaten penghasil kopi terbesar di Provinsi Bengkulu. Salah satunya dihasilkan oleh kalangan petani Hutan Kemasyarakatan (HKM). Namun, petani kecil ini masih ketergantungan dengan tauke.

Laporan Syamsul Ma’arif, Curup

Kegiatan ini berlangsung di halaman Gedung Pola Pemda Rejang Lebong, Selasa (7/11). Di sana dilaksanakan Festival Kopi Rakyat Tanah Rejang. Bertujuan untuk mendeklarasikan kopi yang dihasilkan dari tanah Rejang yang dihasilkan dari kalangan petani di Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong.

“Festival ini untuk mempertegas identitas petani kopi kecil yang berasal dari tiga kabupaten. Pihak yang menginisiasi kegiatan ini dari teman-teman Poktan Hutan Kemasyarakatan (HKM),” jelas Pramasti, selaku koordinator program, kemarin.

Ia menyebutkan festival ini mengajak petani di tiga kabupaten untuk mempertegas identitas kopi tanah Rejang.

“Kegiatan ini untuk mempertegas identitas kopi tanah Rejang yang sekarang sedang krisis identitas,” paparnya.

Pramasti menyebutkan jumlah produksi kopi wilayah berada di wilayah HKM Kabupaten Rejang Lebong ada di lima desa menghasilkan 800 ton sampai 1.300 ton per tahun. Sementara dari jumlah produksi yang melimpah tersebut tidak sesuai dengan kondisi masyarakat yang dinilai belum sejahtera.

“Masyarakat masih tergantung dengan tauke karena masyarakat tidak punya akses modal,” katanya.

Kemudian, kopi yang dihasilkan petani ini dirasakan seperti ayam yang punya telur tapi sapi yang punya nama. Dan lebih banyak dikenal kopi Lampung dan Sumatera Selatan (Sumsel), tapi kopi Rejang malah tidak.

Mengatasi hal itu rencananya untuk lima desa penghasil kopi di kawasan HKM membentuk unit usaha koperasi di Desa Air Lanang, Tanjung Dalam, Tebat Pulau, Tebat Tenong dan Baru Manis.

“Tujuannya untuk menciptakan kompetisi baru, agar masyarakat tidak tergantung dengan tauke. Kemudian memperbaiki kualitas kopi yang selama diduga campuran merah kuning hijau dan mengubah pola itu,”paparnya. Kemudian, sambungnya, koperasi ini juga mengubah pola produksi dan berwawasan lingkungan mulai penanaman, panen dan segala macam tidak merusak hutan dan ini kopi hutan.

Sementara itu, perwakilan Kepala Balai Perhutanan Sosial dan Lingkungan wilayah Sumatera, Ratma Indra Moko, yang sempat hadir menjelaskan, festival petani kopi rakyat dinilai untuk menjadi momentum masyarakat yang memiliki hak kelola hutan HKM bukti konkret dalam pengelolaan hutan untuk masyarakat.

“Ini saatnya untuk rakyat, bukan sekedar masyarakat yang mendapatkan akses kelola hutan yang selama ini keberpihakannya pada korporasi dan masih ada ruang untuk rakyat bagaimana pengembangan usaha dan membantu mengembangkan,” katanya.

Ia juga mengaku, Kopi Bengkulu cukup terkenal.

“Siapa sih yang tidak kenal kopi Bengkulu dan ini harus segera ada offteker yang tapi memosisikan masyarakat diposisikan sebagai subyek, jangan sampai masyarakat dibodohi dan menjadi bemper,” katanya.

Ditambahkannya peran yang perlu diupayakan yakni mendekatkan dengan offteker, investasi kehutanan bukan jangka pendek, dan bukan kecil dan butuh modal, melalui kredit usaha rakyat dan sebagainya.

Pantauan dalam festival kopi tanah Rejang Lebong tersebut ditampilkan sejumlah hasil kopi yang masih dalam bentuk mentah, setengah jadi, siap sedu bahkan ada yang sudah dikemas. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita