oleh

Petani Karet ‘Banting Setir’

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Tahun 2017 Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mampu mengekspor 1 juta ton karet ke Amerika, Cina, Eropa, Jepang, dan Korea.

Namun tiga bulan pertama tahun 2018 hasil produksi buruk. Per bulan, hanya menghasilkan 70.000 ton karet. Padahal target Gapkindo, tahun 2018 hasil produksi mencapai 1,3 juta ton.

Hal ini diungkapkan Ketua Gapkindo Provinsi Sumsel, Alex K Eddy saat diwawancara, Sabtu (14/4). Menurutnya, penurunan produktivitas petani karet lantaran harga karet terus merosot. Sehingga, tidak sedikit petani ‘banting setir’, beralih ke usaha lain.

Oleh karena itu, menurut Alex, tahun 2018 ini Gapkindo pesimis bisa mengekspor karet untuk menjadi bahan baku pembuatan ban lebih banyak, dibandingkan tahun 2017. Kendalanya, lantaran minimnya suplai dari petani, serta cuaca yang tidak bersahabat.

“Makanya, salah satu upaya kita dengan menjaga mutu karet sesuai Standard Indonesian Rubber (SIR). Untuk pembuatan ban, sesuai permintaan pabriknya, mutu SIR10 dan SIR20 yang mereka inginkan, karena sesuai dengan spesifikasi mereka. Alhamdulillah, rata-rata hasil produksi di Sumsel memenuhi mutu tersebut. Hanya saja, yang terus kita imbau mengenai kebersihan karet yang kadang di beberapa daerah, salah satunya di Lubuklinggau yang hasil karetnya tidak bersih. Masih ada kotoran, baik kayu maupun pasir. Namun akhir-akhir ini, mereka sudah mulai berbenah, dengan hasil karet yang lebih bersih,” ungkapnya.

Selain itu, Gapkindo juga merencanakan pasar baru.

“Pasar baru yang kami maksud, salah satunya memasok untuk bahan baku aspal. Ini baru rencana, namun kita harapkan bisa menjadi solusi. Terus terang, kita juga belum melihat, bagaimana permintaannya, kriteria seperti apa yang harus kita penuhi serta lainnya,” jelasnya.

Terakhir, yang bisa Gapkindo lakukan mengimbau pemerintah untuk bersama-sama mengendalikan harga karet.

“Salah satunya kurangi ekspor, perbanyak untuk produksi dalam negeri. Dan kita pun siap untuk itu, karena tidak ada masalah. Kita berharap ada dampak, tentunya dampak positif. Karena jujur tahun 2017, dari 1 juta ton, yang untuk produksi dalam negeri sangat sedikit. Semuanya rata-rata kita ekspor,” tegasnya.

*** Petani Karet Mengeluh

Turunnya harga karet membuat petani di Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau, dan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) terpuruk.

Tingkat petani, harga karet Maret 2018 sempat menyentuh Rp 6.000 per Kg. Lalu kini turun lagi menjadi Rp 5.500. Situasi ini membuat petani mengeluh.

Seperti dialami Pratik (34), salah seorang petani karet asal Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II. Ia menyebutkan harga karet Rp 5.500 per Kg sangat tidak menguntungkan petani. Bahkan dari pendapatan jual karet terkadang tak bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Harga karet kembali turun, semula sempat naik Rp 6.000 per Kg, kini turun lagi menjadi Rp 5.500 per Kg. Kami petani semakin tidak berdaya,” keluh Pratik, Sabtu, (14/4).

Ia mengatakan hasil dari menyadap karet memang lumayan, tapi ketika dijual hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Apalagi harga kebutuhan pokok juga semakin mahal.

“Harga karet dalam beberapa tahun terakhir ini sudah berkali-kali mengalami penurunan mulai dari harga tertinggi mencapai Rp14.000 per Kg, kemudian terus turun menjadi Rp 10.000 per Kg, bahkan pernah merosot tajam sampai Rp 3.000 per Kg,” katanya.

Pratik mengatakan, dalam sehari kebun miliknya mampu menghasilkan getah karet sekitar 10 Kg, sehingga jika dijual bisa menghasilkan uang Rp 40.000. Itu pun kalau tidak hujan.

“Rp 40.000 itu masih harga kotor belum dipotong untuk biaya perawatan. Jadi sangat memprihatinkan. Dan yang pasti kami merasa sangat kesulitan dengan turunnya harga karet,” katanya.

Terpisah Kanik (45), salah seorang pengumpul karet di Kelurahan Taba Pingin mengaku terpaksa membeli hasil getah karet petani antara Rp 5.500 per Kg, karena harga jual ke pengepul besar hanya Rp 6.000 per Kg. Untuk karet basah sedang karet kering hanya Rp 7.000 per Kg.

“Ya gimana lagi pak kami jual ke pengepul besar juga murah, kita hanya mengikuti harga pasaran,” kata Kanik.

Lantas, bagaimana dengan kondisi petani karet di Kabupaten Muratara?

Sukarman (47) warga Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir menerangkan mayoritas penduduk di Pauh ini penghasilannya mengandalkan getah karet.

“Jika harga getah karet terus turun bagaimana nasib kami ke depan,” tanya Sukarman.

Ia berharap pemerintah segera mencari solusi untuk mengembalikan harga karet yang anjlok ini.

Sementara Leni (48) warga Desa Remayu, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas memilih banting setir jadi pedagang. Ibu empat anak itu tak lagi menyadap karet.

“Sejak awal Januari 2018 tidak nyadap karet lagi. Saya buka warung manisan, sambil jual pulsa. Harga karet turun, kalau dipaksa tetap nyadap dengan harga karet Rp 5.000 per Kg, tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Anak-anak mau sekolah. Sekarang barang serba mahal. Jadi hasil dari nyadap karet tidak bisa diandalkan. Saya milih dagang,” terang Leni.

Kebun karet miliknya kini dibiarkan saja. Bahkan jika harga karet tidak berangsur membaik, Leni dan suami berencana menjadikan kebun karet itu sebagai kebun sawit.

“Ya kalau memang tidak naik-naik harga karet. Rencananya mau kami potong semua pohon karetnya, lalu ditanami sawit. Karena kata teman-teman kami, berkebun sawit lebih menjanjikan. Biaya operasionalnya juga besarnya pada awal saja. Tidak berkelanjutan,” jelas Leni. (11/02)

Rekomendasi Berita