oleh

Pesantren Ahlussunnah Programkan Enam Bulan Bisa Jadi Hafidz

Pesantren Ahlussunnah Prioritaskan Santri Yatim Piatu

Tak hanya pemerintah, masyarakat dan swasta pun memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan anak bangsa dari putus sekolah. Hal ini pula yang digagas pendiri Pesantren Ahlussunnah.

Laporan Daulat, Karang Ketuan

SABTU pagi (18/11) pukul 10.00 WIB saya sudah tiba di Pesantren Ahlussunnah Terpadu . Tepatnya di Jalan Raya Tugumulyo, No 04 Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.

Menatap kondisi Pesantren Ahlussunnah Terpadu satu kata mulai menumbuhkan rasa iba dalam diri. ‘Memprihatinkan’.

Baik dari tempat ataupun sarana-prasarana, tak ada kesan wah. Semua serba sederhana. Bangunan ruang kelas tersebut terbuat dari kayu papan. Hanya ruang tempat tidur sebagian terbuat dari batu bata. Pesantren ini memiliki empat ruang kelas, lima ruang tidur dan satu tempat memasak.

Di dalam kelas tempat para santri tengah belajar. Tak seperti sekolah pada umumnya, tidak ada bangku atau pun kursi di sana. Para santri duduk beralaskan lantai.

Tak berapa lama kemudian, saya berkesempatan membincangi Pimpinan Pondok Pesantren Ahlussunnah Terpadu dan Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yakni Kyai Darsono.
Wajahnya yang teduh, membuat saya nyaman untuk bertanya tentang seluk beluk pondok yang dibangunnya itu.

Kakek yang kini sudah berusia 60 tahun itu menceritakan, pondok pesantren Ahlussunnah didirikan 7 Juni 2016, selang 13 hari kemudian menerima santri.

Pria kelahiran Jawa Tengah 26 Desember 1951 ini menjelaskan, selain mendirikan pesantren di Lubuklinggau, ia juga banyak mendirikan pesantren dan mensyiarkan agama Islam. Selain PSAA, ada juga Pondok Pesantren Asafiah dan Pondok Pesantren Asukuriah yang didirikannya di Surulangon Jambi.

“Tahun 1974 saya merantau ke Sumatera, berkerja sebagai pembuat kursi rotan yang terletak di Kelurahan Ulak Surung, Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Tahun 1979 saya menikah, kemudian 1992 dengan istri pergi ke Jambi dan mulai merintis dari nol membangun pesantren,” tuturnya.

Dia bersyukur, dua pesantren di Jambi berhasil didirikannya. Dan PSAA merupakan pondokn pesantren ketiga yang dibangunnya.

Kyai Darsono mengatakan, Pondok Pesantren Ahlussunnah berdiri diatas tanah seluas 1 hektar dan Wakaf dari H Ibnu Amin dengan luas lebih kurang 30×80 Meter.

“Kami sengaja mendirikan pondok pesantren dan panti asuhan anak yatim piatu, untuk membantu kehidupan anak-anak yang kurang beruntung tersebut. Kami merasa perlu adanya pondok pesantren khusus, sebab jumlahnya masih sedikit,” terang Darsono

Kini, Pondok Pesantren Ahlussunnah mendidik 60 santri, 38 putra dan 22 putri.

Para santri pun mendapatkan pendidikan tidak dari sekolah luar. Mereka mendapat ilmu pendidikan dari dalam pondok dan tenaga pendidik berjumlah 19 orang baik guru SD maupun guru SMP.

“Proses belajarnya SD dimulai dari pukul 08.00 – 12.00 WIB. Lanjut lagi pada pukul 14.00 – 17.00 WIB itu untuk pengajian” tambahnya

Untuk program pondok Pesantren Ahlussunnah salah satunya Tahfidz Al-Qur’an, Tartil Al-Qur’an,dan Tilawati Al-Qur’an.

“Untuk menjadi Tahfidz butuh waktu lebih kurang enam bulan, itu sudah hafal semuanya. Baik Iqro mau pun Al-Qur’an,” jelasnya.

Saat ini, santri Pondok Pesantren Ahlussunnah berasal dari berbagai wilayah, baik Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

“Namun memang sebagian besar dari Kabupaten Musi Rawas. Untuk mendidik anak-anak ini baik untuk tinggal maupun menempuh pendidikan, kami tidak memungut biaya sama sekali,” jelasnya.

Ia membenarkan sebagian besar anak yang belajar yatim piatu. Namun ada juga yang mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan. Dan ia bersyukur, dari santri yang berkecukupan ini, banyak memberikan bantuan untuk pondok.

“Biaya operasional pondok pesantren dan panti asuhan ini berasal dari keluarga besar H Ibnu Amin yang setiap bulannya memberikan beras, dan beberapa donatur yang mensedekahkan sebagian rezeki mereka untuk kegiatan pondok. Tujuan kami membangun pesantren ini yaitu, melindungi dan memelihara anak-anak yatim piatu dan fakir miskin agar kelak tidak hidup terlantar. Memberikan pendidikan, pengarahan, dan bimbingan agar mereka menjadi anak yang soleh dan salehah berguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa,” ungkap Kyai Darsono.
Ia berharap, semoga santri yang keluar dari Pondok Pesantren Ahlussunna, bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa dan sukses.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, karena kalau mau ikut kegiatan pengajian atau lomba di luar kami tidak memiliki baju seragam,” harapnya

Sementara salah seorang santri Hedi Hendika (13) menceritakan betapa beruntungnya dia berkesempatan belajar di Pondok Pesantren Ahlussunnah.

Warga Lubuk Kumbung ini salah satu santru yatim piatu di pesantren tersebut.

“Saya berenti sekolah waktu kelas VI SD, karena saya tidak mempunyai orang tua lagi dan tidak ada membiayai sekolah, 25 Agustus 2016 lalu, saya masuk ke Pondok pesantren Ahlussunnah ini, sekarang saya kelas satu SMP,” tuturnya

Remaja yang bercita-cita jadi ustadz itu juga mengungkapkan suka dukanya mondok di pesantren.

“Sukanya menjadi santri adalah kebersamaan. Kita makan bersama, salat berjamaah, kalau ada keluarga teman yang sakit, kita semua sama-sama pergi menjenguk,”ungkapnya.

“Kalau dukanya, itu kami ndak bebas. Maksudnya tidak bisa kemana-kemana, libur dan pulang kedusun  juga jarang. Tapi inilah bagian dari perjuangan untuk menuntut ilmu, ” ungkapnya penuh keyakinan. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita