oleh

Persiapkan Diri Wakili Lubuklinggau Tingkat Provinsi

Santri SMP Ar Risalah Jawara Debat Bahasa Indonesia

Gheasyanda Alifah dan Izzati Zaleekah Aisyfaalih tak menyangka bisa meraih Juara I Debat Bahasa Indonesia dalam Festival Lomba Literasi Siswa Nasional (FL2SN). Berkat prestasi ini, dua santriwati SMP Ar Risalah itu akan mewakili Kota Lubuklinggau dalam kompetisi yang sama Tingkat Provinsi Sumsel.

Laporan Sulis, Air Kuti

KAMIS (12/4) siang, saya sengaja tandang ke SMP Ar Risalah, memenuhi undangan Direktur Bidang Akademik Pesantren Modern Ar Risalah, Ust Budi Satriadi, Lc. Namun, karena Ust Budi sedang studi doktor ke Malaysia, maka kedatangan saya disambut Kepala SMP Ar Risalah Ida Istanti.

Sebelum memasuki ruang kepala sekolah, saya sempat melihat bagaimana aktivitas santri. Karena momennya sedang persiapan Ujian Nasional (UN), sekolah nampak sepi.

“Ini bukan karena santrinya nggak masuk. Tapi mereka sedang di halaman belakang pesantren untuk mengikuti acara Camping Quran. Termasuk Izzah (panggilan Izzati Zaleekah Aisyfaalih) dan Gheas (panggilan Gheasyanda Alifah),” terang Ida Istanti dengan ramah.

Ia lalu menghubungi seorang ustadzah yang meng-handel acara Camping Quran itu melalui smartphone-nya, dan meminta Gheas dan Izzah ke ruang kantor.

Kurang dari 15 menit, dua santriwati berseragam putih biru itu langsung menghadap. Di tangan keduanya masih menggenggam mushaf Alquran.

“Camping Quran ya?” tanya saya.

Keduanya mengangguk sambil menyalami saya, juga Kepala Sekolah.

Proses wawancara bersama dua santriwati yang telah mengharumkan nama Pesantren Modern Ar Risalah ini sangat santai. Keduanya duduk di samping saya.

Izzah menceritakan, lomba yang diikuti mereka berlangsung di Balai Kota Pemkot Lubuklinggau, Jl Garuda, Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat I.

“Saat babak penyisihannya, kami menjadi tim pro terhadap tema tentang ‘Jam Pelajaran PPKN Perlu Ditambah’. Saat itu, kami harus berhadapan dengan tim kontra dari MTs Negeri Lubuklinggau, Sekolah Alam Insan Mulia dan SMPN 8 Lubuklinggau,” tutur Izzah, yang diamini Gheas.

Namun pada sesi final, Gheas menambahkan, mereka menjadi tim kontra dengan tema ‘Kesenian Tradisional Dianggap Ketinggalan Zaman.

“Saat final itu, kami bertemu dengan tim dari MTsN Lubuklinggau, SMPN 3 Lubuklinggau dan Sekolah Alam Insan Mulia,” tutur Izzah lagi.

Gadis kelas VII SMP Ar Risalah Lubuklinggau itu menyebut, mengikuti Lomba Debat Bahasa Indonesia FL2SN Tingkat SMP/MTs se-Kota Lubuklinggau Tahun 2018 ini merupakan pengalaman pertama baginya, juga Gheas.

“Ini pengalaman pertama. Tapi memang Guru Pembimbing kami Ibu Septi Wahyuni terus melatih. Jadi hari-hari menjelang lomba itu, kami diuji coba debat dengan guru. Agak canggung juga. Namun setelah debat betulan dengan kompetitor, jadi semangat juga untuk mempertahankan argumen kita,” jelas Izzah.

Gheas kembali menambahkan, selama proses debat mereka berdua berusaha untuk tidak curang.

“Kami tidak bawa contekan, dan tidak diperbolehkan untuk mencontek. Jadi dari ustad/ustadzah di sini juga diajarin jujur. Memang diberi kesempatan lihat Google, tapi dibatasi waktunya. Selama debat, kami hanya diperkenankan membawa catatan hasil melihat Google itu. Selebihnya tidak ada,” jelasnya.

Alhamdulillah, kata Gheas, ia dan Izzah bisa menjadi Juara I.

Lantas bagaimana dengan persiapannya untuk mewakili Kota Lubuklinggau Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi Sumsel?

Ida Istanti menjelaskan, ia dan guru pembimbing akan semaksimal mungkin memotivasi dan memfasilitasi dua siswinya untuk melakukan persiapan.

“Target kami, anak-anak ini bisa mengharumkan nama Lubuklinggau di Kancah Sumsel,” terang Ida.

Ia amat bersyukur atas prestasi yang dicapai peserta didiknya. Ida yakin, ini tidak terlepas dari doa kedua orang tua Gheas maupun Izzah, juga dukungan para dewan guru, ustadz dan ustadzah di Pesantren Modern Ar Risalah.(*)

Rekomendasi Berita