oleh

Perpustakaan dan Kemerdekaan

Oleh: Rhoni Rodin, M.Hum *)

Tidak terasa pada tahun ini bangsa Indonesia telah genap berusia 75 tahun. Suasana kemeriahan dan gegap gempita menyambut HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan Indonesia sangat terasa bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa.

Dalam suasana yang meriah ini tentunya masih ada beberapa hal yang menjadi catatan kita bersama sebagai anak bangsa yaitu merealisasikan cita-cita kemerdekaan bangsa kita yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu cita-cita mulia tersebut adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Cita-cita mulia ini harus diwujudkan agar sumber daya manusia Indonesia tidak ketinggalan dengan bangsa lain.

Usia 75 tahun bukanlah usia muda lagi jika kita analogikan dengan usia manusia. Di usia tersebut, tentunya bangsa ini mengalami kematangan mental, spiritual dan sosial tentunya.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, tentunya harus melalui salah satu wahana atau sarana yang akan membantu terwujud/ tercapainya cita-cita mulia tersebut yaitu dengan perpustakaan. Perpustakaan harus menjadi salah satu elemen bangsa yang ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Perpustakaan menyediakan berbagai macam informasi dan pengetahuan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh anak bangsa. Yang menjadi pertanyaan dalam hal ini adalah sejauh mana peran perpustakaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa?

Bagaimanakah minat dan motivasi masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan dan meningkatkan budaya bacanya?

Realita
Kondisi riil yang ada dan tidak bisa kita pungkiri adalah rendahnya minat baca masyarakat kita. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, sangatlah disayangkan. Kebiasaan membaca yang banyak memberikan manfaat bagi manusia, seharusnya terus ditingkatkan, karena kita menyadari, bahwa membaca adalah kunci untuk meraih ilmu pengetahuan.

Survey UNESCO untuk Negara-negara ASEAN menyebutkan bahwa Negara yang minat baca penduduknya paling rendah, adalah Indonesia. Minat baca memang harus terus ditumbuhkan dalam masyarakat kita, karena dengan minat baca yang tinggi, diharapkan banyak yang dapat diketahui, termasuk meraih prestasi bagi  kalangan apa saja yang mempunyai komitmen untuk maju.

Sementara itu, perpustakaan – perpustakaan sekolah di tanah air kita, menurut kalangan pendidik, jumlahnya masih kurang bila dibanding dengan jumlah sekolah dan luas wilayah serta banyaknya penduduk Indonesia. Begitu juga ketika kita melihat SDM yang mengelola perpustakaan tersebut masih banyak yang tidak berlatar belakang ilmu perpustakaan.

Sehingga pengelolaan perpustakaan dikelola apa adanya. Masih kurangnya pemahaman akan peran strategis perpustakaan merupakan salah satu kendala yang menghambat perkembangan dan kemajuan perpustakaan.

Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, yang menyediakan bahan pustaka dari berbagai disiplin ilmu, sesuai dengan keberadaan perpustakaan tersebut, apakah dibawah Lembaga atau Kementerian biasanya memberikan akses untuk masyarakat mempergunakannya dengan mengikuti aturan yang ada.

Tanpa kita sadari, bahwa sesungguhnya Perpustakaan tersebut dalam berbagai jenisnya telah ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.  Sesuai keberadaannya saat ini, ada perpustakaan umum dan juga ada perpustakaan khusus, yang keduanya bisa dikunjungi oleh siapa saja yang membutuhkan informasi.

Bagi pelajar atau mahasiswa tentunya akan sangat bermanfaat bila sering mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan untuk mencari informasi atau mencari sumber-sumber informasi sebagai rujukan dalam membuat karya ilmiah atau berkait dengan mata kuliah yang dipelajarinya.

Demikian pula para peneliti di berbagai bidangnya. Perpustakaan juga bukan tempat yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa atau peneliti saja.

Karyawan, manajer perusahaan, para industriawan dan pengusaha dalam mengembangkan efisiensi perusahaan dan memajukan perusahaannya, memerlukan informasi. Di kalangan Manajer perusahaan misalnya, ia memerlukan apa yang disebut Knowledge Management.

Di kalangan kenegaraan, para pejabat tinggi, terutama para staf ahlinya, juga memerlukan informasi terkini di bidangnya, mereka juga terkadang memiliki perpustakaan khusus di lingkungannya masing-masing. Minat baca pada akhirnya perlu ditumbuhkan dalam diri pribadi masing-masing, (ibda binnafsi) dimulai dari diri masing-masing dalam bahasa agama.

Dengan membaca tentunya seseorang akan bertambah pengetahuannya, bijak  dalam berpendapat  dan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Orang-orang yang berpengetahuan, umumnya setingkat lebih baik dibanding orang awam.

Tidaklah berlebihan jika dalam Islam dinyatakan bahwa orang-orang yang berilmu diangkat  derajatnya dibanding orang-orang yang tidak berilmu (QS. Almujadilah ayat 11).

Bangsa Cerdas dan Ilmu Pengetahuan
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan. Dan sumber ilmu pengetahuan itu antara lain berupa buku. Sedangkan perpustakaan, adalah sebuah sarana bagi mereka yang ingin banyak membaca buku dengan cara mudah dan murah meriah.

Tetapi, apakah yang terbayangkan mengenai perpustakaan? Deretan buku dalam rak? Sebuah bangunan penuh meja, kursi dan lemari buku? Orang-orang yang duduk diam asyik membaca? Atau tempat meminjam buku untuk kemudian dibawa pulang?

Sesungguhnya hakekat perpustakaan melekat tugas untuk pencerdasan masyarakat. Elemen penting dalam sebuah perpustakaan itu bukanlah ada pada keberadaan buk itu sendiri, melainkan adanya habitat masyarakat pembaca.

Kalau perpustakaan hanya semata-mata dimaknai sebagai kumpulan buku, katalogisasi dan perangkat keras lainnya, maka perpustakaan tak ubahnya gudang buku. Perpustakaan yang seperti ini tidak memberikan ruang yang memadai bagi eksistensi pengguna atau pembacanya.

Sebagaimana amanat UU Nomor 43 Tahun 2007, bahwa perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Promosi Perpustakaan dan Budaya Baca
Perpustakaan (Library), sebagai tempat kegiatan umum untuk mencari informasi, kini telah banyak mengalami perubahan. Di lembaga pemerintah atau Kantor-kantor Kementerian dan Kantor-kantor pemerintah daerah (Pemda), juga kantor-kantor swasta serta Kantor Kedutaan-kedutaan Negara asing, perpustakaan disediakan dengan fasilitas  yang cukup nyaman.

Selain ruang ber-AC, peralatan pendukung perpustakaan termasuk komputer, jumlahnya cukup memadai. Koleksi perpustakaannya sangat beragam dan sebagian sedang menuju kepada Perpustakaan Digital (Digital Library).

Sebagai salah satu ruang public (public space), perpustakaan bukanlah semacam toko buku. Koleksi perpustakaan, baik buku-buku referensi, buku-buku biasa, majalah, koran, dan informasi lain dalam bentuk CD-ROM, Microfis, termasuk laporan penelitian, Thesis, Disertasi dan lain sebagainya  tidak dijual, semua koleksi perpustakaan didayagunakan seluruhnya untuk kepentingan pemustaka atau pengunjung perpustakaan yang mencari informasi.

Meskipun perpustakaan tidak termasuk dalam kategori nirlaba dalam penyelenggaraannya, bukan berarti bahwa tidak perlu melakukan promosi perpustakaan.

Layanan referensi, layanan penelusuran, dan berbagai layanan yang dilakukan oleh sebuah Perpustakaan, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pengunjung dalam mencari informasi.

Bagi mahasiswa atau pelajar, Perpustakaan tetap menjadi tempat yang ideal untuk mencari informasi yang berkait dengan bidang studi yang sedang ditekuninya. Namun demikian survey yang dilakukan oleh Unesco di Negara-negara Asean, menyebutkan bahwa minat baca orang-orang Indonesia adalah yang paling rendah.

Ini menunjukkan bahwa, perpustakaan tetap harus melakukan berbagai promosi, agar publik khususnya para mahasiswa dan pelajar dapat lebih sering memanfaatkan perpustakaan dan juga menumbuhkan budaya baca.
Ada adagium yang menyatakan bahwa buku adalah jendelanya ilmu pengetahuan.

Sedangkan membaca sebagai kuncinya, maka kebiasaan membaca harus terus dibudayakan tanpa henti dimulai sejak dini. Para mahasiswa dan pelajar, bahkan para peneliti sekalipun, mestinya otomatis memiliki kegiatan membaca di atas rata-rata minat baca masyarakat umum.

Oleh karena itu, sesuai dengan keberadaannya baik Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustajkaan Umum Daerah baik ditingkat propinsi maupun kabupaten/kota, perpustakaan di Kantor Kementerian atau Lembaga Negara, harus melakukan promosi tentang berbagai fasilitas Perpustakaan.

Berbagai kemudahan melakukan penelusuran informasi dan produk lain yang dimiliki sebuah perpustakaan harus dipromosikan kepada masyarakat luas.

Masih rendahnya minat pelajar mendatangi perpustakaan maupun rendahnya budaya baca, diharapkan dapat dipacu dengan berbagai kegiatan promosi pihak perpustakaan.

Antara lain dengan menerbitkan buku-buku saku, pamlet, brosur dan berbagai bentuk terbitan yang menginformasikan berbagai koleksi dan koleksi terbaru sesuai bidang dan disiplin ilmu yang ada. Memberikan konsultasi dan membuka layanan informasi yang dapat diakses kepada perpustakaan lain, melalui jurnal atau majalah yang diterbitkan oleh pihak Perpustakaan.

Di era kemajuan teknologi informasi saat ini, internet via handphone (HP) juga dengan mudah dapat mengunduh berbagai informasi yang dibutuhkan. Namun demikian, informasi yang didapat khususnya untuk para pelajar, tidak selengkap dan se-spesifik informasi yang didapat di perpustakaan.

Bagi perpustakaan yang berada dibawah Kantor Kementerian atau Lembaga Negara termasuk Perpustakaan Umum Daerah baik di Propinsi maupun kabupaten/ kota  dan Kantor BUMN, perpustakaan sudah selayaknya tidak hanya digunakan oleh kalangan sendiri.

Sejatinya, dalam rangka untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan membantu para mahasiswa dan para pelajar, selalu memberikan akses kepada para pelajar untuk mengunjungi perpustakaan.

Promosi perpustakaan sudah sepatutnya dibiayai oleh pemerintah melalui DIPA di Kementerian maupun Lembaga-lembaga Negara.

Tanggung Jawab Kita Bersama
Menyikapi realita yang ada, tentunya kita tidak bisa menyalahkan pihak tertentu. Realitas yang ada ini merupakan tanggung jawab kita bersama, mulai dari pimpinan tertinggi di negara ini sampai kepada masyakarat.

Oleh karena itu, perlu kesadaran kita bersama untuk menciptakan masyarakat yang sadar akan pentingnya keberadaan perpustakaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Para pemimpin dan para pengambil kebijakan harus sadar bahwa perlu dibangun sarana prasarana perpustakaan yang memadai dalam segala jenis perpustakaan; perlu menambahkan dan meningkatkan sumber daya manusia perpustakaan yang punya kompetensi di bidangnya.

Perlu kesadaran masyarakat untuk meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya baca. Sehingga dengan demikian, cita-cita mulia yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 bisa terealisasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.(*)

*)Penulis adalah Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup. Alumni Universitas Indonesia (UI), Duta DELSMA Kemenag RI ke Jerman

Rekomendasi Berita