oleh

Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil, Dipenjara 14 Tahun

LINGGAUPOS.CO.ID – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau menjatuhkan vonis terhadap terdakwa Asan (45). Warga Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas (Mura) ini divonis 14 tahun penjara, denda Rp1 miliar dengan subsider tiga bulan.

Vonis dibacakan Ketua Majelis Hakim, Shareza Papelma dibantu Hakim Anggota, Siti Yuristia dan Reza Pirmansyah dengan Panitera Pengganti (PP) Ema Huzaimah, Selasa (26/1/2021).

Terdakwa Asan menyaksikan sidang dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA dengan Zoom Meeting didampingi Penasihat Hukum Darmasyah.

Vonis itu lebih rendah dari pada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau, Sumarherti dengan 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar.

Dalam kesempatan itu, Majelis Hakim PN Lubuklinggau Shareza Papelma membacakan vonis kepada terdakwa Asan, karena berdasarkan fakta-fakta, secara sah terdakwa melanggar Pasal 81 ayat (1) dan (3) tentang Perlindungan Anak.

Menurutnya, yang memberatkan terdakwa, karena anak kandungnya jadi trauma, sudah hamil, sampai melahirkan. Sehingga kejadian ini merusak masa depan anaknya. Sedangkan yang meringankan terdakwa, karena belum pernah dihukum dan terdakwa jujur dan sopan saat di Pengadilan.

Mendengar vonis tersebut, saat ditanya Ketua Majelis Hakim dan Penasihat Hukum terdakwa menerima. JPU Sumaeherti juga menerima. Sehingga Ketua Majelis Hakim langsung menutup sidang.

Terdakwa diringkus Rabu, 2 September 2020 sekitar pukul 16.00 WIB di Polsek STL Ulu Terawas. Tersangka sebelumnya telah diamankan dalam kasus senjata tajam dan diringkus di depan Rumah Kepala Desa (Kades) Muara Nilau.

Kasus asusila ini terungkap, karena hasil pengembangan adanya laporan bibi korban yakni AG (36) ke SPKT Polres Mura, bahwa terdakwa telah menghamili anak kandungnya. Persetubuhan dilakukan terdakwa, saat mereka tinggal bersama di kebun.

Tindakan asusila terdakwa terungkap, karena Sabtu 26 September 2020 korban bersama ibu MI (42) dan kedua adiknya menghadiri pesta pernikahan di desa.

Biasanya mereka tinggal di pondok, dalam kebun. AG curiga, karena perut korban buncit.

Lalu AG bertanya pada korban. “Apa kamu hamil? Siapa yang menghamilimu?”  Korban memilih diam, karena takut dimarahi sang ayah.

Lalu korban tak diizinkan sang bibi kembali ke kebun, dan tinggal bersama sang bibi. Sementara ayah, ibu dan adik-adik korban kembali ke kebun.14 Oktober 2020 sekitar pukul 20.00 WIB, AG mengajak korban ke bidan. Betapa terkejutnya AG,saat bidan mengatakan korban hamil tujuh bulan.

AG terus mendesak, agar korban menceritakan siapa yang menghamilinya. Saat itu, barulah korban berani bercerita. Bahwa yang menghamilinya, adalah ayah kandungnya sendiri. AG langsung melaporkan hal ini ke Kaur Pembangunan. Lalu didampingi Kaur Pembangunan AG langsung menemui Kades untuk pendampingan melaporkan kasus ini ke SPKT Polres Mura.

Pemerkosaan yang dilakukan tersangka terhadap korban bermula Maret 2020. Saat itu ibu korban MI (42) bersama adik-adiknya setiap hari Senin selalu pulang ke Desa Muara Nilau untuk ke pasar kalangan membeli kebutuhan di pondok, lalu kembali ke pondok keesokan harinya. Saat itulah, korban ditinggal berduaan dengan tersangka di pondok saat sang ibu ke desa.

Saat itulah tersangka menyetubuhi anaknya, di dalam pondok saat malam hari. Kelakuan bejat ini dilakukan sepekan sekali. Kejadian terakhirnya, September 2020. Setiap melancarkan aksinya, tersangka langsung mengancam korban akan menyembelih korban apabila bercerita kepada orang lain.

Bahkan apabila korban menolak langsung ditampar, dipukul dan dimarahi sehingga saat itu tidak berani melawan. Saat diwawancara Linggau Pos, tersangka melakukannya karena tergiur kemolekan tubuh sang anak. Terdakwa berdalih seperti kerasukan iblis, sehingga menyetubuhi sang anak. Apalagi, saat menikah dengan ibu korban, kondisinya janda satu anak. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita