oleh

Perkosa Anak Kandung, Dihukum 15 Tahun Penjara

LUBUKLINGGAU – Karwin (45) warga Desa Mekar Sari, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas(Mura) divonis 15 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Kamis(20/12).

Ia divonis seberat itu karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan persetubuhan terhadap anak kandungnya sebut saja Bunga (17).

Putusan tersebut dibacakan majelis hakim yang dipimpin Hendri Agustian SH,MH didampingi Hakim Tatap Situngkir SH dan Ferdinaldo SH,MH serta Panitera Pengganti (PP) Harmen SH.

Majelis hakim bersepakat terpidana melanggar Pasal 81 Ayat 1, 3 UU No.17 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas Undang-Undnag (UU) No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Jo Pasal 76 D UU No.35 Tahun 2014, menjatuhkan pidana selama 15 tahun denda Rp10 juta subsider enam bulan.

Putusan majelis hakim ini lebih tinggi dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmawati SH, yakni selama 14 tahun.

Adapun pertimbangan majelis hakim yang memberatkan terpidana, bahwa perbuatan terpidana meresahkan masyarakat, dan perbuatan terpidana ini dilakukannya terhadap anak kandungnya. Sedangkan hal yang meringankan, bahwa terpidana mengakui dan berkelakuan baik selama persidangan. Kemudian, Terpidana dan JPU sama-sama menerima putusan tersebut.

Dalam surat dakwaan JPU, terungkap perbuatan keji sang ayah ini bermula sekitar Desember 2017 sekitar pukul 21.30 WIB, terpidana bersama ketiga anaknya pulang dari menonton TV di tetangganya untuk beristirahat (Tidur). Lalu sekitar pukul 04.30 WIB terpidana terbangun dan tiba-tiba saat itu nafsu birahinya meningkat.

Kemudian, terpidana kebingungan ingin melepaskan nafsu birahinya tersebut, karena istri terpidana telah meninggal dua tahun sebelumnya. Lalu terlintaslah di benak terpidana ingin melampiaskan nafsu bejatnya itu kepada Bunga (korban). Lalu terpidana beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar Bunga. Setelah masuk kamar, terpidana naik di atas ranjang, sambil membelai rambut korban. Pada saat itu korban dalam posisi tidur miring, kemudian oleh terpidana badan korban ditelentangkan sehingga terjadi perbuatan bejat sang ayah. Korban terbangun dan berusaha ingin berontak, namun apa daya, nafsu terpidana yang sudah memuncak kejadian bejat tersebut pun terjadi.

Setelah puas, terpidana beranjak dari tempat tidur dan menuju kamarnya. Sedangkan korban, merasakan kesakitan pada kemaluannya. Perbuatan terpidana ini dilakukan hingga delapan kali dengan waktu yang berbeda-beda, dengan cara yang sama.

Selasa, 2 Oktober 2018 sekitar pukul 21.30 WIB, terpidana bersama anaknya termasuk korban sedang menonton TV di rumah tetangganya, namun saat itu korban merasakan sakit di perutnya, akhirnya terpidana mengajak anaknya untuk pulang.

Terpidana dan korban mengira, sakit perut yang dialami korban tersebut, hanya sakit perut biasa, akhirnya terpidana memanggil kakaknya Nardan, untuk menunggu korban karena Terpidana ingin meminta obat sakit perut ke Bidan Desa.

Kemudian pukul 23.3 WIB, terpidana pergi ke Bidan Desa untuk mengambil obat sakit perut.

Setelah korban meminum obat yang diambil dari Bidan Desa, namun sakit perut yang dialami korban tidak kunjung sembuh.

Dilihat oleh terpidana, ada cairan ketuban yang keluar, ada sesuatu yang akan keluar dari kemaluan korban, akhirnya Terpidana baru mengetahui jika korban selama ini hamil dan ingin melahirkan.

Sekitar pukul 01.00 WIB, terpidana memanggil Bidan Desa Neneng untuk membantu proses persalinan, kemudian Terpidana juga memanggil Wasimah, yang merupakan dukun beranak desa tersebut.

Saat Terpidana sampai di rumah bersama Wasimah, ternyata korban sudah melahirkan seorang bayi perempuan, dengan dibantu Nardan. Saat itu bayi dalam posisi tengkurap. Dan tak lama datang juga Neneng, kemudian dilakukan tindakan medis oleh Bidan Desa dibantu Wasimah. (cw1)

Rekomendasi Berita