oleh

Perampok Tembak Tauke Karet, 50 Juta Raib

LINGGAU POS ONLINE, BANDUNG KIRI – Seorang tauke (pengusaha) karet H Sumito (60) nyaris tewas ditembak kawanan perampok, Jumat (16/11). Penembakan yang mengancam nyawa H Sumitro sekeluarga itu terjadi di kediamannya, Desa Beliti Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas.

Akibat luka tembak yang dideritanya, H Sumito yang juga pengusaha karet ini dirujuk untuk mendapatkan perawatan medis di RS DR Sobirin.

Saat dibincangi Linggau Pos di Ruang Perawatan Cempaka 1.3 RS Dr Sobirin, H Sumito menjelaskan perampokan itu terjadi sekitar pukul 3.30 WIB .

“Saat itu saya bangun untuk Tahajud. Ketika sedang salat kawanan perampok berjumlah delapan orang lompat melalui pagar rumah. Lalu mereka memecahkan jendela bagian depan rumah saya. Padahal rumah sebenarnya sudah dikelilingi pagar tinggi,” jelas Sumito dengan nada lemah.

Mendengar suara kaca jendela yang dipecah, H Sumito melihat ke arah depan rumahnya. Ternyata setelah dilihat ada kelompok pencuri yang berusaha masuk rumahnya. Sebelum masuk rumah, kawanan pencuri tadi menggulingkan lemari es agar dapat membuka pintu.

Tahu aksi nekat itu, kata Sumito, ia langsung mengambil kursi lalu menahan pintu agar kawanan perampok tadi tidak dapat masuk rumah. Namun Sumito sudah tak kuat menahan pintu yang didorong kawanan pelaku. Ia juga mendengar dengan jelas, seorang perampok menyuruh rekannya agar menembak kaki Sumito.

“Mereka menembak kaki bagian kanan saya. Saya benar-benar kaget dan takut. Saya berusaha bersembunyi. Setelah itu saya lemas, dan tidak tahu lagi bagaimana kondisi rumah,” jelas Sumito sembari terbaring lemah.

Sementara di dalam rumah ada istrinya Sainah (40) dan anaknya Miftahul Falah yang baru berumur 3,5 tahun. Kawanan rampok tadi memaksa Sainah mengambil emas yang masih dipakai istrinya sebanyak 24 gram. Lalu mereka meminta Sainah mengeluarkan uang. Sainah sempat ditendang untuk menunjukkan di mana letak uang disimpan.

Dini hari itu juga, uang Rp 50 juta yang baru dititipkan anak Sumito untuk pelunasan mobil juga digasak kawanan perampok bersebo (berpenutup wajah). Uang itu baru diambil anak Sumito dari bank, Kamis (16/11) siang.

“Tiga orang beraksi di dalam rumah. Lima orang menunggu di depan rumah berjaga-jaga. Mereka semua menggunakan empat motor. Untung ada mobil perusahaan yang lewat kalau tidak semua habis,” ungkap Sumito lagi.

Musibah ini menjadikan H Sumito menanggung kerugian sekira Rp 65 juta.

Sumito kembali mengungkapkan kejadian ini bukan yang pertama dialaminya.

“Tahun 1999 lalu, saya juga pernah dirampok. Namun kawanan itu tidak berhasil. Lalu tahun 2003, kawanan perampok kembali mengusik keluarga kami. Sampai–sampai istri saya meninggal karena ulah perampok saat itu. Lalu saya menikah lagi. Dan mengalami kejadian serupa tahun 2017. Bersyukur istri dan anak saya tidak apa-apa,” kata Sumito.

Mendengar kabar kejadian ini, Pengamat Hukum DR Febrian mengaku amat menyayangkan.

“Artinya daerah ini sudah nggak aman. Memang peredaran senjata api kian mengkhawatirkan. Apalagi sampai pernah ada korban jiwa. Ini artinya dari aparat belum ada upaya untuk memperketat pengawasan di desa tersebut,” kata DR Febrian.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) itu menilai, bisa jadi penindakan terhadap aksi kriminalitas di desa-desa belum menimbulkan efek jera.

“Apalagi satu orang sudah tiga kali dirampok. Ini artinya tidak ada pengawasan sama sekali dari aparat,” kata Febrian.

Ia juga berharap, masalah senjata api bisa diberantas dengan maksimal.

“Senjata api itu semakin merajalela, membahayakan banyak orang. Jadi memang kita semua harus punya kesadaran hukum tinggi. Kepemilikan senjata api rakitan itu untuk sipil dilarang. Bahkan ancaman hukumannya berat. Maka, masyarakat di daerah kalau punya senjata api, serahkan saja ke aparat. Daripada berujung masuk bui,” tegasnya memperingatkan. (19/05)

Komentar

Rekomendasi Berita