oleh

Penting Analisa Sang Tabib

Kata Ust. H. Moh. Atiq Fahmi, Lc

MERUNUT peristiwa yang dialami ibu rumah tangga berinisial AK (25), H. Moh. Atiq Fahmi, Lc berpendapat, pengobatan yang tidak logis itu, sebenarnya boleh-boleh saja. Karena di dalam Islam sesuatu hal yang di luar kategori logika, ada istilah yang namanya karomah. Muncul dari tangan-tangan Waliyullah.

Kedua, ada yang nyamannya Maunah ini muncul dari orang-orang yang memiliki wirid atau amalan tertentu yang bersesuaian dengan syariah. Seperti rukiyah.

“Ada lagi istidraj ini biasanya keluar atau muncul dari tangan-tangan orang-orang yang ritual-ritualnya itu tidak sesuai dengan syariat Islam. Entah apa namanya, artinya tidak sesuai dengan syariat Islam,” jelas H Moh Atiq Fahmi mengawali analisanya, Kamis (7/12).

Sebelum kita berobat, sarannya, sudah jadi satu kewajiban bagi pesakit atau keluarganya untuk mengenal terlebih dahulu dengan baik, siapa tabib yang akan didatangi.

“Mengenal dalam artian, tata cara pengobatannya, terus sesuai dengan syariat atau tidak, orang yang bisa dipercaya atau tidak, sama seperti halnya ketika kita akan mengonsultasikan masalah keluarga. Artinya orang ini amanah atau tidak dalam menyimpan masalah kita,” terangnya.

Hal inilah, lanjut Ust Fahmi, yang kerap jadi kesalahan bagi para pesakit.

“Jarang sekali orang melakukan analisa ini. Lebih-lebih lagi kesalahan terbesarnya adalah, hilangnya kesadaran bahwasanya para tabib itu hanyalah saluran-saluran pertolongan Allah SWT. Nah, ketika pesakit tidak menganalisa, dan lupa bahwasanya mereka sekadar perantara Allah SWT, akhirnya timbullah kebodohan. Yang didorong keinginan untuk sembuh yang tidak terkendali sehingga lalai dan lupa,” jelasnya.

Inilah, menurutnya pentingnya makna iman, terhadap qoda dan qodarnya Allah SWT.

“Ketika ada poin ini (iman pada qodo dan qodarnya Allah SWT,red) dalam hatinya. Ketika sang tabib meminta sesuatu hal yang di luar syariat, masuk akal atau tidak, ia pasti akan menolaknya. Atau paling tidak dia konsultasi lebih dulu dengan orang yang bijak. Tidak semena-mena menyetujui. Tapi ketika iman tidak ada. Semuanya jadi hancur,” jelasnya lagi.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita