oleh

Pengguna Formalin Hanya Ditegur

LINGGAU POS ONLINE, PASAR PEMIRI – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kota Lubuklinggau, bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau kembali mengambil sampel makanan jadi di beberapa pasar tradisional. Hal ini untuk mengantisipasi beredarnya Makanan dan Minuman (Makmin) yang mengandung formalin, boraks atau zat berbahaya lainnya.

Pengawasan dengan mengambil sampel Makmin kerap dilakukan Disdagrin dan Dinkes Kota Lubuklinggau, bahkan menjadi agenda bulanan. Jika terbukti pelaku usaha menjual Makmin menggunakan formalin, maka dapat diproses secara hukum. Hal ini mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dan pelanggaran terhadap kesehatan konsumen dapat dikenakan hukuman maksimal 5 tahun kurungan berikut denda hingga Rp 2 miliar.

Kepala Disdagrin Kota Lubuklinggau, H M Hidayat Zaini mengatakan kepada wartawan Linggau Pos, Rabu (4/7) mengaku hingga saat ini belum ada pelaku usaha yang diproses secara hukum. Kalaupun ada temuan tim, sanksi yang diberikan bertahap, yakni teguran pertama, kedua, dan ketiga. Selanjutnya, rekomendasi pencabutan izin, jika tidak ada perubahan baru proses hukum.

“Selama ini hanya batas teguran, karena pelaku usaha yang bandel memiliki itikad untuk berubah, dan tidak menggunakan formalin lagi,” tambah Hidayat Zaini.

Ada beberapa pasar tradisional yang rutin dilakukan pengambilan sampel. Yakni, Pasar Inpres, Pasar Bukit Sulap, dan Pasar Moneng Sepati. Sampel makanan yang diambil, diantaranya pentol bakso, mi basah, tahu, dan ikan asin. Kesemua jenis makanan tersebut berpotensi besar mengandung formalin, atau boraks.

Saat pengambilan sampel tim sudah bisa melakukan uji kandungan formalin menggunakan test kit atau alat uji cepat. Namun, untuk keakuratan hasil tetap dibawa ke Laboratorium Daerah Kota Lubuklinggau.

Diakui Hidayat Zaini, saat uji cepat tidak ditemukan Makmin yang mengandung formalin.

“Kita tunggu hasil laboratorium satu minggu kedepan,” ungkap Hidayat Zaini.

Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Idris Tanjung mengaku selain Makmin di pasar tradisional pihaknya juga mengambil sampel jajanan di sekolah. Karena jajanan di sekolah diduga banyak mengandung zat pewarna.

“Karena sekolah masih libur, kami ambil sampel Makmin di pasar,” kata Idris.(07)

Rekomendasi Berita