oleh

Pengeringan Irigasi Bertahap, Petani Diharapkan Manfaatkan Jeda Secara Maksimal

LINGGAUPOS.CO.ID – Pengeringan Daerah Irigasi (D.I) Kelingi Tugumulyo, yang akan dilakukan menggunakan sistem buka tutup dengan jeda pengeringan, masyarakat khususnya petani dan pembudidaya ikan yang bakal terdampak diminta untuk memaksimalkan waktu jeda pengeringan. Sehingga dapat meminimalisir kerugian.

Asisten I Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Musi Rawas, H Aidil Rusman menjelaskan berdasarkan hasil koordinasi akhir bersama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII, bahwa jadwal pengeringan sudah disusun dan dikoordinasikan ke Pemkab Mura dan OPD. Dimana pengeringan akan dilakukan dengan sistem buka tutup.

“Hasil koordinasi akhir dengan BBWS Sumatera VIII, mereka sudah menyusun jadwal pengeringan. Jadwal itu juga sudah disampaikan ke Pemkab Mura dan juga OPD. Mereka menggunakan sistem buka tutup dalam pengeringan D.I Kelingi Tugumulyo,” kata H Aidil.

Dijelaskannya, pengeringan akan di mulai pada 1 September hingga 31 Desember 2021. Kemudian dari 1 Januari hingga 30 April 2022 akan dibuka kembali, dan 1 Mei sampai November 2022 ditutup atau dikeringkan kembali. Dengan total pengeringan selama 10 bulan.

“Kami sudah koordinasikan ke OPD terkait dan disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga jadwal yang sudah disusun itu tentunya akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat. Jadi masyarakat harus pintas memanfaatkan waktu jeda itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskannya, Pemkab Musi Rawas melalui OPD juga terus melakukan sosialisasi kepada mayarakat, terlebih BBWS Sumatera VIII sudah mulai melakukan tender kegiatan. Hanya saja, informasi di lapangan, saat ini masyarakat sudah mulai melakukan masa tanam kedua, karena masih memungkinkan sampai dengan 1 September 2021.

“Alhamdulillah petani kita sudah mulai tanam kedua. Kemudian di 1 Januari 2021 juga akan dimanfaatkan petani untuk masa tanam, sebelum empat bulan kemudian mulai pengeringan kembali. Mudah-mudahan jadwal ini efektif tidak begitu menganggu aktivitas para petani untuk tanam padi dan budidaya ikan,” jelasnya.

Sementara itu salah seorang pembudidaya ikan, Asri mengaku sangat tidak setuju, jika sampai ada pengeringan. “Harusnya cari solusi lain, tampa pengeringan,” katanya.

Senada dikatakan pembudidaya lainnya, Riduan mengatakan sebenarnya tidak bisa menolak kalau pemerintah akan lakukan pengeringan total.

Dia mengaku, secara resmi belum menerima surat edaran terkait adanya pengeringan total khususnya irigasi induk Sungai Kelingi.

“Tapi saat ini belum ada sosialisasi, kami berharap segera ada sosialisasi, kami tidak bisa juga menolak kalau ada renovasi total,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, yang jelas pihak pembudidaya ikan yang paling terdampak. “Bayangkan jika pengeringan empat bulan, maka mulai budi daya ikan setelah empat bulan itu, tiga bulan pertama mulai pemijahan. Tiga bulan berikutnya baru bisa panen. Artinya hampir setahun baru bisa panen,” jelasnya.(*)

Rekomendasi Berita