oleh

Pendamping H2G di Pilkada Musi Rawas Menjadi Misteri

LINGGAUPOS.CO.ID- Pilkada Musi Rawas (Mura) 2020, akan digelar pada 9 Desember 2020 mendatang. Namun, perbincangan terkait siapa yang akan mendampingi Bupati Petahana, H Hendra Gunawan (H2G) untuk menjadi wakilnya, belum dipastikan.

Sementara di lapangan, ada beberapa nama yang digadang-gadang bakal mendampingi H2G berkontestasi di Pilkada Mura 2020 ini.

Sebut saja, Wabup Petahana, Hj Suwarti, Manajer KSP Rias, H Mulyana, Ketua Muhammadiyah Mura, H Triono, hingga Mantan Anggota DPD RI periode 2014-2019 daerah pemilihan (dapil) Mura-Lubuklinggau-Muratara (MLM), Siska Marleni.

Direktur Eksekutif, Indonesia Riset Global (IRG), sekaligus Pengamat Politik di Kabupaten Mura, Mukhlis Muhammad Isa mengatakan, untuk saat ini, yang berpotensi mendampingi H2G secara politik, masih Hj Suwarti yang kapasitasnya juga sebagai Wabup Petahana.

Di sisi lain juga, menurut Mukhlis, politisi Partai Gerindra tersebut memiliki lima kursi di parlemen DPRD Mura. Tentunya, memiliki kebijakan dalam setiap keputusan-keputusan eksekutif untuk saat ini. Hal tersebut, merupakan nilai tawar dan daya jual secara elektoral yang patut diperhitungkan oleh H2G.

Meski demikian, lanjut dia, bukan berarti kandidat lain tidak memiliki potensi. Sebab, bila akumulasi yang tetap secara langkah politik, etnis, kesukuan dan isu kedaerahan di masa pilkada pun, harus menjadi acuan dalam meraih kemenangan.

“Hak prerogatif dalam memilih seorang wakil tetap ada pada H2G. Pilihan lain, masih banyak, ada H Triono, H Mulyana, hingga Siska Marleni pun, tetap berpeluang. Tapi satu hal, sebagai seorang birokrat ulung dan politisi, H2G pasti memiliki perhitungan matang secara politis, kita tunggu saja,” ujar Mukhlis.

Lain Mukhlis, lain pula pandangan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Musi Rawas (Unmura), M Fadhillah Harnawansyah. Menurut Fadhil (sapaan akrab M Fadhillah Harnawansyah, red), menakar pendamping H2G di Pilkada Mura 2020, sangat bersifat hitungan matematis.

Sebab, Fadhil beranggapan, peluang akhir dari peta politik sangat tergantung dari dukungan partai politik (parpol) nantinya. “Pasangan H2G, sangat tergantung dari kondisi akhir dukungan parpol. Namun, kondisi ini sangat mengerucut pada kesiapan calon pasangan beliau (H2G), baik dari sisi politiknya maupun sisi logistik” jelas Fadhil.

Saat disinggung mengenai peluang beberapa nama tadi, Fadhil menilai, semuanya masih berpeluang, tergantung situasi akhir politik nanti, setelah dukungan parpol mencapai final. “Namun, kriteria secara politis dan logistik sangat menentukan dan menjadi hitungan dalam menentukan pasangan H2G,” ujar Fadhil.

Terpisah, Periset dari Rafflesia Riset Parameter Universitas Bengkulu, Kurniawan Eka Saputra atau yang lebih akrab disapa Eka Rahman menjabarkan, rekomendasi parpol kepada H2G sangat menarik. Sebab, sambung Eka Rahman,  hampir semua rekomendasi diberikan kepada H2G, tanpa menyebutkan pasangan H2G atau bakal cawabupnya.

“Artinya, petahana seolah diberi ‘cek kosong’ untuk memilih siapa figur yang dianggap layak untuk mendampingi dia melawan pesaing politiknya kelak, berdasarkan pertimbangan politik. Beberapa rekomendasi parpol yang sudah keluar seperti PKS, Nasdem, Hanura, Demokrat dan lainnya, jika disimak tidak secara letter lecht mensyaratkan dengan siapa harus berpasangan untuk mendapat rekomendasi parpol,” jabar Eka.

Dibelakang panggung, lanjut dia, pasti terjadi komunikasi dan bargaining politik untuk menawarkan kader parpol tertentu sebagai pasangan H2G. Misalkan, sebut Eka, Ustaz Supandi dari PKS atau Wahyu Sumadi dari PAN.

Namun, menurut dia, secara legal terlihat bargaining position H2G masih tinggi. Sehingga, hal tesebut tidak tertuang dalam rekomendasi parpol. Pada titik inilah, kata Eka, kemudian muncul bakal cawabup non parpol yang digadang-gadang, seperti H Mulyana, H Suparto Ujang maupun Sekwan DPRD Mura, Amir Hamzah.

Lalu ada realitas politik hari ini bahwa pasca tidak lolos bakal paslon perseorangan Akmaludin – Triono dalam kontestasi pilkada Mura 2020. Praktis tidak ada lagi figur paslon yang dianggap ‘serius’ sebagai challenge’ petahana. Meski beberapa besar seperti PDIP, Golkar, PKB maupun Gerindra belum memastikan sikapnya. Namun praktis terjadi kekosongan figur bakal paslon penantang.

Belum terkabar bagaimana komunikasi politik dan embrio koalisi Partai Golkar, Partai Gerindra dan PKB yang sempat mencuat beberapa waktu lalu. Ketidakjelasan bakal calon lawan inilah, yang menurut Eka, menjadi faktor penyebab belum bersikapnya petahana H2G memilih siapa bakal calon pendampingnya.

Eka mengatakan, H2G punya banyak alternatif pilihan bakal cawabup dan hampir banyak figur mengharap untuk digandeng. Tergantung, siapa paslon lawannya kelak. Dalam situasi seperti ini, normal dan tidak salah kemudian jika ada beberapa pihak yang memprediksi pilkada Mura 2020, berpotensi calon tunggal melawan kotak kosong.

Namun, dari kalkulasi saat ini, kata dia, jika ditanya siapa yang berpeluang ‘digaet’ H2G, “Maka feeling saya, H Mulyana kemungkinan memiliki potensi paling besar dari figur yang ada. Indicatornya adalah, pergerakan politik yang dilakukannya beberapa waktu terakhir pasti merupakan tindak lanjut dari komunikasi politik dan komitmen,” ujar Eka Rahman.

Tentu, menurut dia, pergerakan itu terjadi setelah ada sinyal dari bakal calon bupati, dan hari ini bakal calon bupati yang jelas hanya H2G.

“Itu analisis saat ini, tetapi politik kadang memberikan kejutan diluar yang diprediksi. Bisa jadi, ada skenario lain disisa waktu tersisa sampai 4 september 2020 atau penetapan calon. Jadi, siapa yang tahu?,” pungkasnya.(*)

Sumber Musirawas Ekspres

Rekomendasi Berita