oleh

Penarikan Retribusi 24 Jam

LINGGAU POS ONLINE, WATAS – Mulai Selasa, 10 April 2018 Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Lubuklinggau mulai memberlakukan penarikan retribusi selama 24 jam di Terminal Watas. Tepatnya di Kelurahan Watas Lubuk Durian, Kecamatan Lubuklinggau Barat I.

Koordinator Dishub Terminal Watas Kota Lubuklinggau, Davit Harianto penarikan sudah berjalan dan siap dilaksanakan sebagaimana mestinya.

“Penarikan sudah kita laksanakan sekarang, mulai hari ini berlaku di Terminal Watas, untuk tarif masih sama kendaraan roda empat jenis Fuso dengan tarif Rp 5.000, truk Rp 2.000, Pick Up kosong Rp 500,” kata Davit Harianto saat ditemui di Terminal Watas, kemarin.

Menurut Davit, sebelum diberlakukan penarikan retribusi 24 jam, ada 70 hingga 100 kendaraan per hari di terminal Watas.

“Memang di sini agak kurang, karena hanya satu provinsi beda dengan di Terminal Petanang, tapi dengan diberlakukan selama 24 jam semoga dapat meningkatkan PAD Kota Lubuklinggau,” ungkapnya.

Sistem penyetoran uang retribusi kepada Pemkot (BKD) melalui nomor seri,  sesuai aturan karcis yang terjual.

“Kami di sini seluruhnya 13 orang petugas dengan  3 shif, kalau penyetoran secara melalui bank,” jelasnya.

Disinggung mengenai bila tidak mencapai target dirinya beranggapan target tidak dapat ditentukan karena mempunyai beberapa kendala seperti kondisi hujan dan hari libur.

“Kita diberikan penjelasan mengenai itu, seperti tanah longsor. Jadi kewajaran tidak mencapai target karena beberapa faktor,” jelasnya.

Sementara Kepala Badan Keuangan Daerah melalui Kepala Bidang Pendataan, M Soha menyampaikan mengenai penyetoran retribusi terminal semua kembali kepada Kas Daerah (Kasda).

“Kalau kita hanya melakukan percetakan kebutuhan karcis dari  Dishub, tergantung permintaan dari Dishub. Kalau selama ini per tahun keseluruhan terminal mencapai 1500 blok. Uang ditransfer ke Kasda teknis di Dishub kita selaku pencetak karcis saja,” katanya.

Program penarikan retribusi 24 jam itu di Terminal Watas itu juga akan dievaluasi.

Sebenarnya, pendapatan tertinggi untuk hasil penarikan retribusi memang masih didominasi dari Terminal Petanang. Namun saat ini sudah kembali ke Provinsi Sumsel.

“Meski begitu, Terminal Watas juga potensial. Pertama di sana merupakan jalur transit yang setiap hari mobil melewati jalan tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya menerangkan mengenai sistem evaluasi pencapaian target PAD dari retribusi semua kembali ke dinas terkait.

Kadishub Kota Lubuklinggau, Abu Ja’at menambahkan, besar pengharapannya dengan penarikan retribusi Terminal Watas dilakukan 24 jam, akan meningkatkan Penerimaan Asli Daerah (PAD)

“Kebijakan ini sudah diputuskan melalui rapat. Antara Dishub, Kepolisian, Pol PP dan Bagian Hukum. Pertimbangannya, karena Lubuklinggau belum ada penghasilan dari terminal. Terlebih di jalur Terminal Watas ini ramainya justru malam. Baik mobil dari Lubuklinggau ke Bengkulu, maupun sebaliknya. Jadi kami nilai ini potensial,” jelasnya.

Meski begitu, uji coba penarikan retribusi 24 jam ini akan terus dievaluasi. Agar PAD untuk Kota Lubuklinggau terus meningkat, salah satunya dari penarikan retribusi Terminal Watas. (11/02)

Rekomendasi Berita