oleh

Pemilik dan Penyewa Kompak Minta Ganti Rugi

Pasca Gran Max Tabrak Toko di Mayor Toha

Jumat (16/2) sekitar pukul 11.00 WIB, mobil Gran Max nomor polisi BH 1744 HE menabrak warung makan di Jalan Mayor Toha, Kelurahan Majapahit, Kecamatan Lubuklinggau Timur I. Bagaimana kelanjutan peristiwa ini.

Laporan Hendy Renaldy, Air Kuti

RUKO milik Hermanto (45) yang disewa oleh Mitra Linda (36) untuk usaha penjualan Nasi Padang itu masih rusak berantakan. Sabtu (17/2), Linggau Pos sempat menyambangi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Penyewa toko milik Hermanto ini, yaitu Linda sapaan Mitra Linda tidak bisa berjualan karena banyak perlengkapan dagangnya yang rusak dan pecah.

“Idak berjualan, bagaimana mau berjualan kalau segala perlengkapan banyak yang rusak,” kata Linda, kemarin.

Wanita berdarah Minang asal Solok itu menjelaskan, dirinya bertahan hidup dengan cara berjualan nasi bersama dengan ketiga putrinya yang saat ini masih belajar di SD, SMP dan SMA karena suaminya telah meninggal dunia.

“Aku bertahan hidup dengan cara jualan nasi, es campur dengan jamu inilah. Sebab, aku seorang janda, suami aku sudah meninggal, jadi kalau idak berjualan bagaimana kami hidup, selain itu di sini juga tempat tinggal kami,” jelas Linda.

Maka dari itu dirinya meminta ganti rugi kepada sopir mobil yang menabrak jualannya. Lebih kurang Rp 20 Juta. Sebab banyak barang yang rusak atau pecah, diantaranya gerobak es, lemari kaca pecah, kulkas rusak, kipas angin belum lagi perabot rumah tangga seperti baskom dan lain-lain.

“Serta, jualan baik sayur, lauk maupun nasi yang dijual tidak bisa dijual karena semuanya hancur dan rusak akibat ditabrak,” ucapnya.

Ibu tiga anak ini kembali menjelaskan, dirinya hampir lima tahun mengontrak di ruko milik Hermanto dan dalam satu tahunnya menyewa seharga Rp 7,5 juta. Saat ini ruko yang ia tempati hancur tidak bisa dihuni, dan pemilik ruko memberikan toleransi yakni pindah ke ruko sebelah, untungnya ruko sebelah dalam keadaan kosong.

“Tapi aku tidak bisa jualan, karena banyak yang rusak barang aku. Biasanya per hari dari hasil jualan nasi mendapatkan hasil Rp 500 ribu, jamu Rp 300 ribu dan Es Rp 200 ribu, namun saat itu tidak mungkin,” ucapnya.

Apakah sopir ataupun keluarganya sudah menemui ataupun silaturahmi kepadanya?

“Kalau sampai sekarang lum, tapi kalau ke tempat Pak RT sudah. Pastinya aku minta ganti rugi atau ganti semua barang aku, kalau tidak aku akan tuntut,” tegasnya.

Sementara itu, Ros (49) istri Hermanto pemilik ruko saat ditemui mengatakan bahwa, dirinya membangun ruko itu sudah enam tahun dengan jumlah empat pintu.

“Aku hampir enam bulan bangun ruko itu. Tapi sekarang satu pintu hancur. Pastinya aku cuma minta agar bangunan ruko dibangun kembali setelah ditabrak, atau ganti rugi sekitar Rp 12 juta,” kata Ros.
Sebab kalau jaman sekarang, kata Ros, tahu sendiri serba mahal, baik pasir, bata, semen apalagi ruko itu sudah ada rooling doornya.

“Tapi, walau bagaimanapun ini musibah bukan keinginan kita. Memang sopir ataupun keluarganya belum datang ke rumah untuk silaturahmi dan berbincang masalah ini. Hanya saja informasi dari Pak RT sudah melakukan pertemuan. Tapi aku dengar dari menantu aku, keluarga sopir ingin mengobati korban di rumah sakit dulu setelah itu baru akan membicarakan mengenai kerusakan,” tutupnya.(*)

Rekomendasi Berita