oleh

Pembunuh Guru SMPN 12 Disidang

LINGGAU POS ONLINE – Kasus perkara pembunuhan guru SMPN 12 Lubuklinggau, Rozalina (36) dimulai, Selasa (6/8). Terdakwa yang tak lain suaminya sendiri, Sudirman (36), mengikuti sidang di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau pukul 13.30 WIB.

Kali ini, sidang yang digelar Jaksa Penuntut Umum (JPU) dilaksanakan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau, Hj Zairida SH M.Hum yang didampingi JPU Sumar Hetri SH.

Adapun dalam agenda persidangan, diinformasikan dari JPU Sumar Hetri, sidang yang berlangsung merupakan sidang mendengarkan keterangan tujuh saksi. Diantaranya anak dan ibu kandung korban.

Dalam persidangan yang berlangsung dipimpin oleh Majelis Hakim Mimi Haryani SH didampingi Anggota Hakim Indra Lesmana Karim SH dan Yuliana SH dengan Panitera Pengganti (PP) Ahmad Irfansyah SH.

Pada persidangan tampak hadir beberapa kerabat dari korban maupun terdakwa. Terdakwa Sudirman hanya bisa duduk tertunduk sambil didampingi Kuasa Hukum Darmasyah SH dari Posbakum.

Pada persidangan sebelumnya, JPU mendakwa Sudirman dengan pasal berlapis, diantaranya Pasal 340 KUHPidana, 338 KUHPidana, 44 ayat (3) Undang-Undang (UU) No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Kronologis pembunuhan sesuai dakwaan JPU, Rabu 6 Maret 2019 sekitar pukul 11.00 WIB, korban Rozalina pulang mengantar ibunya Hj Zainab usai berobat di Rumah Sakit AR Bunda mengendarai sepeda motor. Sementara Sudirman, menjaga warung.

Rozalina langsung menghampiri terdakwa di warung. Kemudian korban meminta uang untuk membeli tas untuk anaknya Rahmad. Terdakwa hanya menjawab, tunggu gajian.

Namun korban mengatakan, kalau untuk keperluan sendiri ada, namun jika diminta uang tidak ada.
“Daripada makan hati lebih baik ke Pengadilan,” jawab terdakwa.
“ Pergilah sendiri (ke Pengadilan, red),” saut korban lagi.

Setelah itu korban masuk ke dalam rumah. Sementara terdakwa masih di warung.

Kemudian terdakwa menghampiri korban untuk memintanya agar ia menunggu warung, karena terdakwa mau salat. Akan tetapi, korban mengungkit kembali permasalahan sehingga keduanya kembali terlibat adu cekcok.

Terdakwa mengatakan agar membeli tas menggunakan uang korban dulu, nanti akan diganti. Tapi dijawab korban, pakai uang terdakwa saja. Mendengarkan jawaban itu, terdakwa pun tersinggung dan mengajak ke Pengadilan Agama.

Namun korban langsung masuk ke rumah. Terdakwa kemudian menutup warung, selanjutnya mengambil kunci mobil. Sudirman langsung berjalan menuju mobil hendak pergi. Ketika di dalam mobil, korban menyusul dan melarang tersangka membawa mobil.

Terdakwa saat itu mengatakan, mobil korban juga mobil miliknya, karena korban jadi PNS atas perjuangannya. Namun dijawab korban, punya istri punya istri, punya suami punya suami.

Tak dihiraukan, kemudian Sudirman pergi mengendarai mobil menuju kantor Lurah. Baru 10 menit di kantor lurah, ia mendapatkan pesan WhatsApp (WA), yang isinya “Dak be malu, bawak mobil wong, bawa harto idak, bawak (xxx…) bae”.

Kemudian terdakwa pun langsung pulang, dan ia langsung menuju ke kamar. Di dalam kamar ia melempar kunci mobil, kepada korban yang tidur membelakangi tersangka.

Serta meminta korban membuat surat pernyataan bahwa tidak senang lagi dengan terdakwa. Namun ditolak korban, dengan alasan cukup terdakwa pergi, nanti cerai dengan sendirinya.

Namun terdakwa yang tetap kukuh, dengan alasan tanpa ada surat pernyataan ia tidak enak dengan keluarga. Selain itu, korban diajak ke pengadilan tidak mau, diminta surat pernyataan tidak mau.

Terdakwa kemudian membalikkan tubuh korban yang menghadap dinding, namun korban menendangnya. Bersamaan itu, tersangka melihat ada pisau di atas kasur dekat tubuh korban.

Terdakwa yang saat itu melihat pisau di samping buku langsung mengambilnya, kemudian menusuk satu kali di bagian perut. Tak hanya itu, terdakwa yang sudah ‘gelap mata’ langsung menusukkan kembali, namun korban langsung menahan dengan tangan kanan.

Membuat telapak tangan korban tersayat pisau. Akan tetapi karena kalah kekuatan, korban pun menerima tusukan yang kedua kalinya dan pisau tersebut ditancapkan di atas perut sebelah kanan korban.

Usai menusuk istrinya, Sudirman bergegas keluar kamar. Kemudian disusul korban Rozalina yang meminta bantuan dengan ibunya.

”Mak aku dituja lakiku” kata korban saat itu. Ibunya yang melihat korban langsung berteriak minta tolong.

Warga yang mendengar dan telah mengetahui adanya keributan sempat hendak menangkap Sudirman, namun Sudirman, mengancam kepada seluruh saksi untuk melepaskannya.

“Bukan urusan mu, kamu berempat mengganggu saya, maka hidup kalian tidak akan selamat.”

Kemudian keempat saksi yang tidak berani langsung melepaskan terdakwa, kemudian ia pun melarikan diri menggunakan sepeda motor miliknya.

Seusai pembacaan dakwaan, Ketua Majelis Hakim mempertanyakan kronologis kejadian terhadap terdakwa, kemudian, terdakwa pun membenarkan atas kejadian tersebut.(yan)

Rekomendasi Berita