oleh

Pembunuh Divonis 17 Tahun Bui

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Petani karet bernama Roni Pasalah (22) divonis 17 tahun penjara, karena melakukan pembunuhan berencana terhadap Waluyo. Demikian terungkap dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Senin(15/10).

Roni warga Desa Pulau Panggung Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas (Mura), menurut majelis hakim melanggar pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 KUHP.

Vonis dijatuhkan Majelis Hakim diketuai Andi Barkan SH, MH didampingi Hakim Anggota Indra Lesmana SH dan Syahreza Papelma SH MH, dengan Panitera Pengganti Rahmad Wahyudi SH.

Adapun pertimbangan majelis hakim yang memberatkan. Perbuatan terpidana, mengakibatkan keluarga korban menderita. Serta tidak ada proses perdamaian antara terpidana dan pihak korban. Sedangkan, hal yang meringankan, terpidana mengakui dan menyesali perbuatannya. Terpidana belum pernah dihukum, dan masih cukup muda untuk bisa memperbaiki dirinya.

Putusan majelis hakim ini, lebih rendah dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yuniar SH, selama 20 tahun. Setelah Majelis Hakim selesai membacakan putusannya, terpidana menerima putusan tersebut, begitu juga dengan JPU Yuniar.

Dalam sidang sebelumnya, terungkap perbuatan terpidana, Senin 12 Maret 2018, pukul 10.WIB, saat Roni hendak pergi bekerja bertemu dengan korban Waluyo. Lalu Waluyo berkata dengan Roni “Nga bukan ngambek getah karet aku” lalu Roni menjawab “Aku idak ngambek getah karet kau”. Karena tidak senang dengan tuduhan korban, timbul niat terpidana untuk menghabisi nyawa Waluyo.

Kamis, 15 Maret 2018, pukul 09.00 WIB terpidana berangkat dari rumah menuju kebun karet milik Waluyo. Setibanya di kebun karet Waluyo, terpidana melihat korban sedang menyadap karet.

Lalu terpidana mengeluarkan sebilah pisau dari pinggang sebelah kiri, yang sudah dibawa terpidana dari rumah. Kemudian terpidana mendekati korban dan langsung menusuk dada kanan Waluyo sambil berkata “Mati kau Waluyo”. Setelah menusuk korban, terpidana langsung pergi dan membuang pisau miliknya di kebun karet.

Kemudian Khoirul Hasaini, anak korban mendatangi kebun karet tempat korban menyadap karet. Ia melihat ayahnya bersimbah darah, dengan posisi sujud mencium tanah dan sudah tidak bernyawa lagi. (cw1)

Rekomendasi Berita