oleh

Peluncuran Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau Berbasis ICT

LINGGAU POS ONLINE – Senin (16/9/2019) momen mengenang 23 tahun Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau. Bersamaan dengan itu, dilakukan Peluncuran Pesantren Al-Azhaar yang telah berbasis ICT (Information and Communication Technologies).

Momen itu dihadiri Perwakilan Pemkot Lubuklinggau H Dian Chandra dan Kgs Effendi Fery, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Lubuklinggau H Azhari Rahardi, Kasi Pendidikan Madrasah Habibullah Angkasa, Kasi Pakis Muslim, Dandim 0406 MLM Letkol Inf. A’an Setiawan, Wakapolres Lubuklinggau Kompol Zulkarnain, Camat Lubuklinggau Barat I Fahrizal, ratusan santri Pondok Pesantren Al-Azhaar dan ratusan mahasiswa S1 maupun S2 IAI Al-Azhaar Lubuklinggau.

Kegiatan yang terpusat di halaman Pondok Pesantren Al-Azhaar itu jadi momen bersejarah bagi lembaga yang bernaung dibawah Yayasan Permata Nusantara Al-Azhaar tersebut.

Ketua Yayasan Permata Nusantara Al-Azhaar, Dr KH Ahmad Mansur menjelaskan, Pondok Pesantren Al-Azhaar menjadi pesantren berbasis ICT telah dimulai sejak tahun 2017. Namun prosesnya masih trial and error.

“Hal itu terjadi karena SDM-nya belum siap. Selain itu, aplikasi yang kami gunakan sering terjadi kendala sehingga sulit untuk adaptasi dengan aplikasi itu. Kami banyak belajar dari proses trial and error selama 3 tahun itu. Akhirnya, sekarang transaksi santri, pengiriman uang dari wali ke pondok dan sistem penggajian guru sudah berbasis ICT,” jelas Ahmad Mansur.

Jadi, Ahmad Mansur memastikan mulai Tahun Ajaran 2019/2020 Pesantren Al-Azhaar sudah berbasis ICT.

“Jadi mulai dari guru absen, pembelajaran 24 jam tidak lagi terkotak dengan kegiatan formal. Termasuk pembelajaran olahraga, kesenian dan semuanya sudah masuk ke sistem. Sehingga siapa guru yang mengabsen langsung terhubung dengan payrol gaji. Semua aplikasi ini kami buat sendiri dengan SDM yang ada dalam proses tiga tahun tadi,” imbuhnya.

Dengan berbasis ICT ini, Pondok Pesantren Al-Azhaar juga bisa mengatasi beberapa masalah yang kerap terjadi di pondok.

Pertama, selama ini sering terjadi keluhan kehilangan uang dari para santri. Ada juga santri yang kalau pas lauknya enak, ambil makannya lebih dari dua bahkan tiga kali. Terkadang ada juga santri yang ogah-ogahan salat jemaah.

Sehingga, daripada menimbulkan konflik maka penting untuk segera diatasi.

“Akhirnya kami kembangkan santri ngga boleh bawa uang cash. Tapi pakai ID Card. Jadi dari ID Card itu, santri bisa belanja di NU Mart Al-Azhaar, termasuk bayar SPP, absen kehadiran, absen makan, maupun absen salat berjemaah di masjid. Dengan begitu, proses pengawasan terhadap santri lebih maksimal. Jadi dari satu ID Card itu, santri bisa melakukan apapun untuk kesehariannya di pondok,” imbuhnya.

Lantas bagaimana jika wali santri mau kirim uang?

“Ya pakai virtual account. Jadi uang yang dikirim orang tua, masuk ke tabungan santri. Yang secara langsung terkoneksi dengan ID Card santri. Sehingga manajemen keuangan santri lebih baik dan tertata. Soal pengawasan dari sekolah, dilakukan dengan satu aplikasi yang bernama Ubequ,” imbuh Ustadz Mansur.

Ia berharap, dengan Pondok Pesantren Al-Azhaar berbasis ICT, bisa memudahkan setiap kegiatan santri, sehingga lebih fokus pada program menimba ilmu tanpa harus terganggu dengan masalah terkait keuangan maupun administrasi. (*)

Laporan: Sulis

Rekomendasi Berita