oleh

Pelestarian Aksara Ulu Banyak Kendala

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Anda mengenal Aksara Ulu? Dari berbagai sumber yang dihimpun Linggau Pos, Aksara Ulu atau Kaganga merupakan kekayaan budaya yang tumbuh sejak abad ke-12 Masehi dan berkembang pesat pada abad ke-17-19 Masehi. Tulisan itu banyak digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, ilmu kedokteran, petuah, dan kearifan lokal lain.

Aksara itu disebut ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di hulu sungai di pedalaman. Para peneliti asing kerap menyebutnya Kaganga karena pedoman aksaranya menggunakan huruf ka, ga, nga, dan seterusnya. Aksara ini memiliki 19 huruf tunggal dan delapan huruf pasangan. Huruf-huruf ditulis dengan ditarik ke kanan atas sampai sekitar 45 derajat.

Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau, DR Rusmana Dewi mengatakan, upaya pelestariannya di Kota Lubuklinggau, saat ini baru mau tahapan mengenalkan Bahasa Aksara Ulu kepada warga Kota Lubuklinggau. Kalau di kampus, baru sebatas mata kuliah saja.

“Yang kami tempuh, untuk memperkenalkannya kepada masyarakat dengan mengintegrasikannya dalam obrolan saat berkumpul dengan rekan-rekan. Kami belum punya tempat khusus untuk membahas ini,” ungkapnya

Ia mengakui mengenalkan Aksara Ulu kepada masyarakat masih banyak kendalanya. Karena sebagian besar masyarakat Lubuklinggau kurang memahami Aksara Ulu tersebut.

“Jadi kami berharap kepada Dinas Pendidikan untuk membuka pintu masuk Aksara Ulu ke dunia pendidikan, melalui kurikulum. Misalnya muatan lokal. Di Lubuklinggau ini yang memakai bahasa Aksara Ulu belum ada. Dapat dikatakan delapan kecamatan di Lubuklinggau ini 90 % tidak mengenal bahasa Aksara Ulu itu,” tegasnya

Meski begitu, DR Rusmana Dewi dengan budayawan lainnya tetap berupaya melestarikan Aksara Ulu. Dengan menuliskan nama-nama jalan di Kota Lubuklinggau ini, supaya masyarakat tahu, dan tidak menghapuskan ciri khas Kota Lubuklinggau,seperti daerah lain-lain. (19)

Komentar

Rekomendasi Berita