oleh

Pelecehan Seksual Anak Laki-laki Sering Diabaikan

INGGRIS – Pelecehan seksual terhadap anak laki-laki hampir tidak diatasi oleh undang-undang di banyak negara. Menurut sebuah studi global yang meneliti undang-undang pemerkosaan anak di 40 negara, menemukan kurang dari setengah yurisdiksi tidak memiliki perlindungan hukum untuk anak laki-laki. Dalam banyak kasus, undang-undang khusus untuk anak perempuan dan tidak mengakui anak laki-laki sebagai korban.

Konsultan untuk Economist Intelligence Unit, Katherine Stewart mengatakan, para peneliti juga mengidentifikasi kecenderungan untuk layanan dukungan, termasuk tempat penampungan dan bantuan hukum, untuk diarahkan pada perempuan dan anak perempuan.

“Seringkali ini digabungkan menjadi masalah kekerasan terhadap perempuan, dan karena itu melayani perempuan dan bukan laki-laki,” kata Katherine, dilansir laman Guardian.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, diperkirakan 18% anak perempuan dan 8% anak laki-laki secara global telah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.

“Pelecehan di antara anak laki-laki dianggap lebih tinggi di beberapa negara, seperti Kenya, di mana penelitian Unicef menemukan bahwa, dua dari setiap 10 pria mengalami pelecehan di masa kecil,” ujarnya.

Para penulis menyarankan, bahwa anak laki-laki harus diberikan alat dan terminologi yang memungkinkan mereka merasa lebih nyaman melaporkan pelecehan atau eksploitasi. Hal itu supaya, stigma sosial, stereotip macho, dan homofobia semuanya berkontribusi terhadap anak laki-laki yang cenderung melaporkan pelecehan.

Laporan tersebut juga memberi peringkat pada negara-negara berdasarkan seberapa baik mereka menghadapi pelecehan dan eksploitasi seksual anak, memperingatkan bahwa menangani pelecehan harus menjadi prioritas global.

“Akses internet yang lebih besar, dikombinasikan dengan pertumbuhan populasi muda di banyak negara, telah meningkatkan jumlah anak yang berisiko. Ketidakstabilan yang meningkat, karena konflik bersenjata atau perubahan iklim juga telah menempatkan anak-anak dalam bahaya yang lebih besar,” jelasnya.

Menurut peringkat, Inggris, Swedia dan Kanada adalah negara yang paling efektif menangani pelecehan. Pakistan, Mesir dan Mozambik berada di peringkat paling bawah.

Di semua negara, para peneliti menemukan data terbatas tentang prevalensi pelecehan dan eksploitasi anak. Hanya setengah dari negara yang menghasilkan atau mendukung data tentang proporsi populasi yang mengalami pelecehan anak.

Hanya lima yang mengumpulkan data tentang eksploitasi seksual anak, suatu bentuk pelecehan di mana seorang anak menerima hadiah, uang, atau kasih sayang sebagai imbalan atas aktivitas seksual.

Laporan tersebut menemukan bahwa Inggris telah meningkatkan pelaporan di antara laki-laki, dengan kasus di Inggris dan Wales naik dari 3.819 pada 2006-07 menjadi 12.130 pada 2016-17. Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran setelah kampanye #MeToo dan kasus-kasus terkenal yang dilaporkan di media, seperti skandal pelecehan seksual anak di sepakbola Inggris.

India disebut-sebut memiliki kerangka hukum terbaik untuk melindungi korban, sebagian karena Undang-Undang Perlindungan Anak dari Pelanggaran Seksual 2012, yang berfokus pada melindungi anak laki-laki dan perempuan dari kekerasan seksual.

“Lebih dari 50% anak-anak di India telah mengalami satu atau lebih bentuk pelecehan seksual,” kata survie pemerintah setempat.

Laporan tersebut menggambarkan pelecehan anak sebagai epidemi yang sebagian besar diam. Penelitian menunjukkan 120 juta anak perempuan telah mengalami pelecehan seksual, tetapi hanya sebagian kecil 1% yang selamat dari pemerkosaan telah meminta bantuan profesional. (der/fin)

Rekomendasi Berita