oleh

Pelanggan Kecewa

LUBUKLINGGAU – Maskapai Lion Air dan Wings Air yang tergabung dalam Lion Air Group mengenakan tarif untuk barang bawaan penumpang. Terhitung mulai hari ini (8/1), penumpang Lion Air tidak lagi mendapat bagasi 20 kilogram secara percuma alias gratis. Begitu pula penumpang Wings Air tidak lagi mendapat bagasi 10 kilogram secara percuma alias gratis untuk dimasukkan ke bagasi pesawat.

Selain itu, bagasi kabin tetap gratis dengan syarat berupa satu buah tas jinjing dengan dimensi 40 cm x 30 cm x 20 cm dan dengan beban tidak melebihi 7 kilogram.

Barang yang diikat atau dibungkus tidak akan dianggap sebagai satu bagasi kabin. Lion Air lewat siaran pers menyatakan, calon penumpang dapat membeli bagasi di muka dengan harga lebih murah bersamaan pembelian tiket atau maksimal 6 jam sebelum keberangkatan.

Bahkan, bagasi tambahan dapat dibeli melalui agen perjalanan, situs Lion Air, dan kantor penjualan tiket Lion Air Group.

Bagasi kabin yang melebihi tujuh kilogram akan dikenakan biaya kelebihan bagasi sesuai tarif yang berlaku pada hari keberangkatan.

Tarif bagasi tambahan Lion Air dan Wings Air prepaid baggage (bagasi bayar di muka) disesuaikan dengan rute penerbangan. Jadi masing-masing rute penerbangan memiliki harga bagasi yang tidak sama.

Penghapusan layanan bagasi gratis 20 kilogram dari maskapai Lion Air dan Wings Air menimbulkan kekecewaan pada pelanggannya.

Salah satunya adalah Dedek, seorang pebisnis bibit ayam dan bebek, yang mengaku sangat khawatir dengan kenaikan bagasi ini akan berdampak pada kenaikan tarif pengiriman bibit-bibit yang ia jual.

“Agak khawatir sih, karena bibit ayam dan bebek yang kita jual dikirim dari Jawa langsung, dan dikhawatirkan dengan penghapusan layanan bagasi gratis 20 kilogram, akan berdampak juga kepada kenaikan tarif kargo,” jelas Dedek.

Bayangkan saja, kata dia, dalam dua bulan ini saja biasa ongkos kirim sudah naik 3 kali lipat dari biasa, apalagi dengan adanya penghapusan layanan bagasi gratis 20 kilogram ini, sangat ditakutkan tarif kargo juga meningkat.

Sementara itu ada Eva, yang juga sangat menyayangkan adanya penghapusan layanan bagasi gratis 20 kilogram ini.

Dia mengungkapkan, masyarakat banyak memilih Lion Air maupun Wings Air karena tarif yang lebih murah. Dengan adanya pengenaan tarif bagi kelebihan bagasi, masyarakat tidak lagi menikmati layanan penerbangan biaya rendah.

“Saya berharap maskapai sebaiknya mempertahankan layanan bagasi bebas biaya seberat 20 kilogram. Karena jujur kalau ke Jakarta saya selalu menggunakan Lion Air dari Palembang, karena murah. Tetapi jika layanan bagasi 20 kilogram dihapuskan, maka saya harus mikir lagi mau naik pesawat Lion air, mending maskapai lain yang memang memberikan pelayanan lebih maksimal,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kota Lubuklinggau, Dedi Irawan mengatakan pemberlakuan ini boleh dilakukan asalkan sudah diumumkan pihak maskapai sebelum konsumen membeli tiket.

Tetapi menurut Dedi, yang jadi masalah adakah regulasinya dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) atau kebijakan ini sudah belum mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Dari sudut boleh atau tidak sesuai dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen, boleh diberlakukan asalkan sudah diumumkan, tatapi tetap saja masih terkait regulasi dari Kemenhub ada atau tidak, mengenai batasan yang harus dipenuhi Lion Air atau yang belum dipenuhi Lion Air sehingga harus memberlakukan hal tersebut. Dan jika regulasi dari pemerintah ini tidak ada, maka tidak boleh,” jelasnya.

Menurut karyawan agen penjualan tiket pesawat Mutiara Nusantara, Septi Yulianti mengatakan bahwa selaku agen, ia justru baru mengetahui tersebut.

“Berdasarkan informasi di pusat kami selaku agen penjualan tiket akan mengikuti peraturan yang ada dan ia membenarkan bahwa pihak Lion Air dan Wings Air memberlakukan ketentuan baru tentang bagasi. Kini, dua maskapai tersebut tidak lagi menyediakan bagasi gratis,” jelasnya. (rrf/adi)

Rekomendasi Berita