oleh

Pedagang di Empat Lawang Enggan Bayar Retribusi

LINGGAU POS ONLINE- Pedagang di Pasar Pulo Emass mengaku keberatan, dengan retribusi pasar yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Empat Lawang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

Bahkan sebagian mereka enggan membayar retribusi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp2.500. Alasannya, masih banyak Pedagang Kaki Lima (PKL) di bawah jembatan, yang tidak dikenakan retribusi. Sementara dagangan mereka sepi, lantaran pembeli banyak yang belanja di PKL.

“Retribusi yang harus kami bayar setiap hari ada dua, pertama untuk kebersihan Rp1.000 dan kedua retribusi Rp2.500 yang sampai saat ini kami tidak tahu, itu karcis apa. Untuk karcis Rp1.000 masih kami bayar, tapi yang Rp2500 tidak mau lagi kami bayar, sebab PKL yang di jembatan dan di lorong Talang Padang masih banyak. Untuk apa kami bayar, kalau mereka yang di jembatan tidak ditagih. Pilih kasih namanya,” tegas Ratna, salah seorang pedagang di Pasar Pulo Emass, Minggu (17/11).

Meskipun banyak pedagang yang keberatan, Kepala Disperindag Almutholib melalui Kabid Perdagangan, Kamirun mengaku target retribusi pasar tahun 2019 hingga Oktober, sudah terealisasi 80 persen. Pihaknya ditargetkan Rp150 juta ditahun 2019, untuk retribusi pasar.

Kamirun membenarkan kalau saat ini pedagang banyak mengaku sepi, sehingga banyak yang tidak berjualan. Dampaknya, retribusi yang dipungut oleh petugas UPTD pasar perhari tidak menentu. Kadang perhari hanya terkumpul Rp250 ribu sampai Rp300 ribu saja.

Di Kabupaten Empat Lawang sendiri dijelaskan Kamirun, yang menyumbang retribusi hanya ada dua pasar tradisional yang terdapat di dua kecamatan. Sementara untuk pasar mingguan atau kalangan yang dikelola oleh desa, tidak diambil retribusinya oleh Pemkab.

“Pasar yang kita ambil retribusinya hanya Pasar Tradisional Tebing tinggi dan Pasar Tradisional Modern (PTM) Pendopo, itu kita kenai tarif 2.500 rupiah per lapak,” ungkapnya.

Laporan Kayan Manggala

Rekomendasi Berita