oleh

Patah Dua Kaki Hingga Kehilangan Suami

Perjuangan Bidan Yosi Selamatkan Nyawa Pasien

Perjuangan Ade Yosi patut jadi cerminan. Betapa besar tanggung jawab seorang bidan untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil maupun bayi dalam kandungannya. Pengorbanan yang diberikan, sampai bertaruh nyawa diri maupun sang suami.

Laporan Sulis-Riena, Lubuk Ngin Baru

SELASA 22 Juni 2018, sekira pukul 00.30 WIB Bidan Desa Lubuk Ngin Baru, Ade Yosi tengah lelap dalam tidurnya, di rumah kakak ipar. Ia nampaknya kelelahan usai mengantarkan sang putri Syakira (5) ke kediaman sang kakak, Meri di Kota Lubuklinggau.

Sementara suami Ade Yosi yakni Dadangsyah juga tengah asyik bersama rekan-rekannya menonton pertandingan Piala Dunia di rumah tetangga. Pasangan suami istri itu sama-sama sedang tidak di rumah.

Tiba-tiba, seorang warga mengabarkan kepada Dadangsyah bahwa ada seorang ibu hamil yang hendak melahirkan. Dia adalah Mardiana (21). Putri dari Mariyam tersebut sudah kesakitan.

Mendengar kabar itu, Dadangsyah langsung menjemput sang istri ke rumah kakaknya dengan mobil pribadi Avanza BG 1254 MM, lalu mereka menuju Pondok Bersalin Desa (Polindes) Sayang Ibu dan Anak, Jalan Lintas Sumatera Km 25, Desa Lubuk Ngin Baru, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas (Mura) tepat di samping rumahnya.

Memang, sejak 11 Mei 2011 lalu, Ade Yosi selalu siaga 24 jam membantu warga dari Desa Lubuk Ngin Baru dan sekitarnya dalam layanan kesehatan. Bahkan, sejak alumni Poltekes Kemenkes Palembang itu mendedikasikan ilmunya di Desa Lubuk Ngin Baru, angka kematian ibu maupun bayi saat persalinan menjadi nihil.

Sebagaimana biasa, Ade dengan cekatan langsung mencuci tangan dan berdoa. Bibirnya terus melafazkan zikir. Ia berusaha untuk menyelamatkan Mardiana dan anak pertamanya. Sementara Mardiana terus meringis-ringis menahan sakit di punggung.

Bidan Yosi, begitu Ade Yosi kerap dipanggil, dengan ilmu yang dimilikinya, terus mengecek perkembangan Mardiana. Namun, tiba-tiba terjadi KPSW atau pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan mulai. Selain itu, ternyata posisi bayi Mardiana juga sungsang.

Ade tak punya pilihan lain. Ia langsung menghubungi RS DR Sobirin bahwa akan membawa pasien dari Desa Lubuk Ngin Baru. Ia juga mengajak sang suami untuk bersiap ke RS DR Sobirin. Dadangsyah tampaknya telah siaga. Lalu dipanggil pula kakak ketiga Mardiana, yakni Heri (26) yang tinggal di seberang Polindes. Suami Mardiana, Yamin tampak gusar.

“Aku katek sen yuk!” kata Yamin dengan logat bahasa daerah. Yamin mengakui ia tak punya dana cukup untuk membawa Mardiana persalinan di RS DR Sobirin. Ia khawatir akan mengeluarkan biaya yang besar.

“Dak usah dipikir. Aku yang tanggung jawab!” tutur Ade Yosi meyakinkan Yamin.

Sekira pukul 02.00 WIB, Dadangsyah bersiap untuk berangkat menuju RS DR Sobirin di Kota Lubuklinggau. Ia sudah duduk di kursi sopir. Bidan Yosi duduk di sampingnya. Di belakang Dadangsyah duduklah Heri, Mardiana, dan Yamin. Heri maupun Yamin berusaha menenangkan Mardiana yang kesakitan.

Sementara Dadangsyah langsung menstarter Avanza BG 1254 MM warna biru itu melintasi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Tak lebih dari 20 menit, mereka tiba di RS DR Sobirin. Seluruh urusan terkait pasien Mardiana diurus Bidan Yosi. Ia dikenal terampil. Warga sekitar Desa Lubuk Ngin Baru menyebut, Bidan Yosi selalu melayani penuh kebutuhan pasien yang dibawanya dari Polindes menuju rumah sakit.

Muhammad Uzer, Kepala Puskesmas Selangit mengakui itu. Menurut M Uzer, bidan Yosi sadar, pasien maupun keluarganya akan sangat kesulitan mengurus hal-hal terkait administrasi maupun layanan kesehatan di rumah sakit. Makanya, kalau dia ngantar pasien, pasien terima bersih. Tahu-tahu sudah dapat obat.

Penanganan terhadap pasien Mardiana sudah selesai. Tim medis RS DR Sobirin mengambil tindakan dengan mengoperasi sesar Mardiana. Melihat pasiennya sudah mendapat penanganan dari tim medis, sekira pukul 03.00 WIB Bidan Yosi, sang suami, dan Heri langsung kembali ke rumah, di Desa Lubuk Ngin Baru.

Dalam perjalanan pulang itulah, naas menimpa Bidan Yosi, suami dan Heri. Diduga Dadangsyah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga lepas kendali masuk ke jalur kanan sehingga bertabrakan dengan mobil truk Colt Diesel B 9652 EDA yang dikemudikan Faisal melaju dari arah berlawanan. Dua kendaraan roda empat ini terlibat Lakalantas di Jalinsum, Desa Lubuk Ngin Baru, Kecamatan Selangit tepatnya di depan SMAN Selangit.

Saat yang sama, Ibu Dadangsyah Kordiah (57) baru selesai qiyamul lail. Ia berniat untuk sahur. Namun, tetangganya bersama pak Kades Lubuk Ngin Baru, Zakariah tiba-tiba mengetok rumahnya di Desa Lubuk Ngin Lama, Kecamatan Selangit. Kabar mengejutkan tentang putra bungsunya nyaris membuat ibu enam anak ini hilang kesadaran.

“Pak Kades ngomong anak bungsu (Dadangsyah,red) aku kecelakaan. Aku dak bisa ngapo-ngapo lagi denger kabar itu. Apolagi Pak Kades ngomong kondisi Dadang kejepit. Aku langsung ngambek baju, dak bersalin lagi, langsung masuk mobil pak Kades,” tutur Kordiah.

Di dalam mobil, ia bersama sang suami Mat Amin (62). Keduanya terus mengucap zikir, berdoa untuk kebaikan sang anak, juga menantunya, Bidan Yosi.

Tiba di lokasi kejadian, Kordiah melihat putranya sudah berhasil dievakuasi ke RS DR Sobirin. Sementara Bidan Yosi maupun Heri tampaknya sudah dibawa ke RS DR Sobirin. Kordiah masih mendengar bibir Dadangsyah yang terus melafadzkan tahlil ‘La Ilaha Illallah’.

Kordiah berharap Dadangsyah lekas sadar. Bahkan, meski dirinya nyaris tak sadar, Kordiah berusaha untuk bisa menyaksikan sang putra sampai ke RS DR Sobirin dan mendapat pertolongan.

Sementara mata Dadangsyah masih terpejam. Kalimat tahlil terus terucap dari bibirnya. Guru Honorer K2 SDN Lubuk Ngin itu dibawa menggunakan mobil milik Kadus Saparudin. Tubuh Dadangsyah yang lemah terkulai dipangku keponaannya Ruci dan Randu.

Ruci dan Rindu berusaha menenangkan sang paman. Mereka juga meminta sang paman kuat sampai ke rumah sakit agar segera mendapat pertolongan.

Namun dalam perjalanan, sampai di Kelurahan Tanjung Raya, Kecamatan Lubuklinggau Utara I Dadangsyah menghembuskan nafas terakhirnya. Pria yang juga aktif dalam perangkat Desa Lubuk Ngin Baru itu meninggal di pangkuan Ruci dan Rindu. Keduanya tak mampu membendung air mata.

Tiba di RS DR Sobirin, Kordiah baru mendengar kabar mengejutkan tersebut. Tubuhnya lunglai. Beberapa kali ia pingsan. Ia berusaha beristighfar, namun bibirnya terbata-bata.

Kabar menyedihkan juga dirasakan Mariyam dan keluarga, sebab putra ketiganya Heri yang berada dalam satu mobil bersama Dadangsyah, juga meninggal dunia. Suasana Ruang UGD RS DR Sobirin penuh tangis.

Kepada Linggau Pos, empat hari pasca Lakalantas tersebut saat ditemui di kediamannya di Desa Lubuk Ngin Lama, Kordiah menuturkan, sore hari sebelum kejadian, memang putra bungsunya itu sudah berpesan beberapa hal untuknya dan lima kandungnya.

Dia (Dadang), kata Kordiah, merasa kesusahan mendidik Syakira, anak semata wayang Dadang dan Bidan Yosi. Oleh karena itu, Dadangsyah berniat menitipkan Syakira dengan Meri, kakak iparnya di Kota Lubuklinggau.

“Kami pikir dia nak nitip Syakira itu sementara bae. Tapi kata Dadang biarlah Syakira sekolah di Lubuklinggau. Makanya kami pesan, biar Syakira tahan, jangan dijemput-jemput. Karena selamo ini, Syakira dekat nian dengan Dadang itu. Dadang memang sering main ke sini (rumah orang tua). Sehari bisa tiga sampai empat kali. Karena setiap pagi dan siang dia ngajar di SD dekat rumah inilah,” jelas Kordiah.

Di rumah limasan bercat orange itu, sang ibu mengingat masa-masa indah bersama alumni Angkatan XXI Prodi Bahasa Indonesia STKIP-PGRI Lubuklinggau tahun 2011 tersebut.

“Sebelum meninggal alhamdulillah Dadang sudah mencapai cita-citanya. Bisa negak rumah, bisa punya bini bidan, dan bisa punya mobil. Masih sikok lagi cita-citanya yang lum tecapai. Dia ngomong nak ngumrohke aku dengan baknyo. Cuman memang itu dak diceritokenyo dengan ayuk-ayuknyo,” tutur Kordiah lagi.

Bicara tentang perjuangannya sebagai guru, sejak lulus SMAN Selangit, Dadang sudah mengajar di SDN Lubuk Ngin. Bahkan ia lulus seleksi honorer K2.

“Dia memang ada kendak, men diangkat jadi CPNS dia nak pesta rame-rame. Cuman sekarang dia lah duluan (meninggal),” ungkap Kordiah dengan mata berkaca-kaca.

Dadangsyah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Lubuk Ngin. Kordiah ikhlas dengan ketentuan ini. Ia bersyukur, sebab melihat almarhum Dadangsyah sekalipun meninggal Lakalantas, wajahnya bersih.

“Katek yang bau darah atau apo. Dadang wangi nian,” imbuh Kordiah.

Kejadian Lakalantas itu juga mengejutkan Muhammad Uzer dan tim kerja Bidan Yosi di Puskesmas Selangit. Bidan Yosi dikenal sebagai Tenaga Honorer Sukarela (TKS) paling cekatan sejak tahun 2011. Meski tak pernah digaji, namun Bidan Yosi dikenal selalu profesional menunaikan tugas.

“Saya baru satu tahun di Puskesmas Selangit. Sejak awal saya memimpin, saya kenal Dadangsyah. Dia pernah menghadap pada saya. Dia janji siap mendukung kegiatan apapun untuk program Puskesmas Selangit. Ia juga nitip Bidan Yosi yang sudah 8 tahun jadi TKS bidan. Selama 8 tahun itu, Bidan Yosi memang tak pernah digaji. Namun profesionalitasnya dalam menunaikan tugas tak tertandingi. Ini juga berkat support Dadangsyah,” terang Muhammad Uzer.

M Uzer mengaku kehilangan sosok Dadangsyah yang dikenal jiwa sosial tinggi. Ia juga prihatin dengan kejadian yang menimpa Bidang Yosi. Sebab, akibat Lakalantas itu Bidan Yosi saat ini berjuang untuk bertahan, karena mengalami patah kedua kakinya, baik kanan maupun kiri. (Bersambung)

Rekomendasi Berita