oleh

Pastikan Tak Merusak Lingkungan

PT SAS Fokus Kelola Limbah Cair Kelapa Sawit
 
Manajemen pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) PT Selatan Agung Sejahtera (SAS) fokus pengelolaan limbah cair. Lantas, bagaimana prosesnya?

Laporan Aan Sangkutiyar, Lubuklinggau

PT SAS terletak di Desa Petunang Kecamatan Tuah Negeri Kabupaten Musi Rawas (Mura). Perusahaan yang bergerak dibidang pengelolaan kelapa sawit ini sangat fokus pada pengelolaan limbah, bahkan melakukan pemeriksaan secara berkala.

Seperti, dilakukan penambahan kolam penampungan limbah terintegrasi sebanyak 21 kolam, dengan bangunan kokoh pemasangan turap di sekelilingnya. Hal tersebut mengantisipasi kebocoran dan longsor yang bisa terjadi kapan pun.

Bahkan, pemasangan turap juga dilakukan di lokasi berbatasan langsung dengan aliran sungai. Jarak turap dengan kolam penampungan limbah cair akhir sekitar 20 meter.

Humas PT SAS, Irawan mengatakan sejak awal didirikan pabrik CPO dengan kemampuan produksi 60 ton per jam. Namun, saat ini limbah cair tersebut belum keluar dari lokasi pabrik, masih ditampung di kolam penampungan, karena menunggu Izin Pengelolaan Limbah Cair (IPLC).

Tapi, meski belum mengantongi IPLC, manajemen selalu melakukan perbaikan dan peningkatan pengelolaan limbah cair di kolam-kolam penampungan.

Pengecekan kadar pH merupakan tingkat derajat keasaman (H+). Besar kecilnya nilai pH pada suatu sampel digunakan sebagai parameter utama untuk mengetahui keadaan /sifat baik buruknya sampel. Kadar pH dinilai dengan ukuran antara 0-14. Sebagian besar persediaan air memiliki pH antara 7,0-8,2 namun beberapa air memiliki pH bawah 6,5.

“Setiap hari kita lakukan pengecekan kadar Ph air di kolam terakhir pengelolaan limbah,” kata Irawan saat setelah mengecek kader asam di limbah, Sabtu (26/1).

Bahkan, pihaknya menyiapkan kolam penampungan yang dimasukkan biota air tawar berupa ikan. Ikan inilah yang menjadi tolak ukur jika air limbah tersebut aman, steril dan bisa dimanfaatkan kembali.

“Ketika ikan hidup, tandanya limbah telah steril,” jelasnya.

Mengenai potensi bocor dan meluber kolam pengelolaan limbah cair tersebut, tidak perlu dikhawatirkan karena kapasitas kolam hingga ratusan meter dan terdiri dari dua jenis. Ada ukuran 22×100 meter dan ada ukuran 22×200 meter.

Dalam kolam pengelolaan limbah menggunakan bakteri untuk mengurai zat-zat yang ada dan dibantu dengan sejumlah alat pengelolaan limbah lainnya.

Selain itu, dalam pengelolaan limbah cair, manajemen melibatkan akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) dan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mura. Sehingga, kedepan tidak ada permasalahan limbah cair hasil pabrik CPO PT SAS.

“Kita konsisten, fokus dan ingin sukses dalam pengelolaan limbah cair ini. Sehingga, memberikan manfaat besar dan tidak merusak ekosistem lingkungan sekitar. Karena, tujuan berdirinya perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sebaliknya,” ungkapnya. (*)

Rekomendasi Berita