oleh

Pasokan Beras di 7 Provinsi Dipastikan Aman

LINGGAUPOS.CO.ID- Dengan terus memperbaiki pendistribusian beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Perum Bulog memastikan ketujuh provinsi yang sempat mengalami defisit beras kini sudah aman.

Di gedung Perum Bulog, saat ini terdapat stok beras mencapai 1,4 juta ton yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. Rinciannya, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 1,32 juta ton dan untuk beras komersial berjumlah 101.364 ton.

“Saat ini di tujuh provinsi sudah tersedia semua. Jadi, tidak perlu khawatir, Bulog sudah siapkan stok yang ada di gudang,” ujar Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Tri Wahyudi Saleh, kemarin (18/5).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya mengumumkan adanya persoalan defisit beras yang melanda di tujub provinsi. Yakni, Kalimantan Utara, Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Adapun besaran defisit di tujuh provinsi tersebut dan pendistribusian beras yang dilakukan Bulog. Untuk di Kalimantan Utara defisit sebanyak 763 ton dan stok di gudang serta stok dalam perjalanan mencapai 1.779 ton, Kepulauan Riau defisit sebanyak 8.185 ton dan stok di gudang serta stok dalam perjalanan mencapai 9.329 ton, Riau defisit sebanyak 27.719 ton dan stok di gudang serta stok dalam perjalanan mencapai 15.142 ton.

Sedangkan, di Kepulauan Bangka Belitung defisit sebanyak 9.891 ton dan stok di gudang serta stok dalam perjalanan mencapai 2.303 ton, Maluku defisit sebanyak 3.344 ton dan stok di gudang serta dalam perjalanan sebanyak 9,255 ton.

Kemudian, Maluku Utara defisit sebanyak 3.724 ton dan stok di gudang serta dalam perjalanan mencapai 3.286 ton, dan Papua Barat defisit 931 ton dan stok di gudang serta stok dalam perjalanan mencapai 8.060 ton.

Menurut dia, penyebab terjadinya defisit beras lantaran adanya lonjakan permintaan beras untuk konsumsi maupun pembahian semabko di tengah pandemi Covid-19. Apalagi di daerah tersebut bukan termasuk sentra penghasil beras. “Hal tersebut menyebabkan teradi defisit. Akan tetapi, kini persoalan defisit beras sudah diatasi,” ucapnya.

Sementara itu, pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menyebutkan, masyarakat tak perlu khawatir karena pasokan pangan, terutama beras masih tercukupi. “Masyarakat tak perlu panik. Pasokan beras sampai Oktober masih aman. Karena produksi tahun ini kemungkinan masih sama seperti tahun lalu,” kata Dwi.

Dia memperkirakan produksi beras dari Januari hingga Agustus akan sekitar 24 juta ton. Di mana kebutuhannya mencapai 20 juta ton. “Dengan hitungan per bulannya sebesar 2,5 juta ton. Berarti pasokan masih cukup. Iya tidak ada masalah,” tuturnya.

Untuk produksi beras tahun, Dwi memperkirakan masih akan relatif sama seperti pada tahun lalu, yang berkisar 30 juta ton. Menurut dia, angka tersebut sangat mendekati kebutuhan beras selama 1 tahun. Hal ini harus diantisipasi.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna mengatakan, banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dilakukan pemerintah dalam memenuhi kebuhan pangan. Apalagi menjelang Lebaran Idul Fitri 2020 di tengah wabah corona. “Selain defisit beras, pemerintah juga perlu menjaga harga bahan pokok lainnya, seperti cabai, bawang merah, gula, dan lain-lainnya,” pungkasnya.(*)

Rekomendasi Berita