oleh

Pasal Pidana Siap Jerat Pelaku Match Fixing

JAKARTA – Geliat kasus pengaturan skor atau Match Fixing saat ini sedang ramai dibicarakan publik di Indonesia. Hal itu lantaran kasus yang kabarnya, sudah ada sejak jaman Soekarnosedang diupayakan oleh Satgas Antimafia bola bentukan aparat kepolisian untuk dibongkar.

Namun demikian yang menjadi pertanyaan publik, apakah semua permasalahan yang ada ini akan tuntas terbongkar ke akar pelaku yang terlibat jaringan mafia sepak bola.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat sepakbola Indonesia, Anton Sanjoyo mengaku bahwa sangat pesimis dengan upaya membongkar kasus mafia pengaturan skor dalam sepakbola negeri ini sangat sulit khususnya, pasal pidana.

Pasalnya, menurutnya, kasus seperti pengaturan skor, suap, dan judi dalam sepakbola negeri ini belum memiliki payung hukum hukum di Indonesia. Sehingga bilamana ada permasalahan itu ditemukan masih belum cukup kuat untuk menyeret para pelakunya ke balik jeruji besi.

“Saya kira sulit menjerat para bandit ini dengan pasal pidana karena, tidak cukup kuat. Danmemang belum ada aturan dan payung hukum yang mengaturnya. Kalaupun ada lubang pasal pidana untuk menjerat mereka, saya bersyukur,” kata Anton kepada Fajar Indonesia Network, di Jakarta, Selasa (8/1).

Anton menjelaskan, kasus semacam ini bukan yang pertama dan pernah terbongkar juga besar-besaran soal wasit dulu tapi ternyata, para pelaku yang terlibat tidak ada yang bisadipidanakan paling cuma dapat sanksi dari Federasi.

“Buat saya kasus yang dulu pernah ada bisa menjadi gambaran dalam kasus ini. Jangan sampai, pasal yang digunakan saat di pengadilan dimentahkan oleh para pengacara dari pelaku karena dasar hukumnya tidak kuat,” jelas Anton.

“Nah, kasus-kasus seperti ini pun tidak cuma di Indonesia tapi, pernah terjadi di Inggris dan pelakunya tidak bisa dipidana melainkan hanya terkena sanksi dari Federasi yakni, tidak boleh terlibat dalam sepakbola dengan waktu tertentu, begitu juga di sini,” tandasnya kembali.

Dengan demikian, diakui Anton, pihaknya terus mendorong pihak terkait diantaranya, PSSI danjuga Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dapat membuat aturan dan payung hukum ataskasus seperti ini demi kemajuan sepakbola Indonesia kedepan.

“Jadi, bukan soal cuma asal bentuk Satgas saja. Dan saya akui, langkah polisi bentuk satgasini bagus. Setidaknya, untuk menekan PSSI lakukan pembersihan di internalnya dari parabandit kasus ini. Karena, yang bermain ya orang-orang didalam PSSI itu sendiri,” ungkapnya.

Menurut Anton, setiap pihak yang ada di dalam pengurus PSSI sangat tahu dan paham. Olehsebab itu, mereka lah yang harus bertanggungjawab atas kasus yang terjadi. Selain itu juga,Menpora.

“Niat polisi membongkar mafia pengaturan skor sekarang ini sudah baik, tinggal bagaimana tulusnya Menpora dan PSSI dalam kasus tersebut. Dan mereka punya tanggungjawab atas kasus yang terjadi hingga kemudian, tidak terjadi lagi,Apa tulusnya, ya membuat regulasi dan dasar hukum dari kasus-kasus ini. Dan saya sendirisudah terus mendorong untuk dibuatkannya UU tersebut. Selain itu federasi harus beri sanksi seumur hidup kepada pelaku kasus ini dan jika perlu, beri saksi sosial dengan memajang foto dari para bandit di setiap tribun stadion dalam pertandingan sepakbola,” tegasnya.

Terpisah, pemaparan lain disampaikan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, dasar hukum pidana yang diberikan kepada kepada para tersangka kasus pengaturan skor sesuai laporan yakni, Pasal 378 KUHP, dan atau Pasal 372 KUHP dan atau UU RI No.11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan atau pasal 3, 4, 5, UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

“Saat ini kasus kan masih terus didalami oleh tim penyidik untuk dapat memastikan semua berkas perkaranya termasuk, memastikan masalah kontruksi hukum, dan pelanggaran orang perorang kasus ini dimana, kita sudah memeriksa saksi ahli hukum pidana,” kata Dedi.

Menurut Dedi, satu hal yang penting untuk disampaikan tim saat ini memang lebih focus untukmembongkar kasus match fixing di Liga 3 hingga tuntas yang tentu, tim juga punya Timeline tertentu atau target sendiri menyelesaikan perkara ini.

“Jadi, kenapa kami fokus di Liga 3 karena, disini alat buktinya cukup. Dan penting juga kami sampaikan, secara umum kasus match fixing di liga 3 ini menjadi gerbang, atau pintu masukkami dalam membongkar jaringan kasus tersebut,” ungkap Dedi.

“Untuk itu tidak menutup kemungkinan, dari sini akan meningkat ke liga 2, liga 1, hinggapada pertandingan internasional. Untuk itu akan lebih cepat di liga 3 ini kita membongkarjaringan mafia pengaturan skornya,” imbuh Dedi.

Dedi menjelaskan, perkembangan dari tim penyidik Satgas Antimafia bola sudah menjadwalkan pemeriksaan kepada bendahara PSSI Berlington siahaan, dan pihaknya pun masih menunggu update dari pemeriksaan tersebut.

Tersangka Baru

Selain itu, Dedi menambahkan saat ini POlri telah menetapkan satu orang tersangka terkait kasus Match Fixing di laga sepakbola Liga 3. Tersangka baru ini yakni, salah satu wasit sepakbola berinisial NS. Dia diketahui terlibat kasus match fixing di laga antara, PS Persibara vs PS Pasuruan.

“Saat ini kita kembali menetapkan satu orang tersangka lagi, dan dia merupakan seorang wasit. Saat ini yang bersangkutan langsung dilakukan penahanan di Polda Metro Jaya,” tuturnya.

Menurut Dedi, dasar dari penetapan tersangka NS ini adalah berdasarkan hasil pemeriksaan dua tersangka yang sudah ditetapkan terlebih dahulu antara lain, P alias Mbah Putih dan JL. “Keterangan tiga tersangka ini juga menyebut, ada beberapa pihak terkait yang ikut terlibat match fixing Persibara vs Pasuruan,” ungkap Dedi.

Sementara itu sesuai keterangan dari P, kata Dedi, terkait kasus ini tersangka NS diketahui telah menerima uang sebesar 45 juta dari pertandingan tersebut. Bahkan, langsung diberikan oleh P alias Mbah Putih dengan tiga kali transaksi antara lain, sebesar 30 juta di hotel Sentral dan 10 juta diserahkan selesai pertandingan.

“Untuk yang terakhir, sebesar 5 juta diberikan melalui, itransfer ke rekening NS. Dan saat ini sudah dilakukan penyitaan oleh Satgas Antimafia Bola diantaranya, rekening tersangka, screenshot pembicaraan antara Mbah Putih dan NS tentang permintaan sejumlah uang tersebut,” jelas Dedi.

Lebih jauh diakui Dedi, pihaknya sendiri menduga dalam match fixing ini tidak mungkin seorang wasit sendiri. Sebab, aktor intelektual yang mengatur itu pasti menghubungi semua perangkat pertandingan. Jadi, selain wasit ada juga, asisten wasit, cadangan wasit, maupun pengamat pertandingan.

“Dalam kasus ini ada klub yang mengorder targetnya menang, dan lawan ditargetkan kalah. Ini jelas dilakukan secara sistemik dan terstruktur. Sementara dari hasil laga kedua tim saat itu, dimenangkan oleh Persibara 2-0,” tutur Dedi.

Adapun hingga saat ini lanjut Dedi, tim Satgas sementara ini masih belum melakukan penyelidikan lain untuk menjerat tersangka lainnya yang diduga ikut menerima uang yang diterima oleh NS. “Kita focus untuk tersangka NS dulu, yang lain kita dalami. Karena, NS jelas ada isi percakapan bukti transfer, dan keterangan tsk jugs sudah ada,” terang Dedi.

“Saat ini tim Satgas Antimafia bola juga sudah bekerjasama dengan PPATK untuk bisa ditemukan aliran dana, guna menemukan bukti kuat lagi agar bisa menjerat para tersangka lainnya,” tandas Dedi.

Sebelumnya, Kabag Penum Divisi Mabes Polri Kombes Pol Syahar Diantono menyampaikan, gunapenyelidikan lebih lanjut saat ini tim sudah ajukan perpanjangan penahanan 40 hari kedepanke kejaksaan, terhadap empat orang tersangka yakni, Johar Ling Eng, Dwi Irianto, Priyantodan Anik Yuni Artikasari.

Adapun berkas perkara kasus dari laporan korban Lasmi ini pun sudah terbagi menjadi 3berkas perkara yakni,berkas 1 untuk tersangka AN dan tersangka PRI, berkas 2 untuk tersangka JH,dan Berkas 3 untuk tersangka DI alias mbah putih.

Info Grafis

Berikut beberapa kasus Suap atau Match Fixing yang juga perna ada di Liga sepakbola Indonesia.

1. Kasus kepemimpinan Wasit di Liga Indonesia musim 1999-2000.
Pada waktu itu pengaturan skor terjadi pada laga PSIS Semarang vs Arema Malang. Diketahui, ketika itu Manajer PSIS, Simon Legiman membayar wasit Muchlis untuk menentukan hasil laga. Namun, harapan yang diinginkan Simon pun tidak terwujud malah sebaliknya, merugikan dia.

Pasalnya, kala itu Simon ingin laga berakhir dengan kemenangan, atau minimal seri. Tapi ternyata, berakhir kekalahan dengan skor 2-3 untuk Arema Malang. Buntutnya, diapun buka suara atas perbuatannya dan berbuntut sanksi Federasi kepada dua pihak.

2. Pengaturan Skor Laga PSS Sleman vs PSIS Semarang di laga Divisi Utama tahun 2014.
Laga kedua tim ini terjadi saat pertandingan babak 8-besar Divisi Utama dimana, PSS menang 3-2. Namun, ada kejanggalan dalam pertandingan tersebut pasalnya, seluruh gol yang terciptaterjadi melalui gol bunuh diri.

Dan diduga hal itu sengaja agar PSIS tidak menjadi juara grup N. Alasanya, PSIS diduga tak mau bertemu Borneo FC. Akhirnya, kedua klub pun cuma dapat sanksi Federasi dengan hukuman tidak 1 tahun percobaan, hingga seumur hidup dilarang beraktivitas di sepak bola Indonesia.

3. Divisi Utama 2015
Dalam kasus ini agak berbeda dengan sebelumnya, dimana saat bergulirnya kompetisi Divisi Utama 2015, seorang pemain sepakbola Persibaya Johan Ibo tertangkap tangan berusaha menyuap pemain Pusamania Borneo FC (kini Borneo FC).

Dia awalnya mendatangi hotel pemain PBFC dan membahas transaksi utuk memenangkan Persebaya Surabaya. Ibo mengirimkan SMS ke tiga pemain PBFC. Manajemen klub kemudian memancing Ibo dan langsung disergap.

Tapi kemudian, setelah diamankan diapun dilepas kembali karena, polisi tidak memiliki cukup bukti untuk menjebloskan dia ke penjara. (mhf)

Rekomendasi Berita