oleh

‘Panti Asuhan Al Amin Bukan Tanah Hibah’

LINGGAU POS ONLINE, WATERVANG – Belum lama ini, beredar kabar Minarni berniat menjual tanah yang di atasnya berdiri bangunan eks Panti Asuhan Al amin. Tepatnya di Jalan Kutilang, Kelurahan Majapahit, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

Minarni mengatakan bahwa selaku pendiri dan Ketua Yayasan Al Amin hanya meluruskan apa yang ada ataupun muncul pemberitaan pada, Kamis (8/2) lalu.

“Mohon maaf, apabila ada yang berbicara mengenai pemberitaan sebelumnya. ‘Alhamdulillah’ karena mungkin pengetahuannya sebatas itu,” kata Minarni di Graha Pena Linggau, Jumat (9/2).

Ibu yang anggun dengan jilbab hitam itu menjelaskan, dirinya ke Palembang dan pulang untuk mengurusi anak.

“Saya harus berangkat malam itu juga sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian, Rabu (7/2) malam membawa mobil sopir sendiri dan saya tidak mengetahui kalau yayasan muncul pemberitaan,” jelasnya.

Kamis malam, dirinya mendapatkan telepon sekitar pukul 10.00 WIB dari Forum Panti Asuhan, Ustad Indra Rozak dan langsung melihat koran tersebut.

“Saya hanya menyarankan, kepada sumber berinisial AB untuk dicerna dahulu dan berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara dan bertindak,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, kepada masyarakat donatur, dermawan anak-anak Panti Asuhan Al Amin, agar tidak timbul fitnah dan mudhorat.

“Yayasan itu, dirintis dengan modal awal uang Rp 6 juta. Itu uang dari hasil saya jualan pakaian, saya ambil pakaian di Toko Aldi. Waktu itu uangnya tidak saya setorkan ke toko karena saya pakai untuk modal awal/merintis Desember 1997. Almarhum Pak Ujang Amin punya tanah 1 kapling dengan ukuran 15 lebar dan 25 panjang potong jalan 1,5 meter. Tanah itu, demi Allah dan Rasulullah saya beli seharga Rp 5 juta tahun 1998,” jelasnya.

Lalu, kata Minarni, uang tersebut hasil mengajukan proposal dari menghadap Bupati Musi Rawas.

“Tiga hari saya dengan keadaan hamil 7 bulan mondar-mandir di Kantor Bupati,” ucapnya.

Kembali ia menjelaskan, waktu itu di Kesra ada Pak Latif yang membantu jalannya proposal itu. Saya menghadap bapak bupati, Rajab Semen Dawai dan dibantu Rp 5 juta pas untuk bayar tanah dengan pak Ujang Amin.

“Dibuatlah pengoperan hak jual beli waktu itu ada saksi utama Wakil Walikota, Edy Syaputra. Bahkan beliau yang mendanai buat pengoperan hak itu. Lalu tahun 2009 saya menghadap lagi, bupati, Rajab dengan membawa proposal mondar-mandir saya di kantor itu selama dua minggu dan dibantu Rp 10 juta untuk bangunan,” jelasnya.

Uang itu, kata Minarni, dititipkannya ke Pak Latif karena takut hilang kalau dipegangnya.

“Maka bangunan dikerjakan dan saya ambil uang dari Pak Latif sesuai dengan kebutuhan waktu itu untuk pasir, bata, koral, semen, besi dan lain-lain. Kemudian, di 2004 tidak bisa membiayai honor guru, maka saya menghadap pak KH Syaipul Hadi selaku guru dan pembina saya. Maka berdirilah panti asuhan Al Amin dengan badan hukum Akmaludin, SH tahun 2004 dan diresmikan oleh Pemkot Lubuklinggau 2005. Dari awal hanya, 9 anak yatim piatu, terlantar, dan fakir miskin sekarang tahun 2018 ada 85 anak panti sudah banyak selesai kuliah dan bekerja,” jelasnya.

Jadi anak-anak Al Amin dan balita, tutur Minarni, SMA hingga kuliah semuanya biaya pendidikan, kesehatan, pakaian, makanan, sarana prasarana itu semua dari sumbangan para dermawan.

“Ditambah bangunan asrama Panti Asuhan Al Amin yang sudah dua lantai itu bantuan dari Bupati Ridwan Mukti Rp 50 juta dan Walikota Lubuklinggau Rp 40 juta. Namun saat Ridwan Mukti memberikan sumbangan tidak ada yang tahu hanya DR Bustomi Alm,” jelasnya.

Minarni mengaku ditelepon H Ridwan Mukti untuk menghadap beliau, dan menerima uang itu.

“Sesuai amanah beliau saya salurkan dan dibuatkan asrama anak-anak yang di atasnya buat anak laki-laki dan di bawah perempuan. Keramiknya sumbangan dari dermawan itu dari Belanda sebagai dokter jantung yang waktu itu ada misi sosial di Kota Lubuklinggau,” jelasnya.

“Saya buatkan sertifikat agar lebih baik dan kuat, tapi saya tidak ikut Prona dengan dibantu ibu lurah saya menghadap pak Husin terbitlah sertifikat NP 562 Tahun 2013 atas nama Minarni,” ucapnya.

Kembali wanita berjilbab ini menjelaskan, Panti Asuhan Al Amin pindah ke Marga Rahayu Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II, RT 03. Jalan Kamboja, Kelurahan Marga Rahayu, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.

“Di tempat ini jalan luas dan anak-anak panti tidak sekolah di luar lagi. Jadi di dalam Yayasan Al Amin Linggau karena ada panti, TK, MI, MTS dan Aliyah (MA) program rencana ke depan anak-anak tidak sekolah di luar lagi,” jelasnya.

Jadi, jelasnya, tidak perlu ada transpor antar jemput serta mudah pengawasan apabila di satu tempat.

“Nah, demikianlah saya sampaikan dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah itu bukan tanah hibah ataupun wakaf melainkan beli seharga Rp 5 juta.

Masalah soal tanah dan bangunan itu akan jual memang benar. Dan surat-surat maupun dokumen bisa saya pertanggungjawabkan sesuai dengan sertifikat milik Winarni No. 564 tahun 2013,” jelasnya.

Ia juga menunjukkan Hak Milik Nomor Menteri Hukum Ham AHU-154 AH.01.04. No badan hukum notaris Akmalludin SH No 21, No BKKKS Provinsi 125/STT/BKKKS/V dan No Izin Dinas Sosial Llg 460/116/Dinsos.

“Maaf jika ada yang menyampaikan di media seperti sebelumnya. Inilah kebenarannya. Mengapa tanah akan dijual dan asrama tersebut. Tujuannya saya karena ‘Allah’ untuk dibuatkan asrama juga Panti Asuhan Al Amin untuk di Marga Rahayu ini. Sebab anak panti laki-laki masih di rumah kontrakan milik Basuki, bahkan untuk asrama yang putra saat ini dalam pengerjaan pemagaran asrama,” jelasnya.

Minarni menjelaskan, ia beli tanah dan rumah pas di samping benar seharga Rp 300 juta yang akan digunakan untuk asrama anak-anak panti juga untuk ruang kelas belajar MTs dan Aliyah (MA).

“Uangnya saja pinjam di Kantor Kemenag. Silakan tanya dengan Bendahara Ibu Vivi ada tidak meminjam pinjaman itu 15 tahun. Lalu jika tanah dan rumah/asrama yang di Majapahit saya jual, rasanya tidak menyalahi aturan dan hukum. Uang hasilnya jual tanah itu akan saya buatkan asrama dan ruang kelas belajar serta sarana prasarana anak-anak juga,” jelasnya.

“Saya kira penjelasan ini dapat meluruskan pemberitaan itu. Untuk lebih jelas temui saya Minarni di Marga Rahayu dengan nomor ponsel 081368255739 atau WA 081214802843. Sekali lagi saya mohon maaf jika salah dan khilaf, namun niat saya hanya beribadah kepada Allah. Saya PNS Kementerian Agama Kota Lubuklinggau. Misalnya anda punya bukti itu tanah hibah tolong buktikan dan saya siap untuk diproses jalur hukum. Saya ikhlas dan tulus untuk bertanggung jawab bagi masyarakat yang ingin membeli tanah, saya siap membuktikan dan siap bertanggung jawab akan kebenaran tanah tersebut,” tutupnya.(Rls /16)

Rekomendasi Berita