oleh

Pakai Narkoba Sejak SD

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Masih dalam suasana Hari Guru Nasional (HGN). Seorang guru di Kabupaten Musi Rawas (Mura) baru saja menyelamatkan masa depan seorang anak pecandu narkoba.

“Dia (guru) bawa anak kelas X SMA ke sini (BNN Musi Rawas). Karena peserta didiknya bertingkah layaknya pengguna. Tidak semangat belajar, dan sangat emosional. Lalu kami assessment. Ternyata benar, anak ini positif pakai narkoba,” jelas Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Musi Rawas, Hendra Amoer, Minggu (25/11).

Tes urine siswa berinisial JN yang dilakukan BNN, menyatakan hasil positif. Ternyata siswa asal Musi Rawas ini memakai sabu sejak kelas IV SD.

Bagaimana bisa murid kelas IV SD konsumsi sabu?

Hendra memastikan tidak ada yang tidak mungkin. JN ini CK (iuran) dengan sesama teman sepermainan.

JN mengumpulkan uang jajan, setiap hari selama satu minggu. Lalu Sabtu anak-anak yang tinggal sekampung yang berjumlah 10 orang ini membeli paket sabu Rp 100 ribu.

Mendengar kabar ini, orang tua JN yang berprofesi sebagai petani dan berdagang sempat syok. Namun, mereka akhirnya bisa menerima dan mendukung agar JN mengikuti proses rehabilitasi.

“Berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) BNN untuk pemakai sabu yang sudah 6 tahun lebih, proses rehabilitasinya memakan waktu 4-6 bulan, bahkan bisa 1 tahun. Dukungan orang tua dan keluarga memang sangat penting untuk kepulihan residen dalam mengikuti rehab,” jelas Hendra.

Ia menerangkan, sepanjang 2017 ini ada 45 pecandu narkoba yang direhab. 28 Orang rawat jalan, dan 17 orang rawat inap.

“Khusus JN dirawat di Kalianda, Provinsi Lampung,” jelasn Hendra.

Sejak kejadian itu, BNN Musi Rawas memastikan seluruh sekolah di Kabupaten Musi Rawas menjadi prioritas perhatian BNN.

Ketika ada pecandu narkotika di sekitar anda, kata Hendra, kita tidak perlu takut.

“Saran saya yuk laporkan. Nanti kami siap bantu untuk direhab. Siapkan saja KTP, KK, Surat Permohonan. Kalau rehab jalan tidak berbiaya. Namun, kalau rehab inap, pengiriman ke Lampung memakai ongkos sendiri. Sementara proses rehabnya gratis,” terang Hendra.

Lalu bagaimana dengan di Kota Lubuklinggau?

Kepala BNN Kota Lubuklinggau AKBP Edy Nugroho melalui Kabid Rehabilitasi Arin menjelaskan, angka pecandu yang direhab dari tahun 2016 ke tahun 2017 menunjukkan penurunan. 2016 lalu ada 178 orang yang direhab. Sementara per 22 November 2017, baru 87 orang direhab.

“Yang rehab jalan itu ada 65 orang, sisanya rawat inap. Sementara untuk pecandu yang di bawah 17 tahun juga menunjukkan penurunan. Tahun 2016 ada 21 orang, sementara 2017 hanya lima orang. Kita berharapnya tidak bertambah,” jelas Arin.

Untuk merehab para pecandu narkoba ini, BNN Kota Lubuklinggau menggunakan metode rehabilitasi rawat inap Terapeutic Comunity (TC).

“Beda antara metode rehab yang rawat inap dengan rawat jalan. Kalau rawat jalan, memakai konseling individu, terapi kelompok dan konseling keluarga. Prosesnya, kalau rawat inap kurang lebih 3-6 bulan. Sementara kalau rawat jalan delapan kali pertemuan,” imbuh Arin.

Untuk menjaga kepulihannya residen itu seumur hidup, setelah rehab pun mereka masih harus tetap menjaga kepulihannya salah satunya dengan mengikuti kegiatan pasca rehabilitasi.

* Orang Tua Diminta Peka

Menganalisa kasus JN, Psikolog Irwan Tony menjelaskan beberapa faktor berperan dalam penyalahgunaan narkoba.

“Biasanya masalah keluarga dan pengaruh teman sebaya, kesehatan mental secara keseluruhan, dan riwayat candu di keluarga. Harusnya orang tua harus mengetahui perubahan pada diri anak apa lagi sejak kelas 4 SD,” tandasnya.

Agar guru maupun orang tua mudah dalam meng-assessment sementara kondisi anak, ia meminta kepada para guru dan orang tua lebih peduli dan peka.

“Misalkan kita lihat mata anak memerah, pupil yang mengecil atau lebih besar dari normal, kerap mual muntah, pilek tanpa sebab, sering sakit, keluhan mulut sakit, timbul bintik-bintik di sekitar mulut, sakit kepala ‘Mulut kapas’, bisa anak sudah terjebak penyalahgunaan narkoba. Selain itu, ciri fisik lain anak sering membasahi bibir atau rasa haus berlebihan. Ini perlu dikenali dengan baik,” jelasnya.

Termasuk ketika terjadi perubahan nafsu makan atau pola tidur anak.

“Memang memerangi narkoba tidak bisa hanya berpangku pada teman-teman di BNN. Kita semua harus ambil bagian menyelamatkan anak bangsa dari narkoba,” tegasnya.

* Pelatihan Khusus Guru

Mendengar kabar sikap patriotik yang dilakukan salah seorang guru SMA tadi, Ketua PGRI Kabupaten Musi Rawas, H Hermansyah mengambil sikap.

“Memang guru harus peka. Jangan sampai anak jadi pecandu, guru tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, ke depan kami akan programkan semua guru di Musi Rawas mendapat sosialisasi tentang bahaya narkoba. Termasuk agar bisa menilai gerak-gerik siswa yang terindikasi sebagai pemakai,” terangnya.

PGRI Musi Rawas akan mengundang BNN dan Polres Musi Rawas untuk membekali guru, agar bisa jadi perpanjangan tangan dalam mencegah dan memberantas peredaran narkoba di lingkungan pendidikan.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita