oleh

Padukan Arsitek Tiga Negara

Islam dan Masjid Bersejarah di Pulau Sumatera (13)

Setelah Masjid Tuo Kayu Jao di Kanagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, yang merupakan masjid tertua dan bersejarah bukan saja di Tanah Minang tetapi di Nusantara. Selanjutnya masjid bersejarah di Sumbar ini terdapat di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, yaitu Masjid Raya Ginting.

Dirangkum Oleh Solihin

MASJID Raya Ganting atau dalam bahasa Minang disebut juga Mesjid Raya Gantiang adalah sebuah masjid yang terletak di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumbar. Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan merupakan salah satu Masjid yang tertua juga di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya.

Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar serta menjadi salah satu daya tarik wisata di Kota Padang.

Dalam sebuah hasil riset oleh Fikrul Hanif Sufyan seorang pemerhati sejarah yang juga Dosen STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh bersama Prof Azrin dari Fakulti Teknik Universiti Kebangsaan Malaysia, pada tanggal 22 April 2011 Masjid Raya Ganting di Padang ditetapkan masuk sebagai salah satu masjid terindah di Tanah Air dan akan dipublikasikan dalam bentuk buku berjudul 100 Masjid terindah di Indonesia.

Masjid Raya Gantiang didirikan pada tahun 1810 oleh tiga ulama dan saudagar di Padang yaitu Gapuak, Syekh Haji Uma, Syekh Kepala Kota, dan pemerintah Belanda, serta saudagar Cina. Masjid yang berukuran 30×30 meter ini memang unik arsitekturnya karena memadukan desain Timur Tengah, Cina, dan corak Eropa. Masjid ini memiliki empat atap susun tingkat tiga dan empat serta delapan pintu dan delapan jendela.

Keunikan lain dari masjid ini adalah tiang-tiang yang berjejer dalam lima baris. Diameter tiang sekitar 80 centimeter tinggi 4,2 meter dengan cat warna putih. Tanpa hiasan, kecuali nama-nama nabi dalam tulisan Arab dan sedikit cat warna kuning keemasan di bagian teratas dan terbawahnya. Tiang-tiang itu dahulu terbuat dari batu bata. Tiang-tiang tersebut menjadi penopang atap bagian atap yang berbentuk segi delapan.

Pada bagian atap kubah dengan bentuk itu dikerjakan oleh tukang-tukang asal Cina di bawah perintah Kapten Lou Chian Ko. Pengaruh arsitek Cina terlihat dari bentuk atap kubah bertingkat segi delapan yang menyerupai bentuk atap wihara. Disebutkan pula, Masjid Ganting menjadi tempat persinggahan Soekarno, ketika menunaikan salat pada masa pendudukan Jepang. Memasuki masa Bulan Ramadan, masjid ini ramai disesaki oleh jamaah yang berasal dari berbagai daerah di Kota Padang.(bersambung)

Rekomendasi Berita