oleh

Oknum Sekcam Diduga Nyambi Jadi Wartawan

Dilaporkan ke Inspektorat

LINGGAU POS ONLINE, TUGUMULYO – Oknum Sekretaris Camat (Sekcam) Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Badrun dilaporkan warga ke Inspektorat Kabupaten Musi Rawas, dengan dugaan nyambi menjadi wartawan.

Kuat dugaan, berdasarkan pengaduan warga itu kerja sambilan ini sudah lama dilakoni Badrun, dan sekarang baru terungkap setelah pihak Inspektorat membuka kran pengaduan dari warga pasca penerapan Peraturan Bupati (Perbup) Musi Rawas No. 53 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengelolaan Penanganan dan Pengaduan Masyarakat. Di mana warga bisa mengadukan masalah yang terjadi di desa maupun pemerintahan, atau Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menyimpang dari pekerjaan ke Inspektorat.

Sumber koran ini membenarkan, jika salah satu pengaduan dilaporkan masyarakat itu oknum Sekcam Tugumulyo yang nyambi menjadi wartawan.

“Laporan sudah diterima pihak Inspektorat, dan akan ditindaklanjuti. Dari pengaduan warga itu tak hanya Sekcam saja diduga nyambi jadi wartawan, tapi para Kepala Desa (Kades) di Musi Rawas, banyak yang nyambi jadi wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dan ini mesti diberikan tindakan dari pihak Inspektorat karena diduga menyalahi aturan,” ungkap sumber koran ini, Selasa (14/11).

Ia menyebutkan pengaduan ini kabarnya, direspon pihak Inspektorat. Dan kemungkinan besar akan dibahas lalu dikaji untuk diberikan tindakan kepada oknum Sekcam dan kades tersebut.

Secara terpisah, Sekcam Tugumulyo, Badrun membantah tudingan terhadapnya itu.

“Informasi itu tidak benar. Saya tidak pernah nyambi ataupun bertugas sebagai wartawan baik di media cetak ataupun online,” kata Badrun, kemarin.

Selain itu, kata dia, kalau memang saya menyambi menjadi wartawan pastinya saya sudah keliling mencari berita.

“Buktinya saat ini saya masih duduk di Kantor Kecamatan Tugumulyo bertugas sebagai Sekcam, selain itu saat ini juga masih memakai baju dinas,” jelas bapak yang pernah jadi Lurah B Srikaton ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebenarnya adanya dugaan ataupun tuduhan dari oknum LSM bahwa ia menyambi sebagai wartawan itu sudah lama.

“Iya itu sudah lama. Hanya saja saya tidak menggubriskannya karena itu tidak benar. Jadi saya diamkan saja, biarlah orang mau bilang apa, walaupun saya tidak,” ucap Badrun.

Disinggung kalau memang tuduhan itu salah, dan mencemarkan nama baik adakah upaya melaporkan oknum kepada pihak yang berwajib?

“Ia biarlah mas, diamkan saja. Biarlah Tuhan yang membalasnya,” singkatnya.

Sementara itu, Inspektur Kabupaten Musi Rawas, Alexander saat dikonfirmasi mengenai adanya dugaan Sekcam Tugumulyo diduga menyambi menjadi wartawan dirinya membenarkan adanya laporan tersebut yang masuk ke Inspektorat.

“Memang ada laporan dugaan itu yang masuk ke kita (Inspektorat,red) sekitar setengah bulan lalu. Dilakukan oleh salah satu LSM di Kabupaten Musi Rawas (Mura). Namun saat ini laporan tersebut, masih kami lakukan penyelidikan dan kebenarannya,” kata Alexander.

Alexander meminta warga untuk lebih bersabar.

“Karena kami ingin mengetahui kebenarannya terlebih dahulu, di samping itu anggota kami juga terbatas,” jelasnya.

Nanti apabila memang terbukti kebenarannya melakukan hal itu, sudah jelas melakukan pelanggaran disiplin.

“Sesuai dengan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil,” imbuhnya.

Sementara Ketua Serikat Perusahaan Pers Sumatera Selatan, Solihin, membenarkan saat ini sangat mudah bagi seseorang menjadi wartawan.

“Namun, seiring waktu publik akan memahami mana wartawan yang profesional dan mana yang tidak. Kepercayaan publik pun akan mengarah pada jurnalis yang profesional. Wartawan yang betul-betul menekani profesi jurnalis, akan selalu menjaga etika dan patuh pada kode etik jurnalistik. Karena wartawan itu, adalah orang yang dianggap ‘serba’. Artinya dia menjalankan tugas profesinya. Dan yang perlu ditegaskan profesi jurnalistik itu profesi profesional,” jelasnya.

Sekalipun jumlahnya ‘menjamur’, Solihin memastikan munculnya wartawan-wartawan yang makin banyak itu tidak perlu dikhawatirkan.

“Saya yakin, kalau wartawan sungguhan, tidak akan melakukan hal yang menyalahi kode etik. Mereka cenderung mengutamakan unsur praduga tak bersalah, tidak melakukan pemerasan, dan beretika. Baik saat wawancara, saat menulis, maupun dalam hal berpakaian. Karena wartawan butuh informasi dari masyarakat. Sehingga cara kerjanya pun harus profesional,” imbuhnya.

Solihin menyarankan, bagi warga yang bimbang dengan keberadaan wartawan, ketika bertemu tidak ada salahnya menanyakan ID Card, dan kartu keanggotaannya di organisasi kewartawanan baik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) maupun Asosiasi Jurnalis Indonesia (AJI).

“Bila perlu masyarakat bisa minta mana korannya, sebagai tempat mereka menulis. Karena banyak dan mudah jadi wartawan. Tapi mereka belum paham dengan masalah tugas jurnalistik. Misal, iya dia pegang kartu ID Card tapi belum bisa menulis karya jurnalistik sesuai UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers,” papar Solihin.

Disamping itu, kalau masyarakat merasa dirugikan dari informasi yang disampaikan oknum wartawan atau jadi korban pemerasan bisa mengadu dan melaporkan yang bersangkutan. (16/01/05)

Komentar

Rekomendasi Berita