oleh

Oknum Polisi Jadi Tersangka

LINGGAU POS ONLINE, DEMPO – 20 orang diamankan petugas dalam eksekusi lahan Perum Damri, Rabu (20/12). Mereka yang diamankan, karena melawan petugas dari Jajaran Polres Lubuklinggau, Brimob, Subdenpom/TNI, Sat Pol PP, dan Petugas Damkar.

Dari puluhan orang itu, tiga diantaranya ditetapkan menjadi tersangka oleh Satreskrim Polres Lubuklinggau. Salah satunya Aipda Sarbeni (44), yang merupakan oknum anggota kepolisian. Namun, proses hukum Aipda Sarbeni telah diserahkan ke Mapolda Sumatera Selatan (Sumsel), sekitar pukul 09.00 WIB, Kamis (21/12).

Selain Aipda Sarbeni, status tersangka juga diberikan untuk warga inisial AL alias YC (50) serta SJ (43) ditahan di Mapolres Lubuklinggau.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar melalui Kasat Reskrim, AKP Ali Rojikin didampingi Kabag Ops, Kompol Yudha mengatakan proses hukum tersangka AL alias YC serta SJ ditahan dan proses di Mapolres Lubuklinggau.

AKP Ali Rojikin menjelaskan, menetapkan ketiga tersangka lantaran peran mereka sebagai dalang mengumpulkan massa serta diduga menyiapkan peralatan untuk melawan aparat.

“Maka dari itu ditetapkan sebagai tersangka. Padahal diketahui aparat pegawai negeri menjalankan tugas eksekusi secara sah berdasarkan aturan dan UU,” jelas Ali Rojikin.

Lebih lanjut, Ali Rojikin menjelaskan, untuk 17 orang yang diamankan dibebaskan setelah dimintai keterangan sebagai saksi.

“Sebab tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka yang menjadi dalangnya,” tegas pria berpangkat balok tiga ini.

AKP Ali menambahkan, di lokasi eksekusi kemarin didapatkan barang-barang berbahaya digunakan massa melawan aparat saat eksekusi.

Adapun barang bukti itu yakni, satu tombak berujung garpu, 18 mercon, tujuh golok, tiga celurit, empat pisau, satu senjata api jenis softgan, satu Senpira jenis pistol, 21 peluru kecil, 1 peluru besar, dan dua senapan angin.

Kemudian, dua kantong air keras di dalam dua jerigen, tiga unit handphone (Hp) merek Azus, Nokia dan Mito, 62 bom molotov, 14 tabung elpiji 3 Kg yang masih berisi, 200 bambu runcing, 1 spanduk, 1 cap dan stempel berlambang XXX bukti anggota massa, 3 kembang api dan 1 tas selempang.

“Semua barang bukti disita di Mapolres Lubuklinggau guna perlengkapan penyidikan ketiga tersangka,” tutup Ali Rojikin.

Sementara itu di lokasi eksekusi, semua bangunan hancur rata dengan tanah. Namun tetap perhatian warga yang melintas, ada juga warga yang masih mencari barang bekas sisa reruntuhan.

Kemarin juga, suasana kampus STKIP-PGRI Lubuklinggau, SMK PGRI, SMAN 2 Lubuklinggau, SDN 46 Lubuklinggau sudah mulai normal seperti sediakala. Pelajar dan mahasiswa mulai sekolah dan kuliah.

Hanya saja lokasi tepat dipasang ban yang terbakar masih ada bekas sisa-sisa ban yang terbakar serta jalan nampak hitam akibat debu ban sehingga saat warga melintas debu beterbangan, namun tampak dua warga sedang membersihkan bekas ban terbakar dan menyiram dengan air.

Apri (27) salah seorang keluarga pemilik Cafe Bengkel Perut mengatakan bahwa dirinya bersama dengan pegawai Bengkel Perut beres-beres mengambil barang-barang baik kayu, maupun atap-atap.

“Kami sengaja, beres-beres barang yang masih dipakai di Bengkel Perut bersama dengan karyawan,” kata Apri.

Apri menjelaskan, memang rencananya akan ada membuka Bengkel Perut di lokasi lain, tapi belum tahu di mana lokasinya. Padahal Bengkel Perut ini baru tiga bulan, tapi malah harus dibongkar dan pindah.

“Pastinya kasihan juga melihat nasib karyawan kami, belum lagi modal belum balek, ” jelasnya.

*** Sisa Kontrakan Masih Setahun

Hal serupa diungkapkan putra Owner Pentol Yoben, Eko (28). Ia menerangkan, usaha yang dirintis sang ayah tahun 2015 itu harus pupus oleh eksekusi Lahan Perum Damri, 20 Desember 2017 kemarin.

“Kemarin, waktu lihat ruko yang jadi tempat saya dan keluarga tinggal, juga tempat usaha bapak saya dirobohkan begitu sedih juga. Bapak saya juga belum tahu mau nyewa ke mana lagi. Sebenarnya kami pilih sewa di sini, karena konsumennya banyak. Ada mahasiswa STKIP-PGRI juga pelajar SMAN 2 dan SMA PGRI 1 Lubuklinggau,” jelas Eko, kemarin.

Sejak menempati salah satu dari ruko empat pintu di lahan Perum Damri itu, ia sewa Rp 20 juta per dua tahun.

“Sewanya dengan Bu Tati. Informasinya dia ini ahli warisnya Pak Roeslan, tuan tanah yang dulu,” terang Eko.

Meski begitu, Eko juga belum tahu apakah akan menuntut ganti rugi atau tidak dengan Bu Tati.

“Soalnya saya sudah bayar Rp 20 juta. Sewanya masih satu tahun lagi. Tapi kami bingung. Harapannya diganti uang tunainya. Karena yang terpakai baru setahun,” ungkap Eko.

Saat ini, ia sedang berusaha untuk bisa menemui Bu Tati, agar bisa membicarakan soal uang sewa ruko satu lantai yang dikontraknya.

9 Agustus 2017 lalu, Eko dan keluarganya sempat angkut-angkut barang jelang informasi eksekusi pertama. Namun, kala itu eksekusi urung dilakukan. Dan tak dinyana, 20 Desember 2017, Eko benar-benar menyaksikan lahan tempat ruko tempat tinggal sekaligus usaha orang tuanya itu telah rata dengan tanah. (16/05)

Komentar

Rekomendasi Berita