oleh

Oknum Polisi Diduga Bertindak Asusila

LINGGAU POS ONLINE, KAYU ARA – Ibu rumah tangga berinisial AK (25) diduga jadi korban tindak asusila yang dilakukan oknum anggota Polisi, AF. Perbuatan tidak menyenangkan itu dialami warga Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat I ini ketika berniat untuk berobat dengan AF. Sebab selain sebagai polisi, AF juga mengaku bisa mengobati ragam penyakit.

Kepada Linggau Pos, AK menceritakan kejadian yang dialaminya cukup membuatnya terpukul.

AK kenal AF ini dari suaminya sendiri, berinisial JH. AF juga dikenal dekat dengan nenek AK. Sehingga AK menganggap AF seperti keluarga sendiri.

“Suami saya yang pernah menceritakan tentang AF. Dari situlah keluarga banyak yang bilang, kalau berobat dengan AF bagus dan bisa menyembuhkan penyakit. Sehingga saya yang sakit tifus dengan suami menemui ia dan ingin berobat,” ucapnya

AK menceritakan, hari pertama yaitu Kamis (30/11) ia dengan suaminya datang ke rumah AF di Jalan Depati Said, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Lubuklinggau Barat II untuk berobat.

“Hari pertama itu, tidak ada hal yang mencurigakan. Kami disambut oleh istrinya dengan memberikan air teh hangat. Saat berobat hari pertama saya disuruh membawa ayam kampung kemudian disembelih oleh AF untuk melihat penyakit yang saya derita ,”tuturnya

Dari konsultasi pertama itu, AF mengatakan kepada AK dan suaminya bahwa AK menderita penyakit di bagian perut di dalam badan semacam gejala tifus. AF menyarankan AK untuk beli obat di apotek dan meminumnya. AF juga menyarankan AK mencari cacing gelang untuk diminum.

Namun ternyata setelah minum obat dan minum cacing itu, AK belum juga sembuh

Selanjutnya, Minggu (2/12) AK bersama suaminya datang lagi ke rumah AF untuk berobat.

“Hari kedua itu, AF mengatakan bahwa penyakit yang saya derita tidak ada perubahan. Kemudian AF ngomong bahwa saya mempunyai tanda-tanda seperti tahi lalat terletak di bagian dada dan kelamin saya. Kalau tanda itu tidak diobati maka rumah tangga kami akan hancur,” jelasnya

Mendengar pernyataan AF ini, AK dan suaminya, JH panik dan takut. Maka keduanya sepakat mau berobat lagi dengan oknum polisi inisial AF ini.

Kali ketiga berobat, Selasa (5/12) pukul 14.00 WIB, AK dengan suaminya datang lagi. Tetapi AF tidak mengizinkan seorang pun melihat proses pengobatannya. Maka AK menyuruh suaminya pulang ke rumah.

“Proses pengobatan ketiga ini, saya dilarang mengajak orang, dan saya diminta bawa bawang dengan silet, jadi saya menurut saja,” ujarnya.

Saat AK datang untuk menemui AF, ternyata AF tidak masuk ke dalam rumahnya. Malah ke bedeng sebelah rumahnya. Bedeng itu milik tetangganya. Diduga bedeng tersebut memang sudah disewa oleh pelaku.

Proses pengobatannya AF meminta AK melepas semua pakaiannya guna untuk mengobat penyakit yang di derita. Dari situlah AF melancarkan aksi tak senonohnya.

“Saat itu saya tidak bisa apa-apa lagi, kemudian si AF itu mengancam saya. Kalau teriak AF akan membunuh saya,” ucapnya.

Kemudian AK merasa tidak senang atas perbuatan AF itu, pada Selasa (5/12) pukul 21.00 WIB AK melapor kepada Polsek Lubuklinggau Barat. Rabu laporan tersebut diserahkan oleh Polsek Lubuklinggau Barat ke Polres Lubuklinggau.

Dan kemarin (7/12) pada pukul 09.00 WIB, AK datang ke Polres Lubuklinggau untuk menindaklanjuti laporannya. AK ditemani suaminya sendiri.

AK mengikuti proses visum di RS Sobirin. Lalu kembali ke Polres Lubuklinggau lagi ditemani suaminya mulai pukul 09.00-15.00 WIB.

AK masih kesal dengan tindakan yang diduga dilakukan AF ini. Ibu dari Pl (2) yang juga buruh sadap karet itu berharap proses hukum berjalan. Saat dibincangi Linggau Pos, AK masih tampak trauma. Ia mengenakan kaos dan celana pendek.

Mendengar kasus ini, Kriminolog Regional, DR Sri Sulastri mengaku prihatin mendengar terjadinya kasus oknum aparat kepolisian, yang diduga bertindak asusila terhadap istri orang, Kamis (7/12).

Ia menegaskan, perbuatan yang kurang senonoh membuat oknum aparat kepolisian dapat dipecat berdasarkan kode etik dan pasal KUHP mengenai perzinaan terhadap istri orang.

“Jadi semua tidak main-main dengan hukum apalagi mereka penegak hukum, seharusnya lebih mengetahui, namun itu semua bisa saja terjadi karena ketidakpuasan masing-masing,” ungkapnya.

Untuk menindak lanjut dari semua itu, saran DR Sri Sulastri suami korban dapat melaporkan ke absolut. Kalau pihak korban tidak melapor, oknum tidak dapat dihukum.

“Jadi kalau memang pihak suami melaporkan, maka oknum polisi ini dapat dihukum sesuai pasal dan kode etik, di mana mereka dapat diproses,” pesannya.

Meski begitu, DR Sri tidak mau gegabah. Bisa jadi kedua belah pihak saling menyukai berdasarkan nafsu juga bisa terjadi karena kurang perhatian baik suami ataupun istri. (CW01/19)

Komentar

Rekomendasi Berita