oleh

Oknum Pelajar Kecanduan Lem Aibon

LINGGAU POS ONLINE, PONOROGO – Di belakang gedung salah satu SMP Negeri di Kota Lubuklinggau diduga jadi pusat oknum pelajar dan remaja menghisap lem Aibon dan mabuk Komix. Lebih miris, diduga lokasi ini jadi tempat berhubungan seks.

Seorang warga, Rudi (30) yang tinggal di dekat lokasi membenarkan hal itu. Terbukti, saat Linggau Pos ke lokasi, banyak bekas lem dan bungkus Komix.

“Sekitar dua bulan lalu, saya melihat di belakang sebelah kanan sekolah itu memang ada. Saya pernah membuang bungkus Komix dan lem tersebut. Tetapi yang banyak berhamburan itu bungkus plastik yang berisi lem Aibon, dan ada juga bekas kondom,” kata Rudi, Senin (9/4).

Lebih lanjut Rudi menjelaskan, sekitar 15 remaja dan ada juga oknum pelajar berkumpul di belakang sekolah sekitar pukul 14.00-21.00 WIB.

“Saya kurang tahu, para siswa itu membeli barang-barang tersebut dari mana,” jelas Rudi.

Rudi mengaku, ia bersama warga setempat sudah pernah menghadap Kepala SMP tersebut. Tetapi, pihak sekolah bilang mereka sudah memberikan teguran dan mengusahakan pembinaan untuk anak-anak yang terlibat ini.

Hal senada disampaikan Hardi (35). Ia mengaku juga sering melihat para remaja tersebut berkumpul di samping sekolah itu. Bahkan, malam-malam ia sering mendengarkan jeritan seorang perempuan dari dalam hutan itu.

“Entah apa yang dilakukan oleh remaja tersebut, kami sering menegur dan memarahinya. Tetapi itu sia-sia, malah kami yang jadi sasaran mereka,” ujar Hardi.

Hardi berharap, kepada pihak terkait untuk menindak tegas remaja-remaja ini. Kejadian ini, kata Hardi, sudah terjadi selama enam bulan. Ia khawatir akan berpengaruh pada lingkungan sekitar.

Dalam investigasi yang dilakukan Linggau Pos, Senin (9/4) pukul 11.00 WIB, lokasi puluhan kaleng lem Aibon bergelimpangan. Jarak lokasi dengan sekolah sekitar 100 meter. Tepat dekat dengan perkebunan karet. Ditemukan pula beberapa bungkus bekas Komix, kotak lem Aibon, dan bekas kondom berserakan di tanah lapang.

Kepala SMP, NS saat dibincangi Linggau Pos menjelaskan, ia sudah mengetahui kejadian tersebut.

“Para remaja yang berkumpul di sana memang sebagian dari siswa kita, kami sudah berkali-kali memarahi dan menegurnya. Tetapi apalah daya kami guru hanya 30 orang dan mendidik anak 600-an lebih,” ungkap NS.

Lebih lanjut, NS menjelaskan, terkadang pihaknya menegur dan memarahi para siswa. Namun, justru wali murid yang mendatangi ke sekolah dan memarahinya, karena ia tidak senang anaknya diingatkan guru.

“Jadi kami serba salah, di sini anak-anaknya susah dididik. Jadi kedepannya, akan kita mencoba terus sampai anak-anak ini sadar, kalau apa yang ia perbuat itu tidak benar,” ujar NS.

NS menegaskan, untuk para siswa yang kedapatan mengelem itu prosesnya akan diberikan teguran dahulu, kemudian di panggil wali murid, kalau saja tidak berubah akan dikeluarkan di sekolah tersebut.

“Kemarin, BNN Kota Lubuklinggau sudah mengecek kondisi itu, dan saya berharap bisa bekerja sama atas mengatasi kejadian ini. Baik warga atau pun pemerintah setempat, karena posisi tempat remaja berkumpul tersebut di luar lingkungan sekolah,” harapnya.

***Lem Aibon Sama Bahaya dengan Narkoba

Kepala BNN Kota Lubuklinggau, AKBP Edy Nugroho saat dimintai tanggapan menegaskan kalau bahaya ‘ngelem’ Aibon sama bahayanya dengan narkoba. Yakni, bisa merusak sel otak.

Ia pun mengakui, pihaknya sudah mendapat laporan mengenai maraknya pelajar melakukan penyalahgunaan Komix dan ngelem Aibon. Bahkan kemarin, pihaknya sudah mendatangi sekolah tersebut.

Penyalahgunaan dimaksud, seperti lem Aibon yang disalahgunakan untuk dihirup, atau Komix yang ketika dikonsumsi satu sachet menjadi obat batuk, disalahgunakan untuk ngefly dengan mengonsumsi hingga 15 sachet.

“Untuk efek jangka pendek yang dirasakan saat menghirup seperti denyut jantung meningkat, mual muntah, halusinasi, mati rasa atau hilang kesadaran, susah bicara atau cadel serta kehilangan koordinasi gerak tubuh. Jika dilakukan terus menerus, bisa memberikan efek jangka panjang. Di antaranya kerusakan otak (bervariasi, mulai dari cepat pikun, parkinson dan kesulitan mempelajari sesuatu), otot melemah, depresi, sakit kepala dan mimisan, serta kerusakan saraf yang memicu hilangnya kemampuan mencium bau dan mendengar suara,” jelasnya.

Selain itu, ia melanjutkan, bahaya lainnya anak-anak ini berpotensi untuk beralih menggunakan Narkoba. Saat ini mereka memilih ngelem dan Komix karena lebih mudah didapatkan dan murah. Nanti ketika sudah besar, mereka mempunyai rasa malu dan beralih ke Narkoba.

“Dan ini merupakan pola hidup yang tidak sehat. Untuk itu kami mengimbau kepada anak-anak pelajar untuk hindari penyalahgunaan Komix dan lem Aibon, termasuk merokok yang cerminannya pasti penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Kita imbau kalau ini bukan pola hidup sehat, serta kegiatan yang tidak ada manfaatnya,” imbaunya.

Dari sisi hukum BNN memang belum bisa melakukan penindakan, lantaran Komix dan lem Aibon tidak dilarang untuk beredar.

“Kepada guru di sekolah, terutama guru BP lihat dan kontrol tingkah laku siswa. Kita imbau untuk senantiasa mengecek tingkah laku siswanya, ketika ada yang berubah segera dicek. Bila perlu, di sekolah lakukan razia secara rutin. Karena kita juga khawatir prilaku anak-anak ini mempengaruhi teman-temannya di sekolah,” tegasnya. (04/13)

Rekomendasi Berita