oleh

Oknum Membangun Bendungan Liar

Petani Kesulitan Air

LINGGAU POS ONLINE, TUGUMULYO – Pasokan air dari Kelurahan B Srikaton tepatnya depan Kantor Camat Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas tak maksimal. Dampaknya membuat sebagian petani cenderung melakukan penanaman Palawija, atau tanaman kedua setelah padi sebagai usaha untuk menyambung hidup mereka.

Salah seorang petani Desa M Sitiharjo, Warsito (45) mengaku puluhan tahun dirinya harus memompa air. Agar sawahnya tak kering meski pada musim penghujan.

“Terpaksa kami menyedot air karena aliran irigasi di sini sudah tak ada air,” ungkap Warsito kepada Linggau Pos, Kamis (5/4).

Penyebabnya, sambung dia, sebagian besar air digunakan untuk kolam air deras. Satu kali masa panen, Warsito harus memompa sekitar lima kali dengan memompa menghabiskan 3 liter bensin.

“Lahan saya yang ditanami padi seluas seperempat hektar. Sisanya ditanami ubi, karena kalau padi semua tidak sanggup biayanya,” keluh Warsito.

Sementara itu, Kepala UPT Distanak Tugumulyo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Suyono mengatakan, dengan tidak adanya air untuk usaha tani penanaman padi, membuat sebagian petani melakukan penanaman Palawija atau tanaman kedua setelah padi, dan tanaman lainnya.

“Untuk usaha sebagai penyambung hidup mendapatkan penghasilan. Karena, jika dipaksakan tanam padi, kondisi air tak sampai ke lahan secara rutin,” ujar Suyono.

Lanjut Suyono, masalah yang selama ini terjadi dan tidak dapat diatasi oleh petani, mengenai kekurangan air, yakni debit air yang secara terus menerus dari saluran primer tak setabil, dan cenderung sangat kecil.

“Kalau dipaksakan debit air dimasukkan lebih besar, maka akan meluap. Selain itu, secara otomatis mengambil air dari saluran tersier,” jelas Suyono.

Suyono pun menambahkan, dengan banyaknya bendungan liar di sepanjang saluran irigasi, membuat para petani kesulitan mendapatkan air. Bahkan saluran irigasi tersier, yang sudah dibangun seolah tak berfungsi, lantaran tidak adanya pasokan air.

“Sangat terkendala sekali, untuk mendapatkan air, apalagi sekarang sudah tanam dengan memanfaatkan air hujan. Tanaman mengalami kekurangan air, sampai kondisi tanah retak-retak, hal ini amat sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman,” terang Suyono.

Untuk mengatasi masalah kekurangan air, Pemerintah Kabupaten Musi Rawas (Mura), khususnya Dinas PU Pengairan. Segera melakukan normalisasi, dengan cara pengerukan sedimen lumpur.

“Akan bertindak tegas membongkar bendungan liar, untuk kolam melakukan perbaikan saluran tersier, dan memaksimalkan agar seluruh tersier di C Nawangsari, B Srikaton dan Tugumulyo teraliri air. Yang tak kalah pentingnya, menekankan kembali tugas-tugas pokok penjaga pintu air,” tegas Suyono. (04)

Rekomendasi Berita