oleh

Oknum Kades Sembatu Jaya Diduga Jual Tanah

Diprotes Warga

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Masyarakat Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Musi Rawas mengeluhkan kepada Kepala Desa (Kades) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) karena dianggap menjual tanah masyarakat yang berinisial R tanpa untuk pembangunan jalan desa.

Hal ini disampaikan langsung oleh warga setempat yang ingin namanya diinisialkan LD. Menurut LD tanah milik R tersebut dijual ke perusahaan sebagai pihak pemborong.

“Jadi ceritanya begini, Kades dan BPD bekerja sama untuk menjual tanah R untuk pembangunan jalan di Desa Sembatu Jaya. Dijualnya ini kepada pihak perusahaan sebagai pemborong jalan. Harga tanah tersebut Rp 35 ribu per mobil. Dalam satu hari paling sedikit 100 mobil per hari. Kegiatan perusakan tanah ini sudah dua minggu berjalan,” kata LD kepada Linggau Pos, Rabu (29/11).

Maka dari itu, lanjut LD masyarakat menilai bahwa Kades dan BPD sebagai perwakilan masyarakat tidak melakukan musyawarah dulu sebelum melakukan kegiatan.

“Menyalahi aturan dan menyalahgunakan wewenang tentunya, karena Kades dan BPD tidak mengadakan rapat desa untuk musyawarah. Jadi kita bertanya-tanya, untuk apa uang dari hasil penjualan tanah tersebut,” tegasnya.

Ditempat berbeda Kades Sembatu Jaya, Syamsul Bahri mengatakan bahwa saat ini sudah 1.078 mobil tanah yang sudah dijual, per mobilnya ada empat kubik.

“Tanah ini punya saya sendiri bukan punya orang lain, di mana kebutuhannya bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan umum. Saya ingin membangun masjid dari uang yang ada ini. Kemudian, tanah yang dijual ke pemborong itu juga, untuk membangun jalan. Sehingga kalau banjir, tidak mengganggu masyarakat beraktivitas lagi,” paparnya.

Karena, lanjut Syamsul, memang uang dari hasil menjual tanah kerukan tersebut belum cukup untuk membangun masjid, namun kalau sudah ada pembangunan. Maka tentu saja nantinya bisa dilanjutkan dan diselesaikan.

“Sedangkan untuk tanah yang dianggap R itu jumlahnya 322 mobil sudah terjual. Itu tanah desa. Dalam melakukan kegiatan ini saya sudah minta persetujuan dari ketua BPD,” tuturnya.

Syamsul sangat menyayangkan dan merasa kecewa dengan warga yang sudah protes ini, karena seharusnya warga tersebut mempermasalahkan tanah desa yang diakui oleh warga seluas dua hektar.

“Seharusnya orang ini lebih mempermasalahkan tanah desa yang diakui warga seluas dua hektar. Bukan mempermasalahkan, apa yang saya lakukan untuk membangun desa,” tegasnya.

Bahkan, anggapan LD tanah yang dijual tersebut harganya Rp 35 ribu langsung dibantah oleh Syamsul. Karena, menurut Syamsul tanah tersebut dijual dengan harga Rp 30 ribu, di mana Rp 1.000 untuk petugas yang menghitung jumlah tanah yang dibawa oleh mobil.

“Jadi uang yang masuk untuk kepentingan desa tersebut bersihnya Rp 29 ribu per mobil,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Musi Rawas, H Mefta Joni melalui Kepala Bidang Pemerintah Desa, Rian Pratama menyarankan agar Kades dan BPD melakukan musyawarah.

“Tolong dimusyawarahkan lagi saja, Kades dan BPD undang masyarakat. Dijelaskan apa kegunaan dijualnya jalan tersebut peruntukannya untuk apa. Biar masyarakat mengerti dan mendukung,” tutupnya. (12)

Komentar

Rekomendasi Berita