oleh

Nyerau, Tradisi Warga Empat Lawang Menjemur Kopi di Jalan Umum

LINGGAUPOS.CO.ID –Kabupaten Empat Lawang yang kaya akan ragam kebudayaan dan tradisi masyarakatnya yang unik, maka tak heran kebiasaan menjemur biji buah Kopi hasil panen di Jalan Raya, sudah menjadi tradisi masyarakat di Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati.

Saat melintasi kawasan, mulai dari Desa Canggu sampai ke Desa Pasar Talang Padang kecamatan Talang Padang, Jalan Lintas Sumatera – Bengkulu. Tak heran kalau sering menjumpai hamparan buah biji kopi di tengah jalan.

Hal tersebut, dengan sengaja rutin dilakukan oleh masyarakat, untuk menghampar jemuran buah biji kopi hasil panen dari kebun, agar cepat kering dan cepat dijual.

“Kami biasa melakukan nyerau (menjemur) Biji Buah Kopi ini dijalan, supaya cepat kering. Apalagi sekarang lagi musim panen buah kopi,” Kata Ensi (40) Warga Desa Pasar Talang Padang, yang sedang menghamparkan jemuran kopinya di tengah jalan. Saat dibicangi, Minggu (28/2/2022).

Ensi yang memiliki empat orang anak tersebut, menuturkan bahwa menjemur buah biji Kopi ditengah jalan, seperti dilakukannya tersebut, proses pengeringan buah kopi menjadi biji kopi, tidak memakan waktu yang lama, untuk membuat biji kopi menjadi kering.

“Kalau menjemur kopi dijalan cepat keringnya, kalau cuacanya panas, cukup dua hari saja menjemurnya, buah biji kopi sudah kering menjadi biji kering dan bisa dijual agar cepat menadapat uang,” tutur Ensi

Kendati demikian, kebiasaan unik masyarakat menjemur buah biji Kopi ditengah jalan raya, agar proses pengeringannya instan. Cukup membahayakan pengguna jalan saat pengendara melintasi kawasan tersebut.

Terpisah pemilik Kedai Coffe NTWO, Yulius Sugiantara, menurutnya, proses penjemuran yang dilakukan masyarakat Empat Lawang umumnya, dihampar ditengah jalan adalah kebiasaan yang sudah menjadi tradisi masyarakat agar cepat untuk dijual dan tidak bersusah payah lagi untuk mengiling kopi di penggilingan, untuk membuang kulit buah dari biji kopi menjadi biji beras kopi karena sudah dilindas ban kendaraan yang melintas.

“Masyarakat kita sering kali menjemur ditengah jalan, karena menurut mereka proses tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup memakan waktu 3-4 hari saja untuk dijemur, dan langsung bisa dijual,”. Kata Yulius yang juga merupakan Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Empat Lawang (Bappeda).

Dijelaskan Yulius, bahwa kebiasaan masyarakat tersebut, membuat kwalitas biji kopi menjadi buruk dan harga jatuh, padahal kwalitas kopi Empat Lawang tergolong bagus dan memiliki cita rasa khas tersendiri.

“Padahal Kopi yang ada di Daerah Empat Lawang tergolong bagus. Namun proses panen asal-asalan dan dan penjemurannya yang masih sangat tradisional, sehingga membuat kwalitas biji kopi buruk. Serta kadar airnya yang masih tinggi,” jelasnya

Tambahnya, didalam Biji Kopi memiliki kandungan caramel, nah kandungan tersebut masih terjaga kalau memanen biji kopi merah, dan proses pengeringannya, sampai kadar air menjadi 12 persen, serta proses sangrai kopi yang benar.

“Kopi bagus itu petik merah, proses penjemurannya cukup lama, sampai betul-betul kering dengan kadar air 12 persen, dan proses sangrai yang tidak gosong, kalau proses ini dilewati, maka harga jual biji kopi yang belum disangrai bisa mencapai Rp. 40 ribu perkilonya, beda yang dijual masyarakat kita umumnya, hanya seharga Rp. 16ribu sampai Rp. 20ribu perkilonya, karena kualitaslah yang membuat harga jatuh,” jelasnya.(*)

Rekomendasi Berita