oleh

Nitya Krishinda Tak Terpikir Bisa Jadi Pelatih

JAKARTA – Setelah tidak lagi menjadi pemain bulu tangkis, Nitya Krishinda Maheswari punya kegiatan baru di tempat pelatihan nasional (pelatnas) Cipayung, Jakarta Timur.

Ya, Nitya yang merupakan wanita kelahiran Blitar, Jawa Timur , 16 Desember 1988 itu kini menjalani peran barunya di pelatnas Cipayung.

Nitya yang terdegradasi dari pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), kini mencoba peruntungan karirnya dalam dunia kepelatihan. Ia kini menjadi asisten pelatih ganda putri di Pelatnas Cipayung.

Kini Nitya diplot untuk mendampingi Pelatih Kepala Ganda Putri PBSI, Eng Hian, dan Asisten Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI, Chafidz Yusuf setelah dirinya mendeerita cedera yang cukup panjang.

Meski demikian, peraih medali Asian Games Incheon 2014 bersama Greysia Polii yang kini sudah mulai terlihat membantu melatih para pemain pelapis di tim utama ganda putri mengaku bahwa dirinya tidak pernah berpikir untuk menjadi asisten pelatih apalagi menjabat sebagai pelatih.

Meski demikian, ia akan mengemban tugas yang kini diembannya dengan kemampuan yang ia miliki saat ini. Dan ia juga merasa bangga, lantaran hal itu membuat dirinya tidak meninggalkan bulu tangkis khususnya pelatnas PBSI.

“Dulu nggak kepikiran jadi pelatih, mikirnya saya sebagai atlet ya all out, latihan yang benar, kasih prestasi semampu saya. Kemarin ada waktu kosong setelah cedera, saya kepikiran, apa enak ya nggak ada kegiatan lagi?,” ungkap Nitya seperti dilansir situs resmi PBSI, Rabu (9/1) kemarin.

“Tapi di sisi lain saya masih nggak bisa kalau nggak di bulutangkis. Dengan adanya tawaran dari koh Didi (panggilan akrab Eng Hian, red) seperti ini, oh saya jadi bisa memberi untuk PBSI, untuk negara, dalam konteks berbeda tapi di bidang yang sama,” sambungnya.

Selain itu, Nitya juga merasa senang bisa memberikan apa yang dimilikinya untuk kepentingan kemajuan bulu tangkis di Tanah Air.

“Mungkin saya udah nggak akan main, tapi saya pikir ada hal yang bisa saya bagi, hal apapun dalam bentuk sharing, atau program latihan yang pernah saya dapat, bisa diterapkan dengan cara begini, begitu. Sebetulnya lebih ke sharing sih, bukannya menggurui,” terangnya.

Lebih lanjut, Nitya mengakui bahwa bermain dan menjadi pelatih dalam hal ini asisten pelatih sangat berebda, terutama dari sisi tanggung jawab. Menurutnya, menjadi pelatih memiliki tanggung jawab yang lebih besar ketimbang jadi pemain.

“Pasti beda, kalau pemain itu tanggungjawabnya misalnya telat bangun pagi, telat latihan. Sebagai pelatih bukan berarti tidak ada tanggungjawab, malah lebih besar tanggungjawabnya, membimbing atlet untuk jadi lebih baik itu tidak gampang. Walaupun baru merasakan, jadi tahu, oh begini toh rasanya jadi koh Didi,” jelas Nitya.

Selain itu, Nitya, mengaku bahwa dirinya harus lebih teliti menilai gerak-gerik atlet dalam setiap latihan. “Kami tidak bisa membiarkan atlet dikasih program dan dijalani begitu saja, benar-benar harus dilihat, mereka gerakannya benar nggak, ngelakuinnya pas atau enggak, jadi sekarang lebih detail,” sambungnya.

Nitya juga membeberkan terkait tantangan terbesar menjadi pelatih di ganda putri. Menurutnya, tantangan itu susah-susah gampang. Namun, hal tersulit yang menjadi tantangannya adalah menerapkan tanggung jawab dan kedisplinan terhadap atlet.

“Sebenarnya sih ganda putri tidak susah banget ya, lebih ke tanggungjawab anak-anaknya, makin ke sini cuma, oke saya latihan, diberangkatkan ke pertandingan, hasilnya menang-kalah, ya sudah. Tapi mereka agak kurang dari segi tanggungjawab ke diri sendiri. Ini sangat luas, misalnya bangun pagi, dari hal-hal kecil. Misalnya telat latihan, dari sini sudah mulai kelihatan,” jelasnya.

“Lalu soal kemauan. Semua atlet pasti punya kemauan untuk juara. Tapi bisa kelihatan, mana yang cuma mau doang, mana yang mau dan benar-benar mau menjalankan. Apalagi saya dan koh Didi yang pernah mengalami sebagai pemain, jadi kami tahu kalau atlet ini benar-benar atau sekadar menjalankan saja. Atlet kadang belum bisa memahami, latihan ini untuk ini, latihan ini manfaatnya untuk ini,” sambungnya.

Seperti diketahui, Nitya merupakan salah satu atlet bulu tangkis putri yang cukup berprestasi. Selain pernag merebut medali emas di Asian Games 2014, Incheon, Nitya juga pernah medali perunggu Kejuaraan Dunia 2015 saat berpasangan dengan Greysia Polli.

Namun sayang prestasi Nitya semakin merosot ketika dirinya diterpa Cidera pada 2016 lalu. Meski sempat, sempat turun kembali dalam turnamen internasional pada 2018 dan berpasangan dengan Ni Ketut Mahadewi Istarani, Nitya kembali mengalami cedera saat mengikuti mengikuti turnamen Thailand Terbuka 2018. Setelah itu, Nitya terdegradasi dari pelatnas PBSI.

Namun pada saat itu, pelatih kepala ganda putri nasional, Eng Hian mengajukan Nitya untuk menjadi asisten pelatih pelatnas PBSI dan membantu dirinya. Pria yang akrab disapa Koh Didi itu mengaku memiliki alasan sendiri, kenapa dirinya mengajukan Nitya.

“Saya bisa melihat sisi lain dari Nitya jika dirinya mengikuti prosedur PBSI, pastinya dia akan tergradasi karena kondisinya selepas cedera,” ungkap Koh Didi.

“Namun, saya butuh mentor untuk para atlet, oleh sebab itu, saya mengajukan ke Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI agar Nitya magang sebagai asisten pelatihm dan akhirnya disetujui,” sambung Koh Didi.

Selain itu, alasan lainnya Koh Didi menarik Nitya menjadi asisten pelatih. Menurutnya, Nitya masih mendapat respek dari para pemain terutama di level junior. Koh Didi juga yakin, Nitya mampu menjadi asisten pelatih yang baik.

“Menurut saya, atlet junior dan senior di ganda putri masih menaruh hormat kepada Nitya. Dan ia juga semestinya bisa mendampingi pemain dalam setiap pertandingan,” tukas Koh Didi. (gie/fin/wsa)

Rekomendasi Berita