oleh

Ngelong Bersama Suku Anak Dalam

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – 11-12 November 2017 lalu, pengajar muda program Indonesia Mengajar di Kabupaten Musi Rawas melaksanakan kelas jauh. Kegiatan yang diisi dengan Ngelong “Ngajo Lan Bejejelon” (mengajar sambil jalan-jalan) tersebut melibatkan Murid SD Suku Anak Dalam di kawasan SP9 Hutan Tanaman Industri, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Kepada Linggau Pos, salah satu pengajar Muda Indonesia Mengajar, M Syahrudin mengatakan kegiatan Ngelong ini merupakan persembahan untuk anak negeri dari pengajar muda Indonesia Mengajar, khususnya edisi suku anak dalam.

“Kegiatan ini bisa disebut sebagai kelas jauh yang dibuat untuk memfasilitasi anak-anak suku dalam. Yakni mereka yang masih nomaden mengikuti aliran sungai dan sumber makanan dari alam,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan, anak-anak suku dalam sekilas mereka tampak sama dengan anak-anak pada umumnya. Tapi sebenarnya ada yang berbeda. Mereka masih kesusahan merespon stimulus yang diberikan. Bukan karena tidak bisa, tapi belum terbiasa.

“Sehingga membutuhkan tenaga lebih untuk berkomunikasi dengan mereka. Selama ini, mereka pergi sekolah sesuai cuaca dan kehendak hati mereka. Jika hujan, besar kemungkinan mereka tidak berangkat sekolah dan harus dijemput satu-satu,” ceritanya.

Kegiatan Ngelong tahap pertama yang dilakukan para pengajar muda Indonesia mengajar di Suku Anak Dalam (SAD) masih bertema tentang hutan, yaitu dengan judul “Hutanku Tempat Tinggalku”.

“Tapi untuk jenis kegiatan, kami sesuaikan dengan kondisi anak-anak di sana. Fokus kami adalah menumbuhkan antusiasme dan semangat belajar bagi mereka. Sehingga kami memilih berkegiatan sambil berjelajah dan berbagi cerita di sekitar pondok dan hutan mereka,” tuturnya.

Sempat Ia bertanya ke salah satu anak, “Kalau sudah besar, mau jadi apa?” Kemudian ia menjawab dengan ringan, “Mau jadi orang.” Saya tersenyum sambil memberikan pertanyaan lanjutan, “Orang apa?” Dan tahukah apa jawabannya, ‘Orang hidup’. Begitulah jawaban polos dan sangat apa adanya.

Selama di sana, para pengajar muda Indonesia mengajar juga belajar banyak dari penduduk setempat. Tentang makna kebaikan dan berbagi meski dalam keterbatasan.

“Tentang isu perbedaan dari Suku Rawas dan Gumai. Kami juga banyak berdiskusi tentang perjuangan zaman penjajahan Jepang, Gerwani, dan pembantaian PKI dengan salah satu tetua yang lahir pada zaman itu. Ada juga cerita perkenalan yang unik. Yang semuanya mengalir begitu saja, tanpa mengada-ada,”ujarnya. (Rls/AE02)

Komentar

Rekomendasi Berita