oleh

Napi Teroris di Lapas Lubuklingau Diajukan Dapat Remisi Idul Fitri

LINGGAUPOS.CO.ID– Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebanyak 359 orang di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau diajukan ke Kemenkumham untuk mendapat remisi khusus (RK) pada Idul Fitri 1442 H.

Dari 359 WBP itu, 31 diajukan remisi berdasarkan PP Nomor 99, yakni nara pidana yang dijatuhi hukuman di atas lima tahun. Sisanya 328 WBP diajukan untuk mendapatkan remisi khusus normal, yakni bagi mereka yang dijatuhi hukuman di bawah lima tahun.

Pengajuan remisi beragam, mulai dari remisi 15 hari, remisi 1 bulan, remisi 1,5 bulan, dan remisi 2 bulan. Yang menarik adalah satu napi teroris (Napiter) juga ikut diajukan untuk mendapatkan remisi.

Kepala Lapas Kelas IIA Lubuklinggau, Imam Purwanto, melalui Kasubsi Registrasi, Aan Agustoni menyebutkan total ada dua napiter yang di titipkan di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau.

“Tapi hanya satu napi teroris yang memenuhi syarat untuk diajukan remisi. Yakni napiter atas nama Sukendar,” katanya Aan, di Lapas IIA Lubuklinggau, Rabu (28/4/2021).

Sukendar diajukan mendapat remisi Lebaran karena bersedia membuat surat pernyataan deradikalisasi dan surat pernyataan setia dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Aan mengungkapkan Sukendar merupakan narapidana titipan yang dikirim ke Lapas Kelas II A Lubuklinggau dari Lapas Gunung Sindur Bogor, setelah terlibat kasus pengeboman di wilayah Jakarta.

“Setelah mendapat vonis empat tahun penjara dikirim ke Lubuklinggau, selama disini (dalam Lapas) Sukendar orangnya baik dan mampu bergaul dengan lain,” ungkapnya.

Sementara satu narapidana teroris lainnya, atas nama Wahyu tidak diajukan mendapat remisi karena tidak mau membuat surat deradikalisasi dan membuat peryataan setia dengan NKRI.

“Itu pilihan dia (Wahyu) sudah keyakinannya, bulan 11 nanti bebas, padahal dia (Wahyu) orangnya baik, komunikasinya baik, selama ini kita sering komunikasi saat melakukan pendampingan,” ujarnya.

Menurutnya, remisi Lebaran ini diberikan kepada narapidana setelah memenuhi berbagai syarat, antara lain narapidana sudah menjalani masa hukuman minimal selama enam bulan sejak penahanan.

Kemudian tidak mempunyai catatan buruk atau pelanggaran selama berada di dalam Lapas selama menjalankan masa tahanan dan berkelakuan baik.

“Tidak melanggar aturan di dalam Lapas, dan mengikuti semua program bimbingan yang diberikan petugas dengan baik.” ujarnya.(*)

Rekomendasi Berita